Pernahkah kamu berpikir dalam waktu 24 jam sehari itu terasa sedikit? Rasanya baru kemarin bangun tidur, eh ternyata sudah mau tidur lagi. Padahal, kalau dipikir lagi ternyata kita punya waktu banyak dalam sehari. Tetapi kenapa ya, kita selalu saja merasa tidak cukup?
Mungkin salah satu penyebabnya karena kita terlalu asyik dengan dunia maya. Coba saja perhatikan, berapa kali dalam sehari kita membuka media sosial?
Berapa jam kita habiskan hanya untuk melihat status di beranda media sosial kita, scroll video-video pendek, atau hanya sekedar mencari hiburan?
Kecanduan media sosial memang masalah serius yang patut diperhatikan. Walaupun, hidup di era digitalisasi, namun penting untuk tetapi bijak dan membatasi diri dalam penggunaan media sosial secara berlebihan.
Saya sendiri juga pernah kecanduan media sosial. Rasanya ada yang kurang jika tidak membuka media sosial dalam sehari. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, apa sebenarnya yang saya cari di media sosial?
Apakah saya benar-benar peduli dengan kehidupan orang lain yang saya lihat di media sosial? Atau, apakah saya hanya sekedar mencari validasi dari orang lain, dan berharap mendapatkan komentar dan like dari unggahan saya?
Tanpa sadar, kita banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan orang lain di dunia maya, sementara kita mengabaikan orang-orang yang ada di sekitar.
Kita bahkan lebih asyik chatingan dengan orang lain di dunia maya, ketimbang berinteraksi langsung dengan keluarga atau teman-teman di dunia nyata.
Akibatnya, kita menjadi cuek dan kurang peduli pada orang-orang di sekitar kita. Kita lebih fokus pada kehidupan yang suram, ketimbang kehidupan nyata yang seharusnya kita jalani.
Lalu, kapan kita bisa hidup di dunia nyata? Kapan bisa menikmati momen bersama keluarga dan teman-teman tercinta? Kapan bisa melakukan sesuatu yang benar-benar kita sukai?
Harus kita bisa memahami, bahwa kecanduan bermedia sosial akan berdampak buruk pada kehidupan kita. Semakin itu dibiarkan, tentu makin merusak mental dan kesehatan kita.
Untuk itu, sudah saatnya kita harus mengurangi menghabiskan waktu di dunia maya. Sudah saatnya kita harus fokus pada dunia nyata, pada orang-orang yang kita cintai, dan pada hal-hal yang penting buat kita.
Mulai sekarang, marilah kita menggunakan media sosial dengan bijak. Jangan biarkan media sosial mengendalikan kita, tetapi kitalah yang harus mengendalikan media sosial.
Berikan batasan untuk menggunakan media sosial di waktu-waktu tertentu dalam sehari. Gunakan media sosial untuk mencari informasi bermanfaat, terlebih seraplah informasi yang valid saja dan jangan pernah cepat percaya informasi yang beredar tanpa validasi yang jelas terlebih dahulu.
Perlu diingat, hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan di media sosial. Ada banyak hal indah yang menanti kita di kehidupan nyata. Jadi, mari manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Siapa tahu, dengan mengurangi waktu di dunia maya. Kita bisa menemukan lebih banyak waktu di dunia nyata. Dan siapa tahu juga, kita lebih bahagia dan menyenangkan di dunia nyata.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Antara Jurnal Scopus dan Kerokan: Membedah Pluralisme Medis di Indonesia
-
Berdamai dengan Keresahan, Cara Menerima Diri Tanpa Perlu Jadi Motivator Karbitan
-
Mens Rea Pandji Pragiwaksono dan KUHP Baru: Ketika Tawa Lebih Jujur dari Hukum
-
Beli Bahagia di Toko Buku: Kenapa Novel Romantis Jadi Senjata Hadapi Kiamat
-
Dilema Fatherless di Indonesia: Ayah Selalu Sibuk, Negara Selalu Kaget
Artikel Terkait
-
Heboh #IndonesiaGelap dan #KaburAjaDulu, Benarkah Tanda-Tanda Krisis?
-
Jadi Perdebatan, Bolehkan Tidak Ganti Bra Setiap Hari?
-
Rahasia Gelap Konten Clickbait Media Sosial: Kenapa Kita Gak Bisa Berhenti Ngeklik?
-
Dari Rasa Ingin Tahu hingga Kecanduan: Apa Alasan Orang Memakai Narkoba?
-
Komdigi Panggil TikTok Bahas Aturan Batasi Anak Main Medsos
Kolom
-
Misi Damai di Luar, Kegelisahan di Dalam: Menggugat Legitiminasi Diplomasi
-
Bebas Aktif atau Bebas Selektif? Menyoal Kursi Indonesia di Forum Trump
-
Gerakan Antirokok: Tanda Peduli Kesehatan atau Gagalnya Pendidikan Publik?
-
Kerja Keras Tanpa Tabungan: Potret Rapuh Finansial Anak Muda
-
ASN Baru dari Program MBG: Konsekuensi Panjang dan Nasib Keberlanjutan
Terkini
-
Fresh Graduate Jangan Minder! Pelajaran di Balik Fenomena Open To Work Prilly Latuconsina
-
Hadapi Sengketa Pajak Rp230 Miliar, Cha Eun Woo Gandeng Firma Hukum Kondang
-
Transformasi AI dalam Ekonomi Kreatif Indonesia: Peluang Emas atau Ancaman?
-
4 Ide Outfit Simpel ala Ranty Maria, Nyaman dan Tetap Modis
-
4 Sepatu Trail Running untuk Medan Licin dan Berbatu, Stabil dan Anti-Slip!