Hayuning Ratri Hapsari | Ukhro Wiyah
Ilustrasi selfie untuk postingan media sosial (magnific.com/stockking)
Ukhro Wiyah

Sobat Yoursay, siapa di antara kita yang saat ini hidup tanpa media sosial sama sekali?

Saya rasa hampir semua orang yang ada di dunia ini memiliki setidaknya satu akun di media sosial. Kita hidup di era ketika teknologi seolah membuat semua hal terasa mudah, termasuk dalam berinteraksi dengan orang lain. Keberadaan media sosial membuat kita bisa melihat kehidupan orang lain dengan mudah. Kita pun bisa membagikan berbagai momen yang terjadi dalam hidup kita dalam beberapa detik saja.

Cepat dan mudah. Begitulah semua itu terlihat. Namun, di saat yang sama, media sosial membuat orang semakin mudah memamerkan kesuksesannya. Jika yang ditunjukkan adalah prestasi demi membangun personal branding dan memperluas peluang karier, rasanya masih wajar. Tetapi, kadang ada orang-orang yang memamerkan kekayaan hanya demi validasi semata.

Saat scrolling, kita tentu menemui banyak konten, seperti: unboxing gadget terbaru, liburan ke luar negeri, staycation di hotel atau villa mewah, mobil baru, saldo rekening, dan lain sebagainya. Flexing kini bukan lagi hal yang dilakukan oleh selebritas atau orang kaya saja, media sosial membuat siapa pun bisa membagikan versi-versi terbaik kehidupannya. Seolah budaya tersebut sudah dinormalisasi dan dianggap wajar.

Namun, Sobat Yoursay, yang menjadi masalahnya bukan sekadar orang-orang yang gemar melakukan flexing di media sosial, tetapi juga pengaruh yang mereka berikan pada para penonton konten mereka. Kita tidak pernah benar-benar tahu, di luar sana mungkin ada orang yang menjadikan itu sebagai standar hingga memaksakan dirinya tampil seperti “orang kaya” di tengah kondisi ekonominya yang tidak menentu.

Di titik ini, muncul pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: apakah kita benar-benar takut miskin, atau sebenarnya lebih takut terlihat tidak sukses di mata orang lain?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita memang tak bisa menampik bahwa tanpa disadari media sosial mengubah cara kita mengukur kesuksesan. Jika dulu perbandingan sosial hanya terbatas pada keluarga, teman sekolah, atau rekan kerja, hari ini dalam hitungan menit saja kita bisa mengonsumsi berbagai konten yang sarat dengan unsur flexing.

Tanpa disadari, media sosial membuat standar kesuksesan terasa terus bergerak semakin jauh. Pencapaian demi pencapaian orang lain yang kita lihat setiap hari, kadang tanpa sadar membuat kita merasa tertinggal. Dan hidup seolah menjadi ajang perlombaan yang tak pernah selesai.

Kembali pada pertanyaan yang sempat saya singgung sebelumnya: takut miskin atau takut tak terlihat sukses?

Di sini, saya rasa kita perlu melihat keduanya sebagai hal yang berbeda. Takut miskin merupakan ketakutan yang wajar dan dirasakan hampir oleh semua orang. Yang mana hal ini berkaitan dengan kebutuhan hidup, keamanan finansial, dan masa depan seseorang. Namun, takut terlihat tidak sukses lebih erat kaitannya dengan persepsi sosial. Ketika yang menjadi kekhawatiran bukan lagi tentang kondisi finansial, melainkan tentang pandangan orang lain terhadapnya.

Realitanya, kini tidak sedikit orang yang mungkin masih mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik, tetapi tetap merasa tertinggal saat melihat standar yang ada di media sosial. Akibatnya di antara mereka ada yang membeli sesuatu demi gengsi, upgrade gadget yang sebenarnya masih layak pakai, hingga memaksakan dirinya untuk terus mengikuti tren karena takut dianggap ketinggalan. Yang artinya tidak semua keputusan konsumtif lahir dari kebutuhan, tetapi sebagian lainnya lahir dari keinginan untuk mempertahankan citra tertentu di hadapan orang lain.

Dan hari ini, media sosial seolah perlahan membuat kita menormalisasi fenomena tersebut. Media sosial bukan hanya membuat orang mudah memamerkan kesuksesan, tetapi juga membuat orang lain merasa perlu mengejar kesuksesan yang sama. Padahal di saat yang sama, yang kita lihat di sana hanyalah hasil dari proses yang dilalui oleh orang lain. Kita tidak bisa melihat seperti apa kehidupan mereka di balik layar.

Meskipun demikian, tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras atau membagikan kebahagiaan di media sosial. Namun, ketika keinginan untuk terlihat sukses mulai lebih besar daripada kemampuan untuk hidup sesuai kondisi keuangan, mungkin saat itulah kita perlu bertanya kembali pada diri sendiri. Apakah yang sebenarnya kita takutkan adalah kemiskinan, atau hanya ketakutan bahwa orang lain akan melihat kita sebagai seseorang yang belum cukup berhasil?

Sebab di era media sosial, kesuksesan memang terasa mudah dipamerkan dan sering kali membuat orang yang melihatnya merasa silau. Namun pada akhirnya, kondisi keuangan yang sehat tidak selalu tampak di layar, dan nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa mewah hidup yang berhasil ia tampilkan kepada orang lain.