Lintang Siltya Utami | Irhaz Braga
Ilustrasi Media Sosial (Pixabay)
Irhaz Braga

Kita hidup di zaman ketika koneksi tidak lagi menjadi persoalan teknis. Dengan satu sentuhan layar, seseorang dapat berbincang dengan puluhan orang, mengikuti kehidupan ratusan akun, dan hadir di berbagai ruang sosial secara bersamaan. Paradoksnya, justru di tengah konektivitas tanpa batas itu, rasa kesepian semakin sering diakui. Banyak orang merasa dikelilingi teman, tetapi jarang benar-benar merasa ditemani.

Kesepian hari ini tidak selalu ditandai oleh ketiadaan relasi, melainkan oleh rapuhnya kelekatan. Relasi sosial hadir dalam jumlah besar, tetapi dangkal secara emosional. Percakapan berlangsung cepat, singkat, dan sering kali berhenti di permukaan. Pertanyaan “apa kabar” menjadi formalitas, bukan undangan untuk benar-benar bercerita. Dalam situasi ini, kesepian menjelma menjadi pengalaman kolektif yang diam-diam dialami banyak orang.

Media sosial turut membentuk ilusi kebersamaan. Linimasa yang ramai memberi kesan hidup sosial yang penuh, padahal tidak selalu disertai relasi yang aman untuk berbagi kerentanan. Kita tahu banyak hal tentang orang lain, tetapi tidak cukup dekat untuk saling menopang. Koneksi melimpah, kelekatan langka.

Relasi Cepat dan Budaya Menghindari Kerentanan

Salah satu ciri relasi modern adalah kecepatan. Pertemanan terbentuk dengan mudah, tetapi juga mudah menghilang. Dalam budaya serba instan, hubungan sering diperlakukan layaknya konten: bisa digeser, diabaikan, atau ditinggalkan tanpa penjelasan. Fenomena seperti ghosting menjadi gejala umum, bukan lagi pengecualian.

Kecepatan ini berdampak pada kualitas kelekatan. Relasi yang sehat membutuhkan waktu, kehadiran emosional, dan keberanian untuk rentan. Namun di tengah budaya performatif, kerentanan sering dianggap risiko. Banyak orang memilih menampilkan versi terbaik dirinya, menyembunyikan luka, kegagalan, dan ketakutan. Akibatnya, hubungan sosial dipenuhi topeng, bukan kejujuran.

Ketakutan akan dihakimi atau ditinggalkan membuat orang enggan membuka diri. Ironisnya, sikap saling menjaga jarak ini justru memperdalam kesepian. Kita ingin dimengerti, tetapi tidak cukup berani untuk memperlihatkan siapa diri kita sebenarnya. Relasi pun berhenti pada basa-basi dan simbol kedekatan semu.

Di ruang digital, algoritma juga berperan membentuk relasi yang dangkal. Interaksi diukur dari like, komentar, dan respons cepat, bukan dari kehadiran yang konsisten. Hubungan sosial direduksi menjadi metrik, sementara kedalaman emosional tersingkir. Dalam kondisi ini, kesepian tidak selalu tampak, tetapi terasa.

Mencari Kembali Makna Kelekatan

Kesepian kolektif seharusnya dibaca sebagai sinyal sosial, bukan semata persoalan individual. Ia menandakan adanya krisis kelekatan dalam cara kita membangun relasi. Solusinya tidak cukup dengan menambah jumlah teman atau memperluas jaringan, melainkan dengan memperdalam hubungan yang sudah ada.

Kelekatan membutuhkan keberanian untuk melambat. Ia menuntut kehadiran yang utuh, mendengarkan tanpa tergesa, dan kesediaan untuk bertahan dalam ketidaknyamanan emosional. Dalam relasi yang lekat, seseorang tidak hanya diterima saat bahagia, tetapi juga ketika rapuh. Namun membangun ruang aman semacam ini memerlukan komitmen yang sering kali bertabrakan dengan budaya serba cepat.

Menghadapi kesepian juga berarti berdamai dengan kerentanan diri sendiri. Mengakui rasa sepi bukan tanda kegagalan sosial, melainkan pengakuan jujur atas kebutuhan manusiawi akan kelekatan. Justru dari kejujuran itulah relasi yang lebih sehat dapat tumbuh.

Di tingkat sosial yang lebih luas, penting untuk membangun kembali ruang-ruang perjumpaan yang tidak semata berorientasi pada performa. Ruang diskusi, komunitas, dan kebersamaan yang memungkinkan orang hadir sebagai diri sendiri, bukan sebagai citra. Konektivitas perlu dilengkapi dengan kualitas relasi.

Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan banyak teman, tetapi juga beberapa relasi yang benar-benar bermakna. Di tengah dunia yang semakin terhubung, tantangan kita bukan lagi menemukan orang, melainkan menjaga kelekatan. Kesepian kolektif di era konektivitas mengingatkan bahwa relasi sejati tidak diukur dari jumlah koneksi, melainkan dari kedalaman kehadiran satu sama lain.