Ketika sedang scroll media sosial, aku menemukan satu postingan di threads yang berbicara seputar memasak dengan tungku kayu bakar. Suatu hal yang bikin aku bahagia karena tungku kayu masih bertahta di beberapa tempat, sekaligus sedih di pojokan karena susah sekali membeli kayu bakar saat ini.
Akun Threads Tentang Serunya Memasak di Tungku Kayu Bakar
Lewat postingan threads, akun @harizanooe tampak mengunggah foto proses memasak sayur di atas tungku kayu bakar. Dengan menyertakan caption: Ada yang kalau ke kampung selalu kangen masak pakai kayu bakar? Atau? Malah masih ada yang masak pakai kayu bakar sampai sekarang?
Kemudian, akun @indriani.arief turut memberikan komentar: Waah…jadi keinget masa kecil…paling demen mainan di tungku kayu bakar…bakar singkong atau ubi…masakan yang dimasak pakai tungku kayu rasanya beda. Ntah kenapa
Yang disahuti lagi oleh akun @harizanoor : Wah enak banget pasti rasanya. Apalagi kalo masak di tungku kayu bakar tuh sambil ngobrol2 sama keluarga. Tambah asyik
Memang Beda Ya Cita Rasanya?
Kalau boleh jujur, secara garis besar rasanya sama kok dengan masakan yang dimasak dengan gas atau kompor listrik. Yang membedakan adalah detil kecil yang susah juga untuk di deskripsikan. Apa ya, rasa masakan yang dimasak pakai tungku kayu bakar tuh punya cita rasa khas, smokey, sedap, mantap, dan mampu bikin lidah lebih nyaman.
Sedapnya tuh nyedap banget!
Barangkali sejajarlah dengan filosofi yang dianut masyarakat termasuk saya. Memasak di kompor gas memang efisien, dan hemat waktu, serta tinggal ceklek kompor sudah menyala. Sedangkan memakai tungku kayu, kita harus menggunakan ranting-ranting kecil sebagai urup-urup (penghidup api), baru disusul dengan kayu-kayu sedang hingga besar.
Kalau apes dapat kayu yang belum kering benar, yah ngebul lah itu dapur dengan asap pekat yang bikin bersimbah air mata, haha! Barangkali, karena kesusahan memasak itulah yang menambah daya syukur yang melebur ke dalam cita rasanya. Mungkin ya…
Momentum Kebersamaan Keluarga
Konsep memasak itu sama saja, baik di tungku kayu atau kompor gas. Intinya memasak bahan mentah menjadi makanan siap santap. Namun pada praktiknya, penggunaan tungku kayu justru sering meninggalkan kesan hangat yang nggak mudah pudar.
Kala ibu sibuk menggoreng apapun di wajan, atau mengaduk sayur lodeh di atas tungku, kadang anaknya yang memasukkan kayu baru ke mulut tungku api. Sambil bicara ngalor ngidul ngetan ngulon, atau bertanya apakah sudah memasukkan garam atau belum. Pada hari-hari dingin, kebiasaan api-api (menghangatkan diri) adalah hal lazim yang dilakukan di dekat tungku api.
Sambil menyelam minum air. Sambil masak, sekalian menghangatkan diri dan bercengkerama dengan keluarga.
Bahan Bakar yang Mulai Susah
Namanya juga tungku kayu, sudah pasti menggunakan kayu bakar atau emput (serbuk gergaji). Lantas, bagaimana kalau kayu nggak ada lagi?
Tempo hari ibuku sengaja memesan kayu bakar pada penjual kayu langganan. Sebulan berlalu, uang dp dikembalikan karena akhir-akhir ini nyaris nggak ada gudang kayu yang beroperasi. Di daerahku sendiri sejatinya ada 4 tempat penggergajian kayu bakar yang digunakan untuk membuat peti buah, atau peti wadah tomat. Namun, akibat bahan baku yang susah, satu persatu tumbang.
Si penjual kayu langganan kena getahnya, nah ibuku pun turut sedih karena tungku kayunya terancam nggak ngebul lagi. Meski ada kompor gas, nyatanya beliau sangat mencintai tungku kayu, dan jelaga yang mendiami dinding dapur.
Tapi, mau bagaimana lagi? Kenyataan bahwa bahan bakar kayu yang tentunya paling ramah lingkungan memang kini mulai langka. Atau memang jaman sudah berubah. Masyarakat memang dihimbau menggunakan gas elpiji yang tempo waktu juga pernah menjadi headline berita lantaran eksistensinya yang langka.
Gimana coba?
Baca Juga
-
Review 'Python Island': Ambisi Manusia, Kutukan Dewi Ular, dan CGI Kasar yang Bikin Tepok Jidat
-
Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam
-
Drama Perkara Busi: Jangan Suruh Orang Beli Suku Cadang Tanpa Catatan Spesifik!
-
Pesona Male Lead Tengil di Drama Undercover Affair, Sukses Bikin Penonton Salah Tingkah!
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
Artikel Terkait
-
Tak Penuhi Standar, Presiden Prabowo Tangguhkan 1.030 Dapur Makan Bergizi Gratis
-
5 Rekomendasi Bumbu Rendang Instan Terbaik, Masak Lebaran Jadi Sat-set!
-
208 SPPG di DIY Dihentikan Sementara, Bisa Operasi Lagi Setelah Penuhi Standar Sanitasi dan Mess Tim
-
Bom Waktu Selat Hormuz: Mengapa Dapur Orang Indonesia Ikut Terbakar?
-
Europe Enchanting Best Sellers 2026: Produk Kamar Mandi & Dapur yang Paling Banyak Dipilih
Kolom
-
Dari Halal ke Sehat: Standar Pangan Indonesia Sudah Sampai Mana?
-
Menggugat Misteri Fasilitas Mewah Lapas Cibinong, Penjara atau Tempat Pelesiran?
-
Gatekeeping: Menjaga Keunikan Diri atau Sekadar Pelit Informasi?
-
Lowongan Minta Paket Lengkap, Gaji Paket Hemat: Ada Apa dengan Pasar Kerja?
-
Katanya Swasembada Pangan, Mengapa Harga Bahan Pokok Kian Menjulang?
Terkini
-
The Revolt of Arabia: Mengenal Revolusi Arab dan Perubahan Kekuasaan di Hijaz
-
Semangat Muda: Ketika Tan Malaka Membaca Indonesia dari Pertarungan Kelas
-
Curah Hujan Tinggi tapi Kekeringan, Ahli UGM Ungkap Masalah Air Jawa Barat
-
5 Gaya OOTD Kasual ala Park Jinyoung GOT7, Kece untuk Daily Outfit!
-
Manga Manchuria Opium Squad Kembali Terbit, Tsurushima Jadi Ilustrator Baru