Baru-baru ini, ledakan bom terjadi di SMAN 72 Jakarta pada awal November tahun ini. Ledakan yang terjadi di tempat pendidikan tentu menggemparkan publik. Bukan hanya karena peristiwa itu terjadi di lingkungan sekolah, tetapi karena pelakunya disebut masih berstatus pelajar (siswa).
Perbincangan dari peristiwa tersebut pun akhirnya meluas: Apa yang mendorong seorang remaja melakukan tindakan berbahaya seperti merakit bom rakitan?
Namun alih-alih menelusuri kompleksitas persoalan remaja dan lingkungan sekolah, fokus pemerintah justru mengarah pada satu “tersangka” yaitu populer: game online ataupun yang kita kenal sebagai video game, terutama game bergenre battle seperti PUBG dan masih banyak lagi
Pemerintah menyatakan bahwa game yang menampilkan senjata dan kekerasan berpotensi memengaruhi psikologi pemain karena membiasakan mereka dengan kekerasan.
Logikanya sederhana: ada kekerasan di layar, maka bisa terjadi kekerasan di dunia nyata. Tetapi justru karena logikanya terlalu sederhana, akhirnya berpotensi menyesatkan.
Apakah Video Game Pantas Disalahkan?
PUBG, Free Fire, Counter Strike, Valorant, dan ratusan game lainnya telah dimainkan oleh jutaan remaja Indonesia. Jika benar game menjadi penyebab tindakan ekstrem seperti merakit bom, kita seharusnya melihat ratusan atau ribuan kasus serupa. Nyatanya tidak, bukan?!
Kita bisa membalik logikanya: banyak remaja yang juga menonton film action, anime berkelahi, membaca novel kriminal, bahkan news feed berisi kejahatan setiap hari. Tapi tidak semua kemudian melakukan tindak kekerasan.
Artinya, media tersebut memang bukan akar masalahnya. Tentu juga dapat kita sadari bahwa kekerasan tidak tumbuh hanya dari menonton atau bermain. Ada variabel lain yang jauh lebih penting: kondisi mental, lingkungan sosial, rasa aman di sekolah, hingga pengawasan orang tua.
Yang Diabaikan: Bullying, Tekanan Mental, dan Ruang Aman
Dalam kasus yang viral di SMAN 72 ini, isu bullying sempat disebut sebagai salah satu pemicu. Tapi setelah pemerintah bicara tentang game, isu itu seolah mengecil. Padahal bullying adalah masalah yang sudah lama membayangi sekolah di Indonesia. Banyak siswa mengalami tekanan sosial, perundungan, hingga depresi, tetapi tidak menemukan ruang untuk mengadu.
Di sinilah letak masalahnya. Ketika sekolah tidak aman, ketika guru dan institusi tidak peka, ketika teman sebaya tidak peduli, remaja bisa mencari cara untuk bertahan atau membalas. Kadang dengan diam, kadang dengan tindakan. Tindakan itulah yang bisa berujung ekstrem.
Menuding video game sebagai penyebab isu radikal tentu tidak menyelesaikan persoalan itu. Ia hanya menyingkirkan tanggung jawab sekolah, keluarga, dan pemerintah terhadap kesehatan mental remaja.
Game Sebagai Cermin, Bukan Penyebab
Game hanyalah medium, sama seperti film, musik, atau buku. Ia bisa memuat kekerasan, tetapi bagaimana seseorang memaknainya ditentukan oleh kecerdasan emosional, wawasan, dan pola asuh. Justru game bisa menjadi ruang kompetitif yang sehat, arena kreativitas, bahkan karier menjanjikan melalui e-sports.
Jika remaja tidak dibekali literasi digital dan pengawasan yang baik, masalah bukan terletak pada game, melainkan pada ketiadaan panduan.
Solusinya Bukan Melarang, Tetapi Membimbing
Daripada terburu-buru membatasi game, pemerintah seharusnya fokus pada literasi digital, pendampingan psikologis di sekolah, dan mekanisme pelaporan bullying yang efektif. Remaja tidak butuh tembok penghalang, mereka butuh teman bicara, aturan yang jelas, serta lingkungan aman untuk tumbuh.
Jika negara ingin melindungi generasi muda, kebijakannya harus menyentuh akar, bukan hanya layar. Karena masalah yang terjadi di sekolah tidak lahir dari game, melainkan dari dunia nyata yang gagal menampung kegelisahan para remaja.
Baca Juga
-
Sinopsis 'Wind UP', Drakor Pendek Baru yang Dibintangi Jeno dan Jaemin NCT
-
4 Drama dan Film Korea yang Dibintangi Kang Hyung Suk, Layak Ditonton!
-
3 Alasan Wajib Nonton Honour, Drakor Thriller Hukum Adaptasi Serial Populer Swedia
-
Nam Joo Hyuk Resmi Gabung dengan Agensi Fable Company, Siap Buka Babak Baru
-
3 Film Korea Tayang Januari 2026, Comeback Han So Hee hingga Choi Ji Woo
Artikel Terkait
-
Muncul di ESRB, Game Death Stranding 2 Siap Menuju ke PC
-
Di Balik Hobi Rizwan Main Game, Sule Melihat Sisi Positif yang Tak Terduga
-
Serial TV Assassin's Creed Dalam Pengembangan, Kapan Tayang di Netflix?
-
58 Kode Redeem FF Terbaru 26 November: Raih Skin Digimon, Diamond, dan Bundle Keren
-
30 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 26 November: Klaim Glorious 112-115 dan Reward Kejutan
Kolom
-
Diplomasi vs Realitas: Menakar Nyali Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB
-
Wacana Pilkada oleh DPRD, Kedaulatan Rakyat di Persimpangan Pilihan?
-
Tragedi Tiga Menteri: Menggugat Cacat Struktural Tata Kelola Haji Kita
-
Romantisasi UMKM: Negara yang Absen, Warga yang Dipaksa Adaptif
-
Limbah Medis dan Ancaman Senyap bagi Kesehatan Ekosistem
Terkini
-
Film Uang Passolo: Hadirkan Kritik Sosial yang Lucu, Kocak, dan Menyentuh
-
Review Drama China Why Women Love: Kisah Cinta Bos Tegas dan Asisten Berjiwa Bebas
-
Dunia Tanpa Warna
-
Mengenal Grooming Lewat Kisah Nyata Aurelie Moeremans di Buku Memoarnya
-
Ayah Jihoon TWS Dikabarkan Meninggal Dunia, Agensi Beri Konfirmasi