Beberapa waktu terakhir, banyak pengguna mengeluhkan sulitnya mengakses iPusnas, perpustakaan digital yang dikelola oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Layanan yang awalnya disebut hanya mengalami pemeliharaan sistem singkat, nyatanya tetap tidak bisa diakses selama berminggu-minggu.
Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya gangguan aplikasi biasa. Toh masih banyak hiburan lain di ponsel. Masih ada media sosial, video pendek, atau game yang bisa mengisi waktu luang. Tapi bagi sebagian yang lain, macetnya iPusnas berarti terputusnya akses utama mereka terhadap ilmu pengetahuan.
Sobat Yoursay, kita harus mengakui bahwa harga buku fisik saat ini tidaklah murah. Novel atau buku nonfiksi terbaru sering kali dibanderol dengan harga di atas seratus ribu rupiah. Bagi pelajar, mahasiswa, atau masyarakat berpenghasilan rendah, anggaran sebesar itu tentu lebih sering dialokasikan untuk kebutuhan pokok atau kuota internet daripada untuk membeli buku.
Di sinilah iPusnas mengambil peran penting. Aplikasi ini adalah solusi legal dan gratis yang memangkas jarak antara pembaca dan buku. Tanpa perlu biaya langganan atau perjalanan fisik ke perpustakaan daerah, ribuan judul buku bisa diakses dengan mudah melalui ponsel. Dunia pengetahuan seperti dipadatkan ke dalam layar kecil yang bisa dibawa ke mana-mana.
Banyak orang mungkin tidak menyadari betapa pentingnya hal itu. Tidak semua daerah punya perpustakaan yang lengkap. Tidak semua sekolah punya koleksi buku yang memadai. Bahkan tidak semua keluarga bisa menyediakan buku bacaan di rumah. Bagi sebagian orang, iPusnas mungkin adalah satu-satunya tempat mereka bisa meminjam buku tanpa harus mengeluarkan uang.
Ketika aplikasi ini mengalami gangguan dalam waktu yang sangat lama, dampak nyatanya adalah hilangnya kesempatan belajar harian masyarakat. Setiap hari aplikasi ini mati, setiap hari pula ribuan orang kehilangan akses untuk membaca materi edukasi maupun literasi umum.
Sobat Yoursay, gangguan ini menjadi ironis karena posisi iPusnas sebagai layanan publik milik negara. Berbeda dengan platform komersial, iPusnas memiliki mandat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui literasi yang merata.
Durasi perbaikan yang berlarut-larut tanpa kejelasan jadwal operasional yang pasti menimbulkan pertanyaan besar, seberapa serius pemerintah memandang akses buku gratis sebagai kebutuhan mendasar rakyat?
Sobat Yoursay, mungkin kita sering mendengar bahwa minat baca orang Indonesia rendah. Tapi jarang sekali kita bertanya, seberapa mudah sebenarnya akses untuk membaca? Minat sering dianggap masalah kemauan pribadi. Padahal kadang yang menjadi penghalang justru harga buku yang mahal dan akses yang terbatas.
iPusnas selama ini hadir sebagai jalan pintas untuk mengatasi masalah tersebut. Maka, ketika jembatan digital ini terputus, masyarakat kembali dihadapkan pada pilihan sulit, antara membayar mahal untuk buku fisik atau berhenti membaca sama sekali.
Hal yang paling mengkhawatirkan adalah sifat dari kebiasaan membaca itu sendiri. Sekali ritme membaca seseorang terganggu oleh kendala teknis, sulit untuk membangun kembali konsistensi tersebut di masa depan.
Sobat Yoursay, yang lebih menarik adalah fakta betapa sepinya isu ini dari perhatian publik luas. Tidak ada demonstrasi besar-besaran atau pemberitaan utama yang terus-menerus. Keluhan hanya tersebar di kolom komentar media sosial dan ulasan aplikasi.
Minimnya kegaduhan ini seolah-olah mengonfirmasi bahwa perpustakaan digital masih dianggap sebagai kebutuhan sekunder yang bisa ditunda perbaikannya. Padahal di balik layar yang error itu, ada ribuan orang yang mungkin sedang menunggu buku yang ingin mereka baca.
Sobat Yoursay, mungkin yang harusnya kita tanyakan bukan lagi kapan iPusnas akan kembali normal, melainkan kalau sebuah perpustakaan digital bisa menghilang sementara tanpa banyak yang benar-benar mempermasalahkan, apakah itu berarti kita belum sepenuhnya menganggap literasi sebagai kebutuhan?
Bagaimana menurut Sobat Yoursay? Apakah kamu memiliki alternatif platform baca gratis lain selama iPusnas mengalami gangguan, ataukah kendala ini benar-benar menghentikan kebiasaan membacamu?
Baca Juga
-
Ibadah Kok Disamakan Sama Konser K-Pop? Menggugat Wacana War Ticket Haji yang Rentan Diskriminasi
-
Naga Purba ke Jepang: Diplomasi Hijau dan Misi Penyelamatan Komodo
-
No Viral No Justice: Amsal Sitepu Bebas setelah 'Sidang' di Medsos
-
Ugal-ugalan Anggaran MBG: Menyoal Puluhan Ribu Motor Dinas Baru
-
Gak Perlu ke Thailand! Jakarta Akhirnya Punya Festival Songkran Sendiri, Cek Lokasinya
Artikel Terkait
-
Review Novel Satine: Realitas Pahit Menjadi Budak Korporat di Jakarta
-
Tuhan Nggak Butuh Pengacara: Belajar Beragama "Santuy" tapi Berisi Bareng Mbah Nun
-
Mau Glowing Luar Dalam? Cobain 200 Resep Sehat JSR dari dr. Zaidul Akbar
-
Membunuh Literasi, Membunuh Demokrasi: Saat Akses Bacaan Dicekik Negara
-
Ulasan Buku Anya's Ghost,Persahabatan Beracun dari Alam Baka
Kolom
-
Ingin Otak Lebih Fokus? Sains Temukan Fakta Mengejutkan dari Kebiasaan Membaca Huruf Hijaiyah
-
Dilema WFH Sehari: Bukti Kita Masih Dinilai dari Absen Kehadiran, Bukan Hasil Kerja
-
Mencintai Tanpa Ribut di Kepala: Sebuah Refleksi untuk Gen Sandwich yang Terlalu Banyak Cemas
-
Lonjakan Harga Plastik dan Kebenaran yang Selama Ini Terabaikan
-
Di Balik Bendera Besar pada Truk Bantuan: Murni Solidaritas atau Sekadar Pencitraan Global?
Terkini
-
Ngronggo Sport Art Center: Tempat Nyore Sederhana yang Penuh Kenangan
-
Melihat Sunaryo Bekerja
-
Lelah dengan Tekanan Kota? Mungkin Kamu Belum Menemukan "Ruang Pulang" Versi Dirimu Sendiri
-
Ada Merlion Hingga Alat Santet, Ini Sensasi Menyusuri Lorong Waktu di Art Center Purworejo
-
Street Style Goals, Intip 4 Ide Daily Outfit ala Han So Hee yang Edgy Abis!