Selama ini, konsep “sekufu” atau setara dalam nilai, latar belakang, dan cara pandang. Lebih sering dibicarakan dalam konteks mencari pasangan hidup. Banyak orang percaya bahwa hubungan yang sehat lahir dari keseimbangan: bobot, bibit, dan bebet yang sejalan.
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Prinsip yang sama sebenarnya juga berlaku dalam pertemanan.
Pertemanan yang sehat bukan sekadar soal lama kenal atau sering bertemu. Ia dibangun dari kesetaraan, bukan dalam arti harus sama persis, tetapi cukup seimbang dalam cara berpikir, empati, dan arah pertumbuhan hidup. Tanpa itu, hubungan pertemanan perlahan akan timpang, bahkan berpotensi retak.
Salah satu tanda ketidakseimbangan dalam pertemanan adalah munculnya rasa dengki. Ketika satu pihak mulai berkembang entah dalam karier, finansial, atau kehidupan pribadi, seharusnya yang muncul adalah dukungan, bukan rasa tersaingi.
Namun dalam kenyataan, tidak sedikit hubungan yang justru diuji di titik ini. Kesuksesan teman malah memicu rasa tidak nyaman, bahkan sindiran halus yang menyakitkan.
Contoh sederhana terlihat dari cara merespons cerita. Ketika seseorang sedang berada di titik rendah. Entah itu sedih, lelah, atau gagal dan ia membutuhkan ruang aman untuk didengar.
Jika respons yang datang justru meremehkan, seperti, “ya setidaknya kamu masih nangis di dalam mobil,”. Yang terjadi bukan empati, melainkan adu nasib.
Kalimat semacam ini terlihat ringan, tetapi menyimpan pesan yang tajam. Bahwa kesedihan seseorang tidak cukup valid karena dianggap masih “lebih beruntung.”
Di sinilah pentingnya kesetaraan dalam pertemanan. Bukan berarti semua orang harus berada di kondisi hidup yang sama, tetapi harus ada kemampuan untuk saling memahami tanpa menghakimi.
Ketika satu pihak terus merasa “lebih” atau “kurang”, hubungan itu akan kehilangan keseimbangannya. Yang satu merasa tidak dimengerti, yang lain mungkin merasa terbebani. Dan keduanya sama-sama menjauh secara emosional.
Pertemanan yang sehat seharusnya menjadi ruang bertumbuh bersama. Artinya, masing-masing individu berkembang, tetapi tetap saling menarik ke arah yang lebih baik. Ada ruang untuk saling mendukung, memberi masukan, bahkan mengkritik.
Dalam hubungan seperti ini, curhatan tetap terasa “nyambung” karena ada keselarasan perspektif.
Sebaliknya, jika jarak pertumbuhan terlalu jauh dan tidak diimbangi dengan kedewasaan emosional, percakapan pun menjadi tidak seimbang. Yang satu bicara dari pengalaman dan pemahaman tertentu, sementara yang lain tidak mampu atau tidak mau memahami. Akibatnya, komunikasi berubah menjadi ajang pembuktian atau bahkan kompetisi terselubung.
Lebih jauh lagi, pertemanan yang tidak setara juga bisa memunculkan kelelahan emosional. Seseorang mungkin terus memberi dukungan, tetapi tidak pernah mendapatkan hal yang sama.
Atau sebaliknya, selalu merasa tertinggal dan akhirnya menyimpan rasa iri. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak sehat bagi kedua belah pihak.
Karena itu, penting untuk menyadari bahwa memilih teman bukan soal eksklusivitas, tetapi soal kualitas hubungan. Tidak semua pertemanan harus dipertahankan jika ternyata hanya menyisakan rasa tidak nyaman. Kadang, menjaga jarak adalah bentuk kedewasaan. Bukan karena membenci, tetapi karena memahami bahwa tidak semua orang bisa berjalan di ritme yang sama.
Pada akhirnya, konsep sekufu mengajarkan kita tentang keseimbangan. Dalam hubungan apa pun, baik pasangan maupun pertemanan, kesetaraan menjadi fondasi penting agar hubungan bisa bertahan dan berkembang. Tanpa itu, yang tersisa hanyalah relasi yang rapuh, menunggu waktu untuk runtuh.
Apakah pertemanan yang kita jalani hari ini membuat kita tumbuh, atau justru diam di tempat, bahkan mundur perlahan?
Baca Juga
-
Hidup Bukan Konten: Stop Jadikan Media Sosial Penentu Standar Kebahagiaan!
-
Ketika Lapangan Kerja Formal Menyempit, Sektor Informal jadi Tumpuan Hidup
-
Membongkar Teka-Teki Sejarah dalam Madiun 1948: PKI Bergerak
-
MBG dan Hak Publik untuk Mengawasi Setiap Rupiah Uang Negara
-
Menelusuri Jejak Sejarah dan Kebudayaan Bondowoso dalam Sebuah Buku
Artikel Terkait
Kolom
-
Hidup Bukan Konten: Stop Jadikan Media Sosial Penentu Standar Kebahagiaan!
-
Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Masihkah Ia Seorang Pengkritik Kekuasaan?
-
Mati Mudanya Sebuah Tren: Ketika "Micro-Trends" Mengikis Identitas Diri
-
Seni Menghargai Ketenangan Diri, Lebih Berani Berkata Tidak pada Banyak Hal
-
Ketika Lapangan Kerja Formal Menyempit, Sektor Informal jadi Tumpuan Hidup
Terkini
-
Review Your Personal Taxi: Kisah Taksi Antik Penyembuh Luka Batin Penumpang
-
Susul BTS, Stray Kids Tak Kirim Karya Musik ke dalam Nominasi Grammy 2027
-
Ulasan Buku Look! A Bear!: Tentang Persahabatan yang Melampaui Perbedaan
-
Mencari Arti Kebebasan dan Cinta dalam Fish in the Water Karya Lee Chanhyuk
-
Ulasan Ibadah & Cinta: Sebuah Batas Tipis Antara Perasaan dan Kewajiban