Sebagai generasi muda yang sedang menapaki usia dua puluhan, saya menyadari bahwa saya dan banyak teman sebaya tumbuh di tengah derasnya arus media sosial. Tanpa disadari, konten-konten yang kami lihat setiap hari perlahan membentuk standar tersendiri dalam kehidupan sosial.
Setiap hari, saya melihat berbagai konten yang menampilkan gaya hidup anak muda: bepergian ke luar kota, mencoba tempat baru, nongkrong di kafe estetik, hingga makan di restoran mahal. Semua terlihat menyenangkan, bahkan terasa seperti hal yang biasa.
Akan tetapi, di balik layar yang tampak indah itu, saya justru sering merasa ragu. Bukan karena tidak ingin mencoba hal yang sama, tetapi karena saya tahu setiap pengalaman tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Di titik itu, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu pikiran: bagaimana mereka bisa menjalani gaya hidup seperti itu seolah uang yang dimiliki tak ada habisnya? Dan apakah semua itu benar-benar sepadan?
Jujur saja, dalam kondisi finansial yang masih jauh dari kata stabil, gaya hidup seperti mereka terasa sulit dijangkau bagi saya. Bahkan di satu waktu, ketika teman mengajak bepergian ke luar kota untuk ziarah makam wali sekaligus melepas penat di akhir pekan, otak saya malah sibuk menghitung.
Alih-alih merasa senang dan menyusun rencana liburan, tangan saya malah otomatis membuka catatan keuangan. Saya memeriksa uang yang tersisa untuk bepergian—di luar uang dingin—lalu menghitung biaya yang dibutuhkan, memperkirakan sisa uang jika benar-benar berangkat, dan mempertimbangkan kebutuhan lain yang mungkin akan muncul sebelum gaji bulan berikutnya datang.
Bukan hanya tentang bepergian, ketika ingin membeli sesuatu pun, saya selalu merasa perlu untuk memikirkannya dengan matang, bahkan tak jarang berakhir dengan saya lupa pernah menginginkan hal tersebut.
Meskipun demikian, saya tidak akan menampik rasa ingin yang tentu masih ada. Merasakan pengalaman yang sama dengan teman-teman lain di luar sana, menikmati perjalanan singkat, dan menciptakan banyak momen yang mungkin akan menyenangkan untuk dikenang.
Namun, hati tak bisa berbohong. Ada kecemasan yang selalu muncul di saat-saat seperti itu. Berbagai pertanyaan mengerikan berputar di pikiran: bagaimana jika setelah itu ada kebutuhan mendadak? Bagaimana jika pengeluaran menjadi tidak terkontrol? Apakah ini benar-benar saya butuhkan? Akibatnya, keputusan yang seharusnya sederhana terasa jauh lebih rumit. Bahkan untuk mengeluarkan sedikit uang demi sekadar menikmati waktu santai, seringkali muncul rasa ragu karena berpikir bahwa pengeluaran harus ditekan.
Saya pernah mendengar pernyataan yang cukup relevan. Orang bilang bahwa anak muda belum memiliki banyak kebutuhan dan beban finansial sehingga masih bisa mengumpulkan banyak uang. Lalu mereka gunakan posisi orang-orang yang sudah menikah sebagai bahan perbandingan.
Ya, saya cukup setuju. Memang bisa dikatakan kebutuhan anak muda yang belum menikah belum sebanyak yang sudah menikah. Namun faktanya, standar hidup saat ini seolah menuntut anak-anak muda untuk memiliki banyak uang. Gaya hidup anak muda zaman sekarang pun sudah jauh berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya.
Hal ini kemudian membuat saya sadar bahwa kecemasan finansial ternyata bisa muncul sejak usia muda, bukan hanya pada pasangan suami istri ataupun sandwich generation yang harus menghidupi keluarganya. Bahkan ketika kebutuhan pokok sudah terpenuhi dengan baik, rasa khawatir masih tetap ada.
Meskipun baru berada di awal perjalanan menuju stabilitas finansial, saya seringkali merasa harus mempunyai tabungan dan dana darurat yang cukup. Seolah-olah, rasa aman akan keuangan di masa mendatang harus tercapai sebelum bisa menikmati hidup dengan leluasa.
Ditambah lagi, generasi muda saat ini harus menghadapi realitas yang berbeda. Biaya hidup terus meningkat, kebutuhan semakin beragam, sementara stabilitas pekerjaan tidak selalu pasti. Banyak anak muda yang sudah memikirkan tabungan, investasi, hingga rencana masa depan bahkan sebelum benar-benar mapan. Tidak sedikit pula yang merasa perlu membantu keluarga atau setidaknya tidak lagi bergantung pada orangtua. Semua itu membuat rasa aman secara finansial menjadi sesuatu yang ingin segera dicapai. Bahkan muncul ungkapan di media sosial bahwa generasi muda hari ini lebih takut miskin daripada tidak menikah seumur hidup.
Kondisi ini pada akhirnya menempatkan generasi muda pada dilema yang cukup rumit. Di satu sisi, ada keinginan untuk mencoba banyak hal dan menikmati pengalaman baru. Namun di sisi lain, ada dorongan kuat untuk lebih berhati-hati mengatur keuangan. Dua hal itu seringkali berbenturan hingga membuat setiap keputusan yang diambil terasa penuh pertimbangan, sekalipun untuk hal-hal yang sebenarnya sederhana.
Dilema antara gaya hidup dan kecemasan finansial ini mungkin akan terus ada. Namun, ada beberapa hal yang cukup saya sadari sekarang. Bijak dalam mengatur keuangan memang sangat penting, tetapi menikmati masa muda dan mengeksplorasi banyak hal juga tidak kalah penting. Kita memang tidak memiliki keharusan untuk mengikuti standar serta gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Namun, tidak seharusnya juga kecemasan akan finansial membuat kita sepenuhnya menutup diri dari pengalaman baru.
Menulis artikel ini, tentu saja tidak membuat saya berhenti menghitung dan cemas soal keuangan. Tetapi, saya selalu berusaha untuk menikmati hidup dengan cara yang lebih bijak dan realistis. Sesekali menikmati makanan mahal, nongkrong di kafe estetik, atau bepergian bukan masalah, selagi pengeluaran tetap terkontrol dan tidak melampaui batas.
Baca Juga
-
Review Queen Mantis: Dilema Moral di Balik Pemburu Pembunuh Berantai
-
Safari Syawal ke Puncak Kediri: Niatnya Cari View Estetik, Malah Ketemu Pemandangan Berkabut
-
Hunter with a Scalpel: Drama Thriller Underrated yang Brutal dan Intens
-
Standar Sosial dan Keterbatasan: Benarkah Uang Membatasi Cara Kita Bahagia?
-
Review Dear X: Senyum Manis Seorang Aktris dengan Sisi Gelap Mematikan
Artikel Terkait
Kolom
-
Santai Saja! Nilai Rupiah Menyentuh Rp17.000 per Dolar AS, Bukan Alasan untuk Panik
-
Kriminalisasi Kreativitas: Saat 'Editing' Video Dianggap Gratis oleh Jaksa
-
'Tamu Bulanan' Bukan Musuh: Saatnya Normalisasi Obrolan Menstruasi
-
Menelisik Broken Strings, Film Bermodalkan Sensasi dan Eksploitasi Doang?
-
Balik Kerja setelah Momen Liburan yang Hangat: Mood Hilang, Realita Datang
Terkini
-
Kim Yoon Hye Susul Jin Ki Joo, Akan Beradu Peran di Drakor Sleeping Doctor
-
Anxiety Tidak Berbahaya, Itu Tandanya Sistem Tubuhmu Sedang Update
-
3 Pilihan Body Mask Ekstrak Beras, Rahasia Kulit Auto Glowing dan Cerah!
-
Review Serial Virgin River Season 7: Sebuah Cerita Hangat nan Menegangkan
-
Suatu Pagi di Kampung Benteng