Saat masih berkuliah, saya merasakan sendiri bahwa kebutuhan mahasiswa meningkat drastis saat memasuki semester akhir. Mulai dari mencetak tugas akhir, penelitian, seminar proposal, sidang skripsi, hingga wisuda. Belum lagi budaya yang menjadikan momen seminar proposal, sidang skripsi, dan wisuda sebagai ajang saling memberi hadiah antarteman. Artinya, semakin banyak teman, semakin banyak pula pengeluaran yang harus disiapkan.
Salah satu hal yang kini bisa saya sebut sebagai penyesalan selama masa kuliah adalah saya yang belum cukup baik dalam mengelola keuangan. Sebagai penerima beasiswa, saya memperoleh uang biaya hidup yang cair setiap semester. Namun, saat itu saya menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan sehari-hari tanpa banyak pertimbangan. Selama uang masih cukup hingga pencairan selanjutnya, saya merasa semuanya baik-baik saja.
Rasa aman itu muncul karena saya sangat jarang melakukan pengeluaran besar atau belanja berlebihan. Paling sering, saya mengeluarkan untuk membeli jajan. Nominalnya terlihat remeh dan membuat saya berpikir, “Nggak papa, cuma segini aja kok.” Namun tanpa saya sadari, justru pengeluaran kecil setiap hari yang saya anggap remeh itulah yang mendominasi catatan keuangan hingga jumlahnya jauh lebih besar dari pengeluaran lain.
Memasuki semester akhir, kesibukan mulai lebih longgar. Di sela-sela waktu itu, saya sempatkan untuk mengevaluasi catatan keuangan selama beberapa tahun belakangan. Hasilnya, persis seperti dugaan saya. Sebagian besar uang habis untuk jajan dan memenuhi kebutuhan perut.
Di sisi lain, kebutuhan sebagai mahasiswa akhir semakin besar. Sementara tabungan sudah sangat tipis. Akibatnya, saat uang beasiswa semester itu cair, saya mati-matian menahan diri agar tidak terlalu banyak jajan seperti semester sebelumnya. Hal ini bahkan sampai disadari oleh teman-teman sekamar di asrama. Mereka bilang saya menjadi lebih sulit diajak keluar. Sambil bercanda, saya mengatakan sedang tirakat. Padahal sebetulnya bukan orangnya yang tirakat, melainkan dompet dan rekeningnya.
Di titik itu, saya mulai menyadari bahwa masalahnya bukan terletak pada pengeluaran besar, tetapi kebiasaan kecil yang sebelumnya saya anggap sepele. Karena jumlahnya tidak besar, saya tidak pernah merasa perlu membatasi. Karena dianggap wajar, saya tidak pernah benar-benar menghitung. Padahal, justru kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang itulah yang membuat uang lebih cepat habis.
Kebiasaan finansial yang sering diremehkan justru memiliki dampak besar dalam jangka panjang. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati hal-hal kecil selama masa kuliah. Membeli camilan, memberi hadiah untuk teman, atau sesekali memberikan penghargaan untuk diri sendiri tentu bukan sesuatu yang salah. Namun jika tidak dibarengi dengan kesadaran finansial, kebiasaan tersebut bisa menjadi pengeluaran yang sulit dikendalikan.
Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagi saya. Mengelola keuangan ternyata bukan hanya tentang menahan diri dari pengeluaran besar, tetapi juga tentang lebih peka terhadap pengeluaran kecil yang terjadi setiap hari. Hal-hal yang terlihat sepele justru perlu diperhatikan, karena frekuensinya sering kali lebih tinggi. Tanpa pengelolaan yang baik, uang bisa habis bukan karena satu keputusan besar, melainkan karena banyak keputusan kecil yang dilakukan berulang.
Di titik saya menuliskan artikel ini, saya memahami bahwa menjaga kondisi finansial bukan berarti harus menghindari semua pengeluaran. Yang lebih penting adalah menyadari kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini dianggap wajar. Dari kesadaran itulah saya mulai mencari cara untuk memberi batasan yang lebih konkret dalam manajemen finansial.
Salah satu cara yang sekarang saya gunakan untuk memberikan batasan yang jelas dalam mengatur keuangan adalah dengan filosofi karet gelang yang pernah saya tuliskan di Yoursay juga sebelumnya. Singkatnya, cara ini dilakukan dengan membagi pemasukan ke dalam beberapa pos, seperti tabungan, dana darurat, dan kebutuhan sehari-hari, lalu mengikatnya sejak awal uang masuk.
Selain itu, saya juga tetap mencatat semua pemasukan dan pengeluaran, sekecil apa pun itu. Selama beberapa bulan menerapkan ini, saya bisa merasakan kondisi finansial jauh lebih terkontrol dari sebelumnya.
Baca Juga
-
Budaya Self-Reward: Bentuk Menghargai Diri atau Topeng Kebiasaan Konsumtif?
-
Setelah 10 Episode, Saya Baru Menangkap Detail Penting di The Scarecrow
-
Dia Tidak Turun dari Bus Itu, Lalu Kenapa Ada di Rumahku?
-
Dompet Menangis karena Geng Pertemanan? Budaya Konsumtif Kini Makin Ngeri
-
In This Economy, Apakah Nongkrong di Kafe Estetik Masih Worth It?
Artikel Terkait
-
Ruben Onsu dan Betrand Peto Bakal Pindah ke Belanda
-
3 Zodiak yang Diprediksi Banjir Rezeki Selama April 2026, Finansial Makin Moncer!
-
Dari Candaan Mahasiswa yang Saya Dengar ke Realita Negara yang Menyesakkan
-
Apakah SNBP Itu Beasiswa? Cek Penjelasan Lengkapnya Supaya Tidak Kaget
-
Dilema Generasi Muda Masa Kini: Antara Gaya Hidup dan Kecemasan Finansial
Kolom
-
Budaya Self-Reward: Bentuk Menghargai Diri atau Topeng Kebiasaan Konsumtif?
-
Konten Edukasi Semakin Banyak, tetapi Mengapa Polarisasi Tetap Tinggi?
-
Efek Doomscrolling: Kenapa Fokus Kita Kini Lebih Pendek dari Ikan Mas?
-
Fast Fashion dan Krisis Sampah: Bisakah Perempuan Jadi Agen Perubahan?
-
Aku Cinta Rupiah: Ketika Lagu Masa Kecil Bertemu Realitas Ekonomi Hari Ini
Terkini
-
Fenomena Earphone Kabel di Kalangan Gen Z, Fashion Statement ala Y2K?
-
4 Serum Heartleaf Solusi Atasi Jerawat dan PIH pada Kulit Berminyak
-
Moon Geun Young Berpotensi Comeback di Film Baru Sutradara Train to Busan
-
Bukan Sekadar Kamera Saku, Insta360 GO 3S Retro Kini Jadi Pelengkap Outfit!
-
Mobile Suit Gundam Hathaway: Sajikan Pertarungan Epik dan Visual yang Tajam