Wacana “perempuan seharusnya di rumah” bukanlah hal baru. Ia kerap dibungkus dengan dalih fitrah, agama, atau moralitas keluarga. Kalimat seperti “setinggi-tingginya pendidikan perempuan, karier terbaiknya tetap di rumah” terdengar indah di telinga sebagian orang.
Sampai kita mengujinya dengan logika dan realitas sehari-hari. Sebab masalah terbesar dari anggapan ini bukan sekadar bias gender, melainkan ketidakkonsistenan berpikir.
Jika perempuan bekerja di luar rumah dianggap melawan fitrah, maka semestinya prinsip itu diterapkan secara menyeluruh. Artinya, mereka yang memegang keyakinan tersebut seharusnya juga menolak menggunakan jasa asisten rumah tangga (ART) dan pengasuh anak perempuan. Mengapa? Karena ART dan nanny perempuan juga keluar dari rumah mereka sendiri untuk bekerja di rumah orang lain.
Jika itu dianggap “tidak pantas”, maka yang logis adalah ART dan pengasuh anak seharusnya laki-laki. Namun realitanya, hampir tidak ada yang berpikir sejauh itu. Prinsip “fitrah” berhenti tepat di depan pintu rumah sendiri.
Fitrah Versi Siapa? Saat Perempuan Dilarang Bekerja, Tapi Jasanya Dinikmati
Ironi semakin kentara ketika orang yang vokal menyuarakan “perempuan sebaiknya di rumah” justru menjalankan bisnis online dengan staf perempuan. Pertanyaannya sederhana, jika bekerja itu melawan fitrah perempuan, mengapa Anda merekrut mereka? Mengapa tidak hanya mempekerjakan laki-laki?
Di titik ini, jelas bahwa yang disebut “fitrah” sering kali hanya menjadi pembenaran sepihak. Digunakan untuk mengontrol, bukan untuk konsisten secara moral.
Lebih jauh lagi, mari jujur bertanya: sanggupkah dunia berjalan tanpa perempuan pekerja? Dalam hidup kita sehari-hari, manfaat dari kerja perempuan tidak terhitung jumlahnya.
Jika Perempuan Bekerja Disebut Melawan Fitrah, Mari Konsisten Sampai Akarnya
Guru dan dosen perempuan mendidik anak-anak dan mahasiswa. Tenaga kesehatan perempuan, termasuk perawat dan bidan, menjadi garda depan pelayanan medis. Dokter perempuan (terutama dokter kandungan) justru paling banyak diminta ketika perempuan melahirkan. Pedagang perempuan, buruh, petani, peneliti, hingga pekerja sosial menopang roda ekonomi dan kemanusiaan.
Jika konsisten dengan keyakinan bahwa perempuan harus di rumah, maka seharusnya: tidak ada guru perempuan di sekolah, tidak ada dosen perempuan di kampus, tidak ada dokter perempuan di rumah sakit.
Tapi faktanya, hampir tidak ada yang rela menerima dunia seperti itu. Bahkan mereka yang paling keras menolak perempuan bekerja, sering kali memilih dokter kandungan perempuan ketika istrinya melahirkan. Di sinilah kontradiksi itu telanjang. Perempuan dilarang bekerja, kecuali ketika jasanya dibutuhkan.
Katanya Perempuan di Rumah, Nyatanya Dunia Tak Bisa Tanpa Mereka
Ungkapan “bayaran termahal perempuan adalah ridho suami” juga perlu dikritisi. Ridho bukan mata uang, tidak bisa membayar listrik, biaya sekolah, atau kebutuhan kesehatan.
Selain itu, mereduksi nilai perempuan hanya pada perannya di ranah domestik mengabaikan fakta bahwa banyak perempuan bekerja bukan karena ambisi pribadi semata, tetapi karena kebutuhan ekonomi, tanggung jawab keluarga, dan realitas sosial.
Penting ditegaskan, membela perempuan bekerja bukan berarti merendahkan perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Pilihan tersebut sah dan terhormat. Masalahnya muncul ketika satu pilihan dipaksakan sebagai satu-satunya jalan hidup yang “benar”, sementara pilihan lain dicap menyimpang dari fitrah.
Perempuan Bekerja: Dilarang dalam Wacana, Dibutuhkan dalam Praktik
Pada akhirnya, dunia tanpa peran perempuan di ruang publik bukanlah dunia yang lebih bermoral. Melainkan dunia yang lumpuh. Maka, sebelum menghakimi perempuan pekerja, ada baiknya bertanya pada diri sendiri.
Apakah saya benar-benar siap hidup tanpa manfaat dari kerja mereka? Jika jawabannya tidak, mungkin yang perlu ditinjau ulang bukan “fitrah perempuan”, melainkan cara kita memahami dan memanfaatkannya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Belajar Menerima Setiap Luka di Novel Matahari Minor karya Tere Liye
-
Buku Ada Kalanya: Catatan Menemukan Diri dari Kedai Kopi
-
Stop Overthinking dengan Occam's Razor: Seni Hidup dengan Pikiran Sederhana
-
Jeratan Praktik Perburuan Rente Subsidi Pupuk: Bagaimana Kebijakan Mengkhianati Petani Kecil
-
Paspor Kuat Itu Bukan Cuma soal Visa: Tentang Privilege dan Martabat Global
Artikel Terkait
-
Educatopia Expo 2026 Hadir di Mojokerto, Jadi Ruang Eksplorasi Pendidikan dan Minat Generasi Muda
-
Gen Z dan Dilema Cari Kerja: Minim Kesempatan atau Terlalu Pilih-Pilih?
-
Lebih Baik Baca Buku daripada Membaca Hasil AI
-
Dari Fotokopi ke AI: Mengapa Kecurangan Skripsi Terus Hidup di Tiap Zaman?
-
Ketika Pendidikan Dianggap Scam, Siapa yang Akan Menopang Hidup Kita?
Kolom
-
Atas Nama Sahur, Sampai Kapan Kebisingan yang Kehilangan Adab Dimaklumi?
-
Minta Maaf di Era Broadcast: Kegelisahan Pribadi Menjelang Idulfitri
-
Rangkap Jabatan dan Hukum: Mengapa Guru Honorer yang Dipidanakan?
-
Katanya Masa Depan Bangsa, tapi Kok Nyawa Anak Seolah Tak Berharga?
-
Melipat Jaring di Jalan Raya: Mengembalikan Marwah Pembangunan Masjid