Diterima kuliah melalui jalur prestasi seharusnya menjadi kabar yang membanggakan dan membahagiakan. Bagi banyak orang, prestasi sering dipandang sebagai tiket emas menuju masa depan yang lebih baik. Ia dianggap mampu membuka jalan, meringankan langkah, bahkan menjadi solusi atas keterbatasan ekonomi yang selama ini menghambat pendidikan seseorang.
Padahal, realitanya tidak selalu demikian. Baru-baru ini, publik menaruh perhatian pada kisah seorang atlet kriket asal Kabupaten Kediri bernama Tsany Zahratussita.
Berkat medali yang ia peroleh di ajang olahraga di tingkat provinsi hingga nasional, gadis 18 tahun tersebut berhasil diterima di salah satu perguruan tinggi negeri melalui jalur prestasi.
Akan tetapi, di balik kabar membanggakan itu, Tsany masih harus berjuang demi bisa bertahan di bangu perkuliahan. Setelah sang ayah meninggal dunia, ia berjualan bunga mawar hasil budidaya keluarga untuk membantu biaya hidup sekaligus mempersiapkan biaya kuliah sembari merawat ibunya yang mengidap tumor otak.
Sementara itu, beasiswa dari kampus Tsany hanya diberikan pada dua semester awal. Semester-semester berikutnya, tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Kisah di atas menunjukkan bahwa prestasi mungkin memang bisa membuka pintu pendidikan, tetapi tidak selalu membuat jalan di dalamnya menjadi lebih ringan. Ibarat kata, prestasi hanyalah gerbang masuk, sementara untuk melangkah ke garis akhir, seseorang masih tetap harus berjuang sekuat tenaga.
Selama ini, banyak orang memandang prestasi sebagai jawaban atas keterbatasan ekonomi dalam pendidikan. Anak-anak didorong untuk belajar lebih giat, mengikuti perlombaan, mengumpulkan sertifikat, dan berusaha menjadi yang terbaik dengan keyakinan bahwa semua itu akan mempermudah langkah menuju bangku kuliah.
Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa ketika seorang siswa berhasil lolos melalui jalur prestasi atau memperoleh beasiswa, maka persoalan pendidikannya sudah selesai.
Padahal, kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks. Biaya pendidikan tidak hanya berhenti pada uang kuliah tunggal. Ada kebutuhan transportasi, tempat tinggal jika rumah orang tua jauh dari kampus, makan sehari-hari, buku dan perlengkapan kuliah, biaya organisasi atau praktikum, hingga pengeluaran tak terduga lainnya yang terus berjalan.
Belum lagi bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi rentan, sering kali masih ada tuntutan untuk membantu kebutuhan rumah atau setidaknya tidak menambah beban orang tua.
Dalam situasi seperti ini, label “mahasiswa berprestasi” tidak selalu berjalan beriringan dengan rasa aman. Di balik piagam, medali, atau sertifikat yang tampak membanggakan, ada kekhawatiran yang diam-diam terus tumbuh: apakah pendidikan ini benar-benar bisa dijalani sampai selesai?
Banyak mahasiswa akhirnya dipaksa hidup dengan perhitungan yang sangat ketat. Menahan keinginan pribadi, menekan pengeluaran seminimal mungkin, mencari pekerjaan sampingan, atau mengandalkan beasiswa sembari berharap tidak ada kebutuhan mendesak yang datang tiba-tiba. Apa yang dari luar tampak sebagai keberhasilan, sering kali di dalamnya hanyalah perjuangan panjang untuk tetap bertahan.
Inilah yang sering luput dari pembicaraan kita tentang pentingnya prestasi. Kita terlalu sering merayakan keberhasilan seseorang saat ia berhasil diterima di perguruan tinggi, tetapi jarang bertanya bagaimana ia akan melanjutkan perjalanan setelah itu. Seolah-olah pintu yang sudah terbuka otomatis menjamin jalan di depannya akan mudah dilalui.
Padahal, bagi banyak anak dari keluarga sederhana, justru setelah diterima kuliah perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Mereka tidak hanya dituntut untuk mempertahankan nilai akademik, tetapi juga bertahan menghadapi tekanan finansial yang terus mengikuti.
Karena itu, ketika melihat siswa atau mahasiswa berprestasi, mungkin kita tidak cukup hanya memberikan tepuk tangan dan ucapan selamat. Ada realitas yang perlu disadari bersama bahwa prestasi memang penting, tetapi ia tidak selalu mampu menghapus seluruh hambatan ekonomi yang mengiringi perjalanan pendidikan.
Prestasi memang dapat membuka kesempatan. Namun, tanpa dukungan yang berkelanjutan, kesempatan itu belum tentu menjelma menjadi perjalanan yang benar-benar lebih mudah.
Baca Juga
-
Mengupas Lirik Jiwa yang Bersedih: Pelukan Hangat untuk Jiwa yang Lelah
-
Taman Ngronggo Kediri: Ruang Singgah untuk Tertawa dan Menenangkan Diri
-
Review The Art of Sarah: Saat Kemewahan Jadi Topeng yang Menutup Kepalsuan
-
Mahalnya Harga Pendidikan: Ketika Pengorbanan Menjadi Satu-satunya Jalan
-
Di Balik Sekolah yang Katanya Gratis, Ada Harga yang Tak Pernah Terlihat
Artikel Terkait
Kolom
-
Wacana Tutup Prodi: Solusi Relevansi atau Kedok Kegagalan Negara?
-
Bertahan di Tengah Keterbatasan: Strategi Sunyi Anak Pejuang Pendidikan
-
Tragedi Bekasi: Saat Nyawa Penumpang Kereta Dipertaruhkan di Atas Rel
-
Berhenti Menyalahkan Ibu: Tragedi Daycare Bukan Salah Mereka, Tapi Kegagalan Sistem!
-
Di Balik Sekolah Gratis: Ada 'Hidden Cost' yang Luput dari Jangkauan Hukum
Terkini
-
Selamat! Ningning aespa Terpilih Jadi Global Brand Ambassador Terbaru Gucci
-
Rayakan 10 Tahun Solo, Tiffany Young Rilis Lagu Baru Summer's Not Over
-
Bikin Glowing! 5 Tone Up Cream Vitamin C untuk Mencerahkan Kulit
-
Masih Adakah Ruang bagi Sasa? Menggugat Stigma Waria dalam Pasung Jiwa
-
Kang Dong Won Berpeluang Bintangi Film Sejarah Baru The Extermination