Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia dihadapkan pada serangkaian peristiwa yang mengusik publik. Berita tentang siswa yang melakukan kekerasan terhadap guru, orang tua yang melaporkan pendidik ke ranah hukum, hingga video intimidasi di lingkungan sekolah beredar luas di media sosial.
Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan bertumbuh justru berubah menjadi arena konflik. Fenomena ini menunjukkan adanya masalah terkait otoritas guru yang kerap tergerus di tengah perubahan sosial yang cepat dan kompleks.
Tergerusnya otoritas guru bukan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Melainkan adalah hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari perubahan pola relasi antara guru, siswa, dan orang tua, hingga pengaruh media sosial yang mengaburkan batas etika dan kewenangan.
Akibatnya, proses pendidikan kehilangan pijakan moral dan disipliner, sehingga kekerasan baik verbal maupun fisik menjadi ancaman nyata di lingkungan sekolah.
Perubahan Relasi Guru, Siswa, dan Orang Tua
Salah satu penyebab utama melemahnya otoritas guru adalah berubahnya relasi antara guru, siswa, dan orang tua. Pendidikan di era modern ini, guru tidak lagi dipandang sebagai figur yang memiliki kewenangan penuh dalam mendidik dan mendisiplinkan siswa.
Intervensi orang tua yang berlebihan, sering kali tanpa memahami konteks pedagogis, menyebabkan keputusan guru mudah dipertanyakan dan dilemahkan.
Ketika guru merasa setiap tindakan berisiko dipersoalkan, muncul ketakutan untuk bersikap tegas. Akibatnya, guru cenderung mengambil posisi aman dengan menghindari konflik, meskipun hal tersebut berpotensi mengorbankan pembentukan karakter siswa.
Relasi yang tidak seimbang ini pada akhirnya menciptakan ruang kosong otoritas yang dapat diisi oleh perilaku agresif siswa.
Media Sosial dan Normalisasi Kekerasan
Media sosial turut berperan besar dalam mengikis wibawa guru. Konten-konten yang menampilkan konflik di sekolah kerap dikonsumsi tanpa konteks yang utuh, bahkan dijadikan hiburan.
Guru yang ditegur karena bersikap tegas bisa dengan mudah diviralkan dan dihakimi oleh publik, sementara siswa mendapat validasi dari sorotan media.
Normalisasi kekerasan melalui media sosial juga membuat empati terhadap guru menurun. Kekerasan verbal dianggap sebagai candaan, dan perlawanan terhadap guru dipersepsikan sebagai bentuk keberanian. Dalam jangka panjang, kondisi ini membentuk budaya permisif terhadap tindakan agresif di lingkungan sekolah.
Kebijakan Pendidikan dan Posisi Guru yang Rentan
Secara struktural, kebijakan pendidikan yang belum sepenuhnya melindungi guru turut memperparah situasi. Regulasi yang menekankan perlindungan anak sering kali tidak diimbangi dengan mekanisme perlindungan yang memadai bagi pendidik. Guru berada dalam posisi rentan, di mana satu kesalahan kecil dapat berujung pada sanksi sosial maupun hukum.
Kondisi ini mengakibatkan profesi guru kehilangan daya tawarnya. Ketika guru tidak merasa aman secara profesional, kualitas interaksi edukatif pun menurun.
Sekolah berpotensi berubah menjadi ruang formalitas semata, tanpa nilai-nilai disiplin dan penghormatan yang seharusnya menjadi fondasi pendidikan.
Dampak Jangka Panjang bagi Dunia Pendidikan
Tergerusnya otoritas guru tidak hanya berdampak pada individu pendidik, tetapi juga pada sistem pendidikan secara keseluruhan.
Siswa yang tumbuh tanpa batasan yang jelas berisiko mengalami kesulitan dalam memahami norma sosial dan otoritas di luar sekolah. Hal ini dapat memengaruhi perilaku mereka di masyarakat kelak.
Selain itu, budaya sekolah yang tidak kondusif akan menghambat proses belajar-mengajar. Guru yang merasa terancam cenderung kehilangan motivasi, sementara siswa belajar dalam suasana yang tidak sehat. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menurunkan kualitas pendidikan dan melemahkan peran sekolah sebagai institusi pembentuk karakter bangsa.
Tergerusnya otoritas guru dan meningkatnya kekerasan di sekolah merupakan persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Guru, orang tua, pembuat kebijakan, dan masyarakat perlu membangun kembali kepercayaan dan penghormatan terhadap peran pendidik.
Sekolah harus dikembalikan sebagai ruang aman yang menjunjung nilai disiplin, dialog, dan empati. Tanpa upaya kolektif, kekerasan akan terus mengintai, dan pendidikan kehilangan makna dasarnya sebagai proses memanusiakan manusia.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Pasar Modal Diguncang Mundurnya Pejabat OJK, IHSG Rawan Tekanan Jual
-
Drama OJK: Setelah Ketua dan Wakil Mundur, Siapa yang Ditunjuk Prabowo Jadi Pengganti?
-
Wamensos Agus Jabo Tekankan Adaptivitas Siswa Sekolah Rakyat Hadapi Perubahan Zaman
-
Profil Friderica Widyasari Dewi, Ketua OJK Baru dengan Latar Belakang Mentereng
-
Friderica Widyasari Dewi Ditunjuk Jadi Ketua OJK
Kolom
-
Guru di Ujung Laporan: Mengapa Mediasi Kini Kalah oleh Jalur Hukum?
-
Banjir yang Tak Pernah Usai: Kota, Beton, dan Kekalahan Berulang
-
Pemulihan Aceh Pascabencana: Ini Suara untuk Negara yang Lambat Bertindak!
-
Di Balik Persaingan Ketat dan Banyaknya Jalur Masuk ke Perguruan Tinggi
-
Ketika Berita Ramai Dibaca tapi Kehilangan Makna
Terkini
-
Pemeran Sophie Bridgerton Season 4 Ungkap Dirinya Cucu Aktris Ternama Korea
-
Radio Butut Tua
-
Dean James Dinilai Layak Gabung Ajax, Berpeluang Susul Maarten Paes?
-
5 Centimeters Per Second Live-Action: Kisah Penerimaan atas Kehilangan
-
Kenny Austin Lindungi Amanda Manopo dari Komentar Jahat: Don't Worry