Penantian panjang sepak bola Indonesia akan gelar juara di Piala AFF tampaknya masih belum menemui ujung. Tahun 2025 menjadi saksi kegagalan lain, kali ini datang dari Timnas Indonesia U-23 yang kembali hanya mampu meraih status runner up di ajang Piala AFF U-23.
Kekalahan 0-1 dari Vietnam di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Selasa (29/7/2025) malam bagaikan ulangan naskah lama yang terus diputar. Dua tahun sebelumnya atau di edisi 2023, skenario serupa terjadi. Indonesia kembali kalah dari Vietnam di partai final, saat itu lewat adu penalti setelah imbang tanpa gol.
Catatan tersebut memperpanjang status Timnas Indonesia sebagai langganan runner up di kawasan ASEAN. Sejak Piala AFF pertama digelar pada 1996 (dulu bernama Piala Tiger), tim senior Indonesia sudah enam kali masuk final, yakni era 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Enam kali pula gelar juara itu gagal diraih.
Ironisnya, prestasi Timnas U-23 pun tak jauh berbeda. Gelar juara hanya sekali diraih, yakni pada 2019. Selebihnya, yang tersisa hanya frustrasi dan optimisme yang terus diuji dari generasi ke generasi.
Sebagian publik mulai menyebutnya 'kutukan runner-up'. Sebutan yang tak mengenakkan, namun terlalu sulit diabaikan karena data dan fakta terus menegaskannya. Timnas bisa sampai ke final, tapi tak pernah benar-benar berhasil menuntaskan misi.
Tentu saja, masalah ini bukan semata-mata soal hasil pertandingan. Ketika bicara final, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan teknis, tapi mentalitas. Dan di sinilah, Timnas Indonesia masih belajar untuk menjadi tim yang benar-benar tangguh hingga peluit akhir.
Kerinduan pada Sosok Shin Tae-yong
Dalam kekalahan, nama lama pun kembali disebut. Sejak Shin Tae-yong resmi tidak lagi menangani Timnas Indonesia awal 2025 lalu, atmosfer tim memang terasa berbeda. Patrick Kluivert memang sudah ditunjuk sebagai pelatih baru dengan kontrak dua tahun, tetapi adaptasi bukanlah perkara semalam.
Penggemar pun mulai membandingkan. Di bawah asuhan Shin, Timnas Indonesia berhasil menembus fase gugur Piala Asia 2023 untuk pertama kalinya. Peringkat FIFA melesat dari 173 ke 134. Di Piala Asia U-23 2025, Timnas bahkan mampu menembus semifinal. Ini merupakan pencapaian terbaik sepanjang sejarah.
Belum lagi gaya kepelatihan Shin yang penuh disiplin dan konsistensi dalam membangun pola permainan. Ia dikenal sebagai pelatih yang tak hanya menuntut hasil, tapi juga memperhatikan transformasi mental dan fisik pemain.
Bandingkan dengan Patrick Kluivert, mantan striker Timnas Belanda yang kini memimpin. Meski membawa aura Eropa dan pengalaman bermain di level tertinggi, catatan kepelatihannya masih jauh dari mengesankan. Persentase kemenangannya lebih rendah dibandingkan Shin Tae-yong .
Selain itu, dalam pertandingan debut bersama Timnas Indonesia, Kluivert belum menunjukkan performa yang meyakinkan. Hal ini membuat sebagian publik mulai mempertanyakan apakah keputusan mengganti Shin memang tepat.
Namun, tak bisa dimungkiri pula bahwa setiap pelatih membutuhkan waktu. Proses adaptasi, membangun sistem baru, dan mengenal karakter pemain bukan sesuatu yang bisa dipaksakan hasilnya dalam hitungan minggu.
Tetap saja, ketika Timnas kembali gagal di AFF, kerinduan pada Shin Tae-yong terasa begitu nyata. Bukan karena ia sempurna, tapi karena fondasi yang ia bangun mulai menunjukkan hasil dan publik berharap konsistensi, bukan guncangan.
Publik Indonesia bukan publik yang sabar, apalagi jika menyangkut sepak bola. Harapan yang sudah terlalu lama dipendam membuat mereka cepat kecewa, cepat marah, dan sulit percaya, terutama jika hasil belum kunjung datang.
Membangun ulang pondasi tentu tidak mudah. Tapi jika Kluivert benar-benar serius, konsisten, dan mampu mengoptimalkan potensi pemain yang ada, bukan tak mungkin kisah "kutukan runner-up" bisa segera berakhir.
Untuk itu, PSSI dan seluruh elemen pendukung tim nasional perlu bersatu, fokus, dan benar-benar membuktikan bahwa keputusan mereka tak sah. Transformasi memang bukan tentang instan. Tapi tentang kesinambungan, ketekunan, dan kepercayaan.
Kutukan runner-up yang membayangi Timnas Indonesia selama puluhan tahun tidak akan selesai hanya dengan ganti pelatih. Diperlukan konsistensi, dukungan penuh, dan visi jangka panjang.
Baca Juga
-
Hangatnya Euforia Piala Dunia, Sepakbola Benar-Benar Jadi Bahasa Universal?
-
Piala Dunia Memang Milik Semua Orang, Tak Perlu Malu Jadi Fans Jalur FOMO?
-
Reborn Rookie dan Formula Lama yang Masih Ampuh Memikat Penonton
-
Begadang Demi Piala Dunia di Tengah Kesibukan, Masih Worth It?
-
Piala Dunia 2026 dan Tantangan Menjaga Tempat Nobar agar Tetap Bersih
Artikel Terkait
-
Sejauh Mana Persiapan Timnas Indonesia Jelang Piala Dunia U-17 2025?
-
Nova Arianto: Lapangan Bali United Mirip Suasana Piala Dunia U-17 2025
-
Nova Arianto Uji Konsentrasi Timnas Indonesia U-17, Persiapan Makin Matang?
-
Timnas Indonesia U-17 Tantang Langsung Peserta Piala Dunia dalam Turnamen di Medan
-
Sandy Walsh Dicari Pemain Liverpool, Bicarakan Laga Lawan Timnas Indonesia
Kolom
-
BBM di Indonesia Lebih Murah dari Singapura, tapi Apakah Lebih Terjangkau?
-
Bukan Sekadar Daur Ulang! Ini Strategi Baru Menekan Sampah Sebelum Menjadi Limbah
-
Fenomena Green Consumerism: Peduli Lingkungan atau Sekadar Tren Belanja?
-
Rutinitas Ngopi: Mood Booster dan Hangatnya Kebersamaan Bareng Keluarga
-
Dari Tumbler ke Paylater: Kontradiksi Gaya Hidup Ramah Lingkungan Anak Muda
Terkini
-
Red Velvet Rayakan 12 Tahun Debut dengan Comeback Grup Lengkap dan Fan-Con
-
BLEACH Rilis Ilustrasi Perjalanan Ichigo Jelang Final Arc The Calamity
-
5 Parfum Wanita untuk Pengguna Transportasi Umum, Bebas Bau Badan Seharian!
-
Setelah Juara Langsung Jadi Manusia Silver: Kutukan Ganda Putra Indonesia?
-
Ulasan Film Main Vaapas Aaunga: Romantisme Pilu di Balik Tragedi Tahun 1947