Di tahun 2193, warna tidak lagi ada di dunia. Bukan karena matahari padam atau atmosfer rusak. Bukan pula karena perang kimia yang membakar pigmen. Warna hilang karena manusia telah memilihnya.
Semuanya dimulai dari Protokol Keseimbangan Emosi tahun 2141. Penelitian besar-besaran menemukan bahwa warna—terutama warna primer yang kuat—merangsang pusat limbik otak secara berlebihan. Seperti merah memicu amarah dan hasrat. Kemudian biru menimbulkan melankoli. Lalu kuning membuat gelisah. Sedangkan hijau, meski warna yang paling aman, tetap saja membangkitkan rasa iri karena mengingatkan pada sesuatu yang hidup dan tumbuh—sesuatu yang manusia modern sudah tak lagi dimiliki.
Jadi Dewan Ketenangan memutuskan: lebih baik tidak ada warna sama sekali daripada ada warna yang tidak terkendali.
Mereka memasang filter global. Bukan kacamata, bukan lensa kontak. Filter itu ditanam langsung ke retina melalui prosedur wajib pada usia tujuh tahun. Sekarang semua manusia melihat dunia dalam skala abu-abu yang sangat halus: 256 tingkat kecerahan, tanpa satu pun hue. Hitam, putih, dan segala derajat kelabu di antaranya. Itu saja.
Aku lahir setelah protokol itu diberlakukan. Namaku L-19/472, tapi di rumah kecilku di sektor 7 aku dipanggil Rin—nama yang ibuku bisikkan sebelum chip penamaan resminya diaktifkan. Ibuku adalah salah satu dari sedikit orang yang masih ingat warna-warna. Ia pernah bilang, “Dulu langit itu biru seperti air yang sangat dalam, Rin. Kamu bisa tenggelam hanya dengan menatapnya.”
Aku tidak pernah mengerti apa artinya “tenggelam” dalam biru. Bagiku langit hanyalah tingkat kecerahan 240, sedikit lebih terang dari dinding beton di sebelahnya yang 198.
Tapi ibuku punya kebiasaan aneh. Setiap malam, setelah lampu sektor dimatikan pukul 22.00, ia membuka kotak besi kecil di bawah ranjang. Di dalamnya ada tujuh lembar kertas tebal yang sudah menguning—satu-satunya benda berwarna yang lolos dari penyisiran besar tahun 2145. Ia menyebutnya “lukisan lama”.
Setiap malam ia mengeluarkan satu lembar, memegangnya di bawah cahaya lilin sintetis yang dilarang, lalu menatapnya lama sekali. Kadang ia menangis. Kadang ia tersenyum. Aku tidak pernah mengerti mengapa.
Suatu malam, saat aku berusia empat belas tahun, ibuku sakit parah. Dokter sektor bilang itu “gangguan memori warna residual”—penyakit yang hanya menyerang mereka yang pernah melihat dunia sebelum protokol. Otak mereka terus mencoba menciptakan warna yang sudah tidak ada, sampai akhirnya kelelahan dan menyerah.
Malam itu ibuku memanggilku. Suaranya sangat lemah.
“Rin… ambil kotak itu.”
Aku mengambil kotak besi. Ia memintaku mengeluarkan semua tujuh lembar.
“Ini yang terakhir aku punya. Tujuh warna primer dan sekunder. Aku ingin kamu melihatnya… sebelum aku pergi.”
Aku bingung. “Tapi aku tidak bisa melihat warna, Bu.”
“Iya. Makanya aku minta kamu lakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan orang lain sejak protokol.”
Ia menyuruhku menutup mata, lalu meletakkan salah satu kertas di tanganku.
“Sekarang… bayangkan. Ini merah. Bayangkan panasnya. Bayangkan seperti darah yang mengalir cepat di tubuhmu. Seperti api yang ingin membakar segalanya tapi juga ingin dipeluk.”
Aku mencoba. Aku membayangkan panas. Aku membayangkan denyut. Tapi yang kurasakan hanya abu-abu di balik kelopak mata.
Ia pindah ke kertas berikutnya. “Ini biru. Dingin. Tenang. Seperti air yang menyelimuti seluruh tubuhmu sampai kamu lupa harus bernapas.”
Lagi-lagi aku mencoba. Dingin. Tenang. Air. Tetap saja hanya gelap.
Satu per satu ia menjelaskan. Kuning seperti jeritan matahari. Hijau seperti napas hutan yang sudah lama mati. Ungu seperti luka yang tidak pernah sembuh. Oranye seperti janji yang selalu ditunda.
Saat kertas terakhir—yang ia bilang “magenta, warna yang seharusnya tidak ada di alam tapi manusia ciptakan”—ia memegang tanganku erat.
“Rin… kalau suatu hari kamu bisa melihat warna lagi, janji padaku: jangan takut. Biarkan ia menyakitimu. Biarkan ia membuatmu marah, sedih, rindu, gila. Karena itulah arti hidup. Bukan keseimbangan. Bukan ketenangan. Tapi kekacauan yang indah.”
Pagi harinya ibuku meninggal. Saat petugas datang mengambil tubuhnya, mereka menemukan tujuh lembar kertas di samping ranjang. Semua langsung dimusnahkan sesuai protokol. Aku tidak sempat protes.
Tapi malam sebelumnya, saat ibuku tertidur lemah, aku diam-diam mengambil satu lembar—yang magenta—dan menelannya. Kertas itu terasa kering dan pahit di tenggorokanku. Aku menelannya utuh, seperti menelan rahasia.
Sejak itu, setiap kali aku menelan ludah, aku merasa ada sesuatu yang tersangkut di dada. Sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa diukur, tidak masuk dalam 256 tingkat kecerahan.
Tahun-tahun berlalu. Aku tumbuh menjadi teknisi pemelihara filter retina di sektor 7. Pekerjaan yang ironis: aku memperbaiki alat yang membuat dunia tetap abu-abu.
Suatu hari, saat sedang mengkalibrasi filter seorang anak berusia tujuh tahun yang baru menjalani prosedur, matanya tiba-tiba berkaca-kaca.
“Aku melihat… ada yang aneh,” katanya pelan. “Di sudut mataku. Seperti… ada sesuatu yang bukan abu-abu.”
Tim medis pun panik. Mereka langsung memindai. Hasilnya: kegagalan filter 0,0004%. Hampir tidak terdeteksi. Tapi cukup untuk membiarkan secercah warna masuk.
Malam itu, di kamar kecilku, aku menatap cermin. Aku membuka mata lebar-lebar. Tidak ada yang berubah. Dunia tetap abu-abu.
Tapi di dalam dada, di tempat kertas magenta itu pernah lewat, aku merasa ada denyut kecil. Seperti janji yang tertunda. Seperti luka yang tidak mau sembuh.
Aku tersenyum—pertama kalinya aku tersenyum tanpa alasan yang bisa diukur.
Mungkin ibu benar.
Mungkin warna tidak benar-benar hilang.
Mungkin ia hanya bersembunyi di tempat yang tidak bisa disentuh filter: di dalam cerita yang kita telan, di dalam ingatan yang kita tolak mati, di dalam rindu yang tidak diizinkan ada.
Dan suatu hari—entah kapan—ia akan pecah keluar.
Bukan dari retina.
Tapi dari hati yang sudah terlalu lama dipaksa jadi abu-abu.
Baca Juga
-
Review Film Iron Lung: Markiplier Sukses Hadirkan Ketegangan Tanpa Jumpscare Berlebih
-
Ulasan Film Rajah: Teror Mistis Jawa yang Intens dan Mencekam!
-
Review Film The Last Supper: Drama Rohani yang Sederhana dan Menyentuh Iman
-
Film Wildcat: Trope Klasik dalam Kemasan Modern yang Menegangkan!
-
Film Taneuh Kalaknat: Suguhkan Horor Found-Footage ala YouTuber
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Satu Universe Dua Judul: Lee Jong Suk dan Lee Jun Hyuk Siap Bikin Pusing Silsilah TK Group
-
WNA Rasis di Medsos: Bisa Nggak Sih Dijerat Hukum Indonesia?
-
Paramount Tawar Tinggi, Netflix Pilih Mundur dari Akuisisi Warner Bros
-
Solidaritas Mokel Berjamaah, Mengapa Jadi Tren?
-
3 Pilihan Cream Blush Murah untuk Pemula: Mudah Dibaurkan dan Tahan Lama!