Artificial Intelligence atau AI semakin hari harus semakin menjadi perhatian yang serius. Pembatasan harus kita lakukan dalam hal penggunaannya. Semua itu bukan untuk pribadi, melainkan untuk kebaikan bersama, terutama penggunaan AI kepada anak-anak atau siswa-siswi. Tidak boleh sepenuhnya AI digunakan secara terus-menerus untuk menggantikan peran manusia. Kita harus bisa membatasi penggunaannya.
AI dinilai bisa menumpulkan daya pikir dan kreativitas, meningkatkan ketergantungan pada teknologi dan plagiarisme, hingga memengaruhi interaksi sosial anak di dunia nyata. Penggunaan AI yang makin masif juga meningkatkan kekhawatiran akan keamanan, keselamatan, dan kesetaraan anak, sama seperti dampak media sosial.
Dosen psikologi anak dan keluarga di Universitas Canterbury, Christchurch, Selandia Baru, Sarah Whitcombe-Dobbs, dalam tulisannya di The Conversation (13/03/2026), mengingatkan bahwa sama seperti semua mamalia, bayi manusia berkembang dalam kelompok sosial melalui relasi fisik yang erat dengan orang lain. Hal itu membuat relasi tatap muka tetap bernilai penting, sebagaimana dilansir dari Kompas (18/03/2026).
Dari kondisi tersebut, terutama orang tua yang memiliki anak wajib membatasi penggunaan AI. Orang tua harus selalu ada untuk merespons setiap kegiatan anak maupun proses belajar-mengajar.
Literasi adalah kemampuan individu dalam mengolah, memahami, dan menggunakan informasi secara kritis melalui aktivitas membaca, menulis, berbicara, serta berhitung. Oleh karena itu, literasi berbasis digital seperti pengenalan AI dan penggunaannya mesti diberikan kepada anak.
Orang tua dan guru harus mengajari, membimbing, dan mengarahkan anak mengenai kegunaan serta kelemahan dari AI. Anak-anak diasah untuk mengenal apa itu AI dan bahayanya. Hal seperti itu begitu penting agar anak tidak terjerembah dalam keburukan, bahkan kejahatan.
Misalnya di sekolah, jika guru menggunakan AI untuk proses belajar-mengajar jarak jauh, maka menjadi kewajiban untuk diterangkan kepada anak bahwa aplikasi maupun alat yang dipakai menggunakan AI. Sampaikan kepada siswa-siswi bahwa AI hanya digunakan sementara saja dan tidak setiap hari. Jelaskan pula bahwa agenda belajar-mengajar dengan bertatap muka akan selalu digunakan. Itu merupakan bentuk literasi kepada anak.
Literasi dapat meningkatkan kecerdasan, kecermatan, dan kemampuan anak dalam memahami lingkungan sekitarnya. Literasi bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anak akan ilmu pengetahuan yang menjadi bekal untuk sekolah dan ketika dewasa.
Literasi berbasis digital merupakan cara untuk memberikan pemahaman pada anak bahwa dunia digital saat ini semakin canggih sehingga penting untuk membatasi diri dan cerdas dalam menangkis setiap informasi yang beredar agar tidak terjebak dalam kebohongan dan kejahatan.
Literasi tidak bisa berjalan sendiri; harus ada pihak-pihak yang membantu untuk menyebarkan literasi digital tersebut agar menjadi titik awal dari pembatasan AI. Anak-anak sudah pantas dan layak dilindungi dari pengaruh buruk teknologi canggih. Pikirannya masih gampang terpapar, sehingga sedari dini kita perlu mulai mengasah cara berpikir, bertindak, serta emosional si anak.
Masa Depan yang Lebih Baik
Pada intinya, literasi digital tersebut adalah untuk masa depan anak yang lebih baik. Anak yang cerdas jangan sampai bergantung pada teknologi canggih. Teknologi seperti AI bukanlah segala-galanya, melainkan hanya sebagai alat bantu biasa.
Kreativitas pada anak harus terus ditumbuhkan dan dipacu. Bakat dalam dirinya dapat kita latih terus-menerus agar dengan bekal tersebut dapat meraih masa depan yang gemilang. Di sekolah maupun di rumah, si anak harus terus dilatih secara tatap muka untuk memahami karakter dan perilaku orang di sekitarnya.
Anak harus dapat membangun emosi, kompetensi, dan karakternya dengan berinteraksi secara langsung. Jika hanya mengandalkan teknologi, tentu saja kurang tepat. Anak harus bisa membaca karakter, gerak-gerik, dan penyampaian secara langsung dari guru maupun orang tua untuk menciptakan daya pikir serta pemahaman yang lebih baik dan cepat.
Kita tidak bisa bergantung pada AI untuk mencerdaskan anak bangsa. Oleh karenanya, kebijaksanaan sangat dibutuhkan untuk menempatkan diri: kapan harus menggunakan dan tidak menggunakan AI dalam aktivitas sehari-hari. Masa depan dapat diraih dengan ketekunan, kebijaksanaan, serta kematangan berpikir. Tidak ada sesuatu yang instan dapat diraih, apalagi hanya mengandalkan teknologi canggih semata.
Pikiran yang telah diberikan oleh Tuhan harus terus digunakan dan dilatih untuk mencapai sebuah kemanfaatan. Perlu ditanamkan kepada anak-anak bahwa AI hanya alat bantu dalam memudahkan pekerjaan pada kondisi darurat. Jika kita sudah mampu menggunakannya dengan baik, maka perlu ada pembatasan.
Ruang pengawasan terhadap anak untuk belajar lebih dalam mengenal AI penting untuk dilakukan agar tidak terjadi kebablasan. Kepentingan terbaik untuk anak adalah yang utama. Oleh sebab itu, kita harus mampu memberikan kesempatan untuk anak mengembangkan kepribadian, bakat, dan pikiran secara bebas tanpa harus bergantung pada kecanggihan teknologi tersebut. Semoga saja hal ini dapat memberikan manfaat.
Baca Juga
-
Pentingnya Sebuah Kesadaran: Menilik Teguran Kepada Konten Kreator di IKEA
-
Sisi Gelap Internet: Ketika Privasi Menjadi Ruang Nyaman bagi Para Predator
-
Pendidikan Gratis dan Perspektif Salah Soal Sekolah Gratis
-
Berjuang untuk Pendidikan Anak, Meski Tanpa Sekolah Gratis
-
Ketika Sekolah Gratis Hanya Wacana: Catatan Keprihatinan yang Belum Usai
Artikel Terkait
-
TikTok Perketat Keamanan Anak di Indonesia, Siap Patuhi PP Tunas 2026 dengan Teknologi AI Canggih
-
Teknologi AI Vision 2.0 dan Robot Rumah Tangga Jadi Tren di 2026, Smart Home Makin Canggih
-
Transformasi Digital di Rumah Sakit: Bagaimana AI dan Sistem Integrasi Digunakan untuk Pasien
-
Lenovo dan NVIDIA Percepat Era AI, Dari Inferensi Real-Time hingga AI Factory Skala Gigawatt
-
Singapura Siapkan SDM AI dan Data Center, Kolaborasi ITE dan BDx Buka Peluang Karier Masa Depan
Kolom
-
Film Sebagai Kritik Sosial: Membaca Patriarki di Perempuan Berkalung Sorban
-
Saat Kebenaran Dikalahkan Artikulasi: Luka Nalar dalam LCC 4 Pilar MPR RI
-
Maaf Saja Tak Cukup: Menuntut Restorasi Keadilan bagi 'Juara yang Terampas'
-
Menakar Filosofi Ki Hajar Dewantara di Era Kecerdasan Buatan, Masihkah Relevan?
-
Di Balik Modal Sarjana: Pendidikan Tinggi dan Racun Bernama Prestise Sosial
Terkini
-
Film Horor The Shrine Tayang 17 Juni, Kim Jae Joong Tampil Sebagai Dukun
-
Dari Budaya Pop ke Kesadaran Publik: Kuasa Media di Indonesia
-
Kang Mina Dilaporkan Gabung Live Action Solo Leveling, Ini Kata Agensi
-
Tayang 22 Juni, Drakor See You at Work Tomorrow Rilis Jajaran Pemain Utama
-
Admin Brand Gathering 2026: Kolaborasi UMKM di Dufan Jadi Energi Baru Industri Kreatif