Pernah nggak sih, kamu merasa jadi mahasiswa tapi seperti nggak punya dosen? Ada, tapi nggak berasa ada. Datang ke kelas, dosen cuma memberi slide, kasih tugas, terus pergi.
Interaksi minim, diskusi jarang, dan ujung-ujungnya mahasiswa jadi kayak zombie akademis yang cuma mengejar nilai. Fenomena ini sepertinya makin sering dirasakan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.
Kampus: Tempat Belajar atau Cuma Formalitas?
Perguruan tinggi seharusnya jadi tempat mahasiswa berkembang, bukan sekadar datang, duduk, dan absen. Tapi realitanya, banyak dosen yang terkesan cuek.
Entah karena kesibukan lain, beban kerja yang numpuk, atau memang kurang peduli. Akibatnya, mahasiswa merasa terabaikan dan nggak dapat bimbingan maksimal.
Dosen yang seharusnya jadi jembatan ilmu kadang malah jadi tembok tinggi yang sulit untuk digapai. Padahal, di era yang seperti sekarang ini, mahasiswa butuh lebih dari sekadar materi kelas. Mereka butuh mentor, sosok yang bisa mengarahkan dan membuka wawasan.
Mahasiswa Memang Harus Mandiri, Tapi Jangan Dibiarkan Sendiri
Oke, mahasiswa memang dituntut untuk mandiri. Tapi, kalau terlalu mandiri sampai merasa kayak belajar sendiri tanpa arahan, apakah ini artinya mahasiswa nggak perlu dosen?
Pendidikan tinggi bukan sekadar tentang kemandirian, tapi juga kolaborasi. Dosen dan mahasiswa seharusnya bisa saling mengisi, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Kondisi ini makin terasa di kelas-kelas besar dengan jumlah mahasiswa ratusan. Dosen kadang cuma jadi narator yang baca slide, sementara mahasiswa jadi penonton pasif. Ini jelas bukan cara belajar yang efektif.
Kenapa Ini Penting?
Kualitas pendidikan di perguruan tinggi punya dampak besar buat masa depan mahasiswa. Kalau dari bangku kuliah aja udah merasa diabaikan, gimana nanti pas masuk dunia kerja? Pendidikan tinggi seharusnya jadi ajang persiapan, bukan sekadar tempat dapat gelar.
Selain itu, hubungan baik antara dosen dan mahasiswa bisa membuka banyak peluang. Dari relasi ini, mahasiswa bisa mendapat insight, kesempatan magang, bahkan referensi kerja di masa depan. Sayangnya, banyak mahasiswa yang nggak punya privilege ini karena hubungan yang nggak terbangun dengan baik.
Kalau kamu mahasiswa yang merasa senasib, yuk mulai lebih bersuara. Karena pada akhirnya, pendidikan yang baik lahir dari interaksi belajar yang baik pula.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Drama FOMO Buku: Ketika Literasi Jadi Ajang Pamer dan Tekanan Sosial
-
Full Day School: Solusi Pendidikan atau Beban bagi Siswa?
-
Dari Rasa Ingin Tahu hingga Kecanduan: Apa Alasan Orang Memakai Narkoba?
-
Apa yang akan Terjadi dengan Kehidupan Manusia Jika Tidak Ada Ilmu Fisika?
-
Sistem Ranking di Sekolah: Memotivasi Atau Justru Merusak Mental Siswa?
Artikel Terkait
-
Krisis Pendidikan Suriah: Setengah Anak Usia Sekolah Terlantar Akibat Perang
-
Klaim Demi Pendidikan Berkualitas dan Merata, Jurus Pemerintahan Prabowo: Revitalisasi Sekolah hingga Digitalisasi
-
Adu Pendidikan Habiburokhman vs Mahfud MD, Heboh Gegara Penyebutan 'Orang Gagal'
-
Pendidikan Karakter sebagai Solusi Krisis Moral Generasi Muda
-
Kapan Masuk Sekolah 2025? Intip Kalender Pendidikan Kemdikbud dan Kemenag Terbaru
Kolom
-
Gentrifikasi Piring: Saat Makan Murah Menjadi Barang Mewah
-
Mampu Bertahan Adalah Prestasi: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengejar Puncak yang Salah
-
Jadi "Patrick Otak Besar": Strategi Survival Saat Gaji Habis Ditelan Harga Beras
-
Overworked tapi Underpaid: Realita Dunia Kerja yang Diam-diam Dinormalisasi
-
Jogja yang Romantis bagi Pelajar, tapi Terasa Pedih bagi Pekerja
Terkini
-
Memahami Dunia Anak Spesial: Review Novel Ikan Kecil yang Mengajarkan Empati Tanpa Menggurui
-
Lawan di Sungai, Kawan dalam Kehidupan: Mengintip Sisi Humanis Pacu Jalur
-
GTO Kembali! Takashi Sorimachi Jadi Eikichi Onizuka Lagi Setelah 28 Tahun
-
Park Ji Hyun Jadi Idol K-Pop di Film Wild Sing, Intip Detail Karakternya
-
Kalau Jelek Gak Boleh Marah? Maaf Sal Priadi, Saya Tidak Setuju