Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Ilustrasi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah (Unsplash/Ayudia Fatma)
Fauzah Hs

Bicara soal sekolah negeri di Indonesia, narasi yang selalu diglorifikasi adalah "gratis". Tapi, coba deh kita geser sedikit pandangan kita dari ruang kelas ke lapangan sekolah atau ruang-ruang latihan setelah jam pelajaran usai. Di sana, kita akan menemukan sebuah dunia bernama ekstrakurikuler alias ekskul. Katanya, ini adalah tempat untuk menyalurkan bakat, mengasah soft skill, dan membangun karakter. Namun, kenyataannya, ekskul sering kali menjadi "pagar" pertama yang memisahkan siswa bukan berdasarkan bakat, melainkan berdasarkan isi dompet orang tuanya.

Aku sempat mengamati fenomena ini di beberapa SMA di kotaku. Sekolahnya memang negeri, gedung megah, dan SPP sudah pasti nol rupiah. Tapi begitu masuk ke urusan ekskul, label gratis itu seolah mendadak lenyap ditelan bumi. Ada sebuah kasta yang tidak tertulis di sana. Di puncak piramida, ada ekskul "elit" seperti marching band, basket, atau robotik. Ekskul-ekskul ini punya pesona yang luar biasa, seragamnya keren, sering ikut kompetisi bergengsi, dan prestisenya selangit. Tapi, price tag yang menempel di baliknya benar-benar bisa bikin mata orang tua menengah ke bawah langsung berkunang-kunang.

Mari kita ambil contoh marching band. Sobat Yoursay, seragam mereka itu biasanya lebih niat daripada baju lebaran kita selama tiga tahun terakhir. Belum lagi urusan alat. Meskipun sekolah menyediakan beberapa, sering kali ada iuran bulanan yang jumlahnya cukup buat bayar cicilan barang elektronik demi operasional, pelatih profesional, hingga biaya lomba ke luar kota. Begitu juga dengan basket. Sepatu branded terbaru seolah jadi seragam wajib kalau nggak mau dianggap "salah kostum" di lapangan. Kalau kamu pengen masuk robotik? Siapkan mental dan dana ekstra untuk membeli kit sensor atau komponen yang harganya bisa setara dengan jatah makan siang sebulan.

Di sisi lain, ada kelompok siswa yang akhirnya "terbuang" ke ekskul yang lebih ramah di kantong, atau yang sering dianggap "ekskul hemat". Bukan karena mereka nggak punya bakat melempar bola basket atau nggak paham logika pemrograman, tapi karena realitas finansial memaksa mereka untuk tahu diri. Akhirnya, banyak talenta yang terkubur hanya karena mereka nggak sanggup membayar "tiket masuk" untuk mengembangkan bakatnya.

Ini kan sarkas banget, sekolah negeri yang seharusnya jadi equalizer alias penyamaratakan kelas sosial, justru membiarkan ekskulnya jadi ajang pamer privilege dan kekayaan.

Sobat Yoursay, ini adalah masalah yang jarang dibahas dalam statistik pendidikan kita. Seorang siswa yang sangat berbakat di bidang musik harus mengubur impiannya bergabung di orkestra sekolah hanya karena iuran sewanya mahal, lalu akhirnya memilih ekskul lain yang "yang penting ikut". Dampaknya? Ada rasa minder yang terpupuk sejak dini. Pendidikan karakter yang katanya ingin membangun rasa percaya diri malah berubah jadi ajang verifikasi status ekonomi.

Harapannya, sekolah negeri harus punya kebijakan subsidi silang yang benar-benar transparan atau minimal menyediakan inventaris alat yang layak untuk semua siswa tanpa embel-embel iuran tambahan yang mencekik. Dana BOS seharusnya bisa dialokasikan lebih bijak untuk mendukung operasional ekskul agar nggak semua beban dilemparkan ke orang tua siswa.

Masa depan pendidikan Indonesia seharusnya tidak lagi menciptakan sekat antara si kaya yang bisa ikut ekskul keren dan si miskin yang harus puas dengan ekskul seadanya. Sudah saatnya sekolah negeri benar-benar jadi jembatan bagi semua kalangan untuk bersinar. Gimana menurut kalian, Sobat Yoursay? Apakah di sekolah kalian juga ada ekskul yang "dompet-friendly" atau malah banyak yang punya biaya tersembunyi kayak gini? Yuk, jangan cuma diam, karena bakatmu nggak seharusnya mati cuma gara-gara perkara angka di rekening!