M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
Suasana berbelanja di toko kelontong. (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)
Sherly Azizah

Kalau Anda adalah tipe orang yang ketika belanja bulanan langsung mendorong trofi—eh, maksud saya, troli di supermarket besar dan memborong detergen ukuran 2 kg, tulisan ini mungkin akan terdengar seperti dongeng dari planet lain. Namun, bagi jutaan orang yang hidupnya diatur oleh ritme "pendapatan harian", ada sebuah ritual menarik yang kami sebut sebagai: ngecer.

Ngecer adalah seni membeli barang dalam satuan terkecil. Saset sampo, kopi rentengan, rokok batangan, hingga minyak goreng dalam plastik seperempat kilo yang diikat gelang karet dengan kencang.

Secara matematis, semua guru matematika dari tingkat SD sampai profesor di universitas ternama pasti sepakat bahwa mengecer adalah kerugian. Kalau Anda membeli sampo botolan, harga per mililiternya jauh lebih murah. Namun, di situlah letak keajaibannya: di dunia nyata, logika matematika sering kali kalah telak oleh logika isi kantong.

Bagi kita yang hidup di kelas menengah ke bawah, uang Rp50.000,00 di tangan itu punya beban mental yang berat. Kalau uang itu dipakai untuk membeli detergen ukuran besar seharga Rp45.000,00, maka sisa uang di kantong tinggal Rp5.000,00. Secara psikologis, kita merasa “miskin” seketika karena cadangan uang tunai habis. Namun, jika kita membeli detergen saset seharga Rp2.000,00, kita masih memegang Rp48.000,00. Kita merasa masih punya "napas" untuk membeli beras, telur, atau sekadar membayar parkir.

Inilah yang saya sebut sebagai Ilusi Likuiditas. Kita tahu bahwa kita membayar lebih mahal untuk plastik kemasannya, kita tahu kita rugi secara hitung-hitungan jangka panjang, tetapi kita membayar "premi" tersebut demi menjaga rasa aman karena masih memegang uang tunai. Bagi orang kecil, masa depan itu bukan sepuluh tahun lagi, melainkan besok pagi. Dan untuk memastikan besok pagi dapur tetap ngebul, uang tunai adalah raja, tidak peduli berapa banyak kerugian akumulatif yang harus ditanggung.

Mari kita bedah lebih dalam. Ngecer bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga soal pengendalian diri yang ekstrem. Dengan membeli barang sasetan, kita dipaksa untuk disiplin. Satu saset sampo untuk sekali mandi. Satu saset kopi untuk satu cangkir. Tidak ada ruang untuk boros.

Coba bandingkan dengan mereka yang punya sampo botol besar; sering kali mereka menuangkan cairan itu ke telapak tangan dengan semangat "sedekah", alias tumpah-tumpah karena merasa stoknya masih banyak. Di tangan pengecer, satu tetes sabun cuci piring adalah aset berharga yang harus dibusakan sampai maksimal.

Selain itu, warung kelontong atau Warung Madura di ujung gang adalah "bank" sekaligus "sahabat" bagi para pengecer. Di sana, tidak ada minimum pembelian. Tidak ada tatapan sinis dari kasir berseragam kalau kita hanya membeli satu butir telur ayam dan satu bungkus penyedap rasa. Di warung ini, seni mengecer mencapai puncaknya saat kita bisa menawar, "Mpok, beli minyak goreng lima ribu saja, bisa ya?". Dan ajaibnya, bisa. Coba lakukan itu di supermarket modern, Anda mungkin akan diarahkan ke pintu keluar oleh petugas keamanan.

Ada sisi kemanusiaan yang kental dalam budaya mengecer ini. Ia adalah bentuk adaptasi manusia terhadap kondisi ekonomi. Bagi seorang kuli bangunan yang upahnya baru turun sore hari, atau sopir angkot yang setorannya tidak tentu, mengecer adalah satu-satunya cara untuk tetap memiliki martabat. Mereka tidak perlu berinvestasi dalam jumlah besar, cukup membeli apa yang mampu dibeli saat itu juga.

Namun, kita juga harus jujur pada diri sendiri. Seni ngecer ini sebenarnya adalah pengingat betapa mahalnya menjadi orang miskin. Kita membayar lebih mahal untuk barang yang sama karena kita tidak punya modal untuk membeli "kehematan" yang ditawarkan oleh ukuran massal atau grosir. Ini adalah paradoks yang nyata. Kemiskinan sering kali memaksa kita untuk membuat keputusan finansial yang buruk demi bisa bertahan hidup hingga matahari terbit besok.

Namun, daripada terus-menerus meratapi nasib di depan timbangan beras, saya lebih suka melihat ngecer sebagai bentuk optimisme. Setiap kali kita membeli satu saset kopi, kita sebenarnya sedang berkata pada dunia: "Saya mungkin belum bisa membeli satu stoples kopi mahal sekarang, tetapi saya masih dapat menikmati kopi hari ini, dan besok saya akan mencari uang lagi untuk saset berikutnya."

Ngecer adalah tentang perlawanan kecil terhadap keadaan. Ia adalah cara kita mengelola harapan dalam kemasan plastik kecil. Jadi, jika nanti sore Anda melihat tetangga Anda pulang membawa rentengan plastik kecil dari warung, jangan kasihan padanya karena tidak paham matematika. Hargailah ia, karena ia adalah seorang manajer keuangan paling tangguh yang pernah ada—yang mampu membagi uang sepuluh ribu rupiah menjadi lima jenis barang kebutuhan pokok demi senyum anak istrinya di rumah.

Hidup memang bukan hanya soal berapa banyak yang bisa kita kumpulkan, melainkan tentang bagaimana kita mampu bertahan dengan apa yang ada di genggaman. Dan di dalam saset-saset kecil itu, terkadang tersimpan rasa syukur yang jauh lebih besar daripada mereka yang menimbun barang di gudang-gudang mewah.