Kebanyakan di antara kita tentu sudah tahu betapa pentingnya pola hidup sehat seperti mengonsumsi real food dan mencukupi kebutuhan tidur. Tapi kalau sudah dihadapkan dengan berbagai pilihan menu cepat saji, kebiasaan begadang nonton drakor atau main game, rasanya sulit menerapkan pola hidup sehat.
Lantas, adakah cara yang bisa kita lakukan untuk menahan semua godaan yang menghambat pola hidup sehat ini?
Nah, hal tersebut bisa ditemukan dalam buku berjudul 'Sehat Setengah Hati' yang ditulis oleh Ray Wagiu Basrowi. Buku ini sebenarnya ditulis dengan pendekatan teori health belief model, tapi penulis menjelaskannya dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh orang awam.
Dengan teori ini, penulis yang juga merupakan seorang dokter berusaha menjelaskan tentang bagaimana seharusnya kita memandang isu kesehatan secara lebih netral.
Sebagaimana yang saya bahas di awal. Kadang kita terjebak dalam sebuah paradoks antara kesadaran yang kuat untuk melakukan sesuatu tapi di sisi lain juga selalu punya alasan untuk tidak melakukannya. Dari segi kesehatan, kita sebenarnya amat paham harus melakukan apa untuk bisa sehat, tapi di lain sisi justru enggan melakukan hal tersebut.
Kalau dipikir-pikir, memang akan selalu ada kendala yang membuat kita banyak alasan untuk mengabaikan kesehatan. Hal ini kemudian dibahas oleh penulis dengan pendekatan ilmu filsafat, psikologi, hingga beberapa penelitian dan survei yang pernah ada.
Misalnya kita sudah tahu kalau kopi sachet dan gorengan itu tidak baik, tapi tetap saja dikonsumsi tiap hari. Kita juga paham kalau makan buah dan sayuran hingga kebiasaan masak sendiri di rumah itu adalah hal yang lebih sehat. Tetapi kenyataannya lebih suka jajan cilok, seblak, dan minuman kekinian yang banyak mengandung gula.
Hal ini sering disebut sebagai konsep parasitisme diri yang menjadi penghambat kenapa sebagian besar di antara kita menolak untuk sehat padahal sudah tahu urgensinya.
Tapi ada sebuah alasan menarik dalam ilmu kedokteran fisiologi terkait hal di atas. Penulis menyebutkan bahwa tubuh manusia itu sebenarnya dirancang untuk beradaptasi dengan keadaan hemat energi. Ini yang jadi alasan kenapa kita memilih sesuatu yang mudah untuk dilakukan alih-alih memilih yang sehat.
Order makanan online meskipun itu fastfood lebih mudah daripada masak sendiri. Mager dan rebahan itu lebih mudah daripada bangun berolahraga. Jadi, hal-hal di atas sebenarnya bukan sekedar jadi kebiasaan buruk bagi banyak orang, tapi memang sudah hal yang bersifat naluriah dan amat manusiawi.
Di sinilah pendekatan Health Believe Model (HBM) digunakan penulis untuk memandang kecenderungan manusia dan pola hidup sehat dalam kerangka yang seimbang.
HBM sendiri adalah salah satu teori perilaku yang mencoba memahami alasan seseorang melakukan atau menghindari perilaku tertentu yang berkaitan dengan kesehatan.
HBM mengajak kita untuk lebih bijak dan rasional tanpa harus terlihat paranoid dengan apa yang harus dan tidak harus dilakukan.
"Kita semua pernah ada di titik ketika pernah malas melakukan sesuatu untuk kesehatan hanya karena rasanya 'tidak mendesak'. Namun, sekali kita diberi pemicu yang cukup kuat, entah itu melihat seseorang terdekat jatuh sakit atau nonton kampanye, kita bisa mulai tergerak." (Halaman 25)
Dari sinilah kita bisa membangkitkan kesadaran yang penuh tanpa paksaan untuk lebih peduli menjaga kesehatan.
Dalam HBM, ada beberapa parameter yang ditinjau. Mulai dari rasa kebal semu terhadap penyakit (perceived susceptibiliy), kecenderungan menyepelekan ancaman kesehatan (perceived severity), serta ilusi bahwa perubahan itu sulit dan penuh hambatan (perceived barriers). Beberapa hal inilah yang membuat kita seolah jadi korban dari pikiran kita sendiri.
Setelah memahami hal di atas, diharapkan pembaca dapat menggali pemahaman yang lebih tentang manfaat hidup sehat (perceived benefit) dan mengambil langkah yang berani dalam bertindak (cues to action).
Jadi, bagi Sobat Yoursay yang ingin memulai hidup sehat tanpa terbebani lagi dengan alasan-alasan yang seringkali menghambat kita memulai, buku ini bisa menjadi rekomendasi bacaan yang menarik untuk disimak!
Baca Juga
-
Atasi Kecanduan Gadget Anak Lewat Baca Nyaring dalam The Book of Read Aloud
-
Sharing Literasi Keuangan dari Ayah Milenial di Buku Kamu Tidak Sendirian
-
Buku Perjalanan Menerima Diri, Wujudkan Self Love dengan Latihan Journaling
-
Buku Obat Sedih Dosis Tinggi, Refleksi agar Semangat Menjalani Hidup
-
Buku Home Learning, Belajar Seru Meski dari dalam Rumah
Artikel Terkait
-
Buku Teamwork 101, Keberhasilan Datang dari Kerja Sama
-
Seni Memikat Hati di Buku How to Win Friends & Influence People
-
Lebih Baik Baca Buku daripada Membaca Hasil AI
-
Baca Buku Bisa Jadi Cara Ampuh Healing Inner Child, Gen Z Wajib Coba!
-
Memahami Manusia Lewat Biologi di Buku Behave karya Robert Sapolsky
Ulasan
-
Novel Damar Kambang, Mencari Kebebasan di Balik Tabir Adat
-
Ulasan Serial The Pitt Season 2: Drama Medis yang Mengharukan dan Realistis
-
Sa'adatud Darain fi al-Shalah 'ala Sayyid al-Kaunain: Menyelami Samudra Cinta dengan Shalawat
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Tanpa Tuhan Apakah Segalanya Diizinkan? Mencari Akar Etika Lewat Filsafat
Terkini
-
"Skripsi yang Baik Adalah Skripsi yang Selesai": Curhat Mantan Mahasiswa Si Paling Perfeksionis
-
Fakta Unik Festival Musik Coachella: dari Menginap Sampai Tiket Rp150 Juta
-
Laris Manis! Konser EXO Planet #6 'EXhOrizon' di Jakarta Resmi Tambah Hari
-
Rahasia The Power of Habit, Mengapa Niat Saja Tidak Cukup untuk Berubah Jadi Lebih Baik?
-
Menanti Debut Tim Geypens di Timnas: Terganjal Polemik Paspor atau Kalah Saing dari Calvin Verdonk?