Bimo Aria Fundrika | Davina Aulia
Ilustrasi sebuah paket (Unsplash.com/MealPro)
Davina Aulia

Aku terbiasa menuliskan alamat orang lain.

Tanganku luwes menyusuri kolom penerima. Nama lengkap, jalan, nomor rumah, kode pos. Seolah aku tahu betul ke mana sesuatu harus sampai.

Aku mengirim paket ulang tahun untuk teman, buku untuk rekan kerja, bahkan makanan kering untuk sepupu jauh. Semua terkirim dengan rapi. Tidak pernah salah alamat. Ada kepuasan kecil setiap kali menempelkan label dan menyerahkannya ke tangan petugas, seperti telah menyelesaikan satu tugas sederhana yang dunia minta dariku.

Masalah selalu muncul saat kolom pengirim.

“Alamat pengirim diisi, ya,” kata petugas, nada suaranya datar seperti kalimat yang sudah ia ulang ratusan kali hari itu.

Aku mengangguk, mengambil pulpen, lalu berhenti.

Ujung pena menggantung di udara. Kertas di depanku bersih, menunggu diisi. Dan entah sejak kapan, aku menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar menuliskan alamat rumahku sendiri. Selalu ada jeda kecil di momen itu, seolah pikiranku mencari jalan memutar sebelum kembali pada kenyataan.

Padahal aku hafal jalannya. Aku tahu belokan mana yang harus diambil dari jalan besar, tahu di mana warung yang buka sampai malam, tahu suara pagar rumah saat dibuka. Kakiku bisa pulang tanpa perlu diarahkan, bahkan saat pikiranku sedang lelah. Tapi saat harus merangkainya dalam baris-baris kata, alamat itu terasa asing. Seperti milik orang lain. Seperti sesuatu yang pernah kukenal, tapi tak lagi berani kusebut sebagai milikku.

Petugas itu menatapku sebentar, lalu kembali menunduk ke layar komputernya. Antrean di belakangku bergeser pelan. Ada suara langkah, helaan napas, dan gesekan tas yang saling bersentuhan. Aku bisa saja menuliskan alamat kos, seperti biasanya. Alamat sementara. Mudah. Aman. Tidak perlu berpikir panjang. Tidak perlu membuka lapisan-lapisan ingatan yang rapi kusimpan.

Namun hari itu, entah mengapa, tanganku tidak bergerak.

Aku teringat bagaimana sejak kecil aku selalu menyebut rumah dengan nada hati-hati. Seperti menyebut sesuatu yang rapuh. Aku pulang, tentu. Tinggal, tentu. Tapi tidak pernah sepenuhnya menetap. Selalu ada bagian diriku yang bersiaga untuk pergi. Menyusun alasan, menyiapkan jarak, mengemas diri agar tidak terlalu melekat.

Rumah, bagiku, bukan tempat kembali. Ia lebih sering menjadi tempat mengulang. Mengulang percakapan yang tak pernah selesai, perasaan yang dibiarkan, dan bagian diriku yang selalu terasa tertinggal di sana.

“Alamatnya yang sekarang saja, Mbak,” ujar petugas itu lagi, kali ini sedikit lebih sabar. “Ini alamat sementara atau alamat rumah?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi dadaku mendadak sesak.

Alamat sementara atau alamat rumah.

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Aku tidak tahu jawabannya.

Kos itu hanya ruang singgah. Aku tahu itu. Aku tidak pernah menggantung foto, tidak pernah menata ulang perabot.

Aku tinggal seperti tamu yang terlalu lama menumpang, menjaga barang-barang tetap mudah dikemas. Tapi rumah, tempat orang tuaku menunggu, juga tidak sepenuhnya terasa sebagai milikku. Di sana aku selalu merasa menjadi versi lama dari diriku. Versi yang belum selesai, yang mudah disalahpahami, yang harus berhati-hati dalam berbicara.

Aku berdiri di antara dua tempat, tanpa benar-benar menamai salah satunya.

“Tidak apa-apa,” kata petugas itu, mungkin melihat kebingunganku. “Pelan-pelan saja.”

Kalimat itu membuat sesuatu di dadaku runtuh. Bukan karena ia bijak. Tapi karena selama ini, tak banyak orang memberiku waktu untuk pelan-pelan. Dunia lebih sering menuntut keputusan cepat, jawaban pasti, alamat yang jelas.

Aku menunduk kembali, menatap kolom kosong itu. Kali ini, aku menuliskan satu kata.

Nama jalannya.

Tanganku sedikit gemetar, tapi tulisanku terbaca jelas. Setelah itu aku berhenti, menarik napas. Lalu menuliskan nomor rumah.

Aku berhenti lagi. Seperti setiap kata membutuhkan keberanian sendiri, seolah aku sedang mengakui sesuatu yang lama kutunda.

Dalam jeda-jeda itu, kenangan bermunculan. Suara pintu ditutup terlalu keras, percakapan yang tak selesai, diriku yang memilih diam agar tidak memperpanjang luka. Aku sadar, selama ini aku tidak pernah benar-benar menghindari rumah. Aku menghindari diriku sendiri di dalam rumah itu.

Alamat itu perlahan terisi. Baris demi baris. Satu kata setiap napas.

Saat aku menuliskan kode pos, dadaku terasa hangat. Seperti akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini hanya berani kupikirkan dalam diam.

Petugas itu mengambil kertas dariku dan memeriksanya sekilas. “Sudah,” katanya. “Paketnya akan dikirim hari ini.”

Aku mengangguk.

Paket itu bukan untukku. Tapi entah mengapa, rasanya seperti aku baru saja mengirim sesuatu pada diriku sendiri. Sebuah pengakuan kecil bahwa aku memang berasal dari suatu tempat, meski hubunganku dengannya tidak sederhana, meski tidak selalu ramah.

Aku melangkah keluar dari kantor pos. Matahari siang menyambut tanpa basa-basi. Aku berhenti sejenak, menghela napas panjang. Aku tahu, menuliskan alamat bukan berarti semua selesai. Aku mungkin masih akan pergi, masih akan ragu, masih akan ingin menjaga jarak.

Tapi hari itu, setidaknya, aku tidak menyangkal.

Rumah bukan selalu tempat yang aman. Namun untuk pertama kalinya, aku berani menuliskannya sebagai tempat aku berasal.