Kolom

Meromantisasi Sabar Tanpa Batas Adalah Cara Halus Membuat Ibu Depresi

Meromantisasi Sabar Tanpa Batas Adalah Cara Halus Membuat Ibu Depresi
Ilustrasi ibu penyabar (pexels/Yan Krukau)

Sore tadi, di tengah usaha saya merampungkan cucian piring yang menumpuk, sebuah drama domestik klasik terjadi di ruang tengah. Anak saya yang berusia empat tahun mendadak menangis histeris, bergulingan di lantai, hanya karena warna sedotan yang saya berikan tidak sesuai dengan imajinasinya saat itu.

Mengingat wejangan dari sebuah video gentle parenting yang berdurasi satu menit di TikTok yang saya tonton semalam, saya langsung menarik napas dalam-dalam. Sembari berlutut agar sejajar dengan matanya, saya mencoba mengatur nada suara selembut mungkin, "Ibu tahu kamu kecewa nak, emosimu valid..."

Namun, alih-alih mereda, tangisannya justru makin melengking tinggi, sementara dada saya sudah terasa sesak menahan amarah yang siap meledak. Di titik itulah saya tersadar, tren pola asuh modern ini sering kali terasa indah di layar gawai, namun berdarah-darah saat dieksekusi di dunia nyata.

Jika melihat fenomena ini dari sudut pandang sosiologi keluarga, gentle parenting kini bukan lagi sekadar metode alternatif, melainkan sudah menjelma menjadi sebuah standar moral baru yang sangat menghakimi.

Media sosial sukses mengemas metode ini dengan sangat estetik: ibu yang selalu tenang dengan pakaian rapi, rumah yang minimalis, dan anak yang langsung paham saat dinasihati dengan suara berbisik.

Format ideal yang artifisial ini secara tidak sadar melahirkan sebuah monster baru bernama mom guilt—rasa bersalah yang akut di dalam diri seorang ibu. Sekali saja seorang ibu refleks meninggikan nada suara karena kelelahan, ia akan langsung merasa telah gagal total dan merusak masa depan psikologis anaknya sendiri.

Jika dibedah secara logis, celah terbesar dari penerapan gentle parenting di Indonesia adalah pengabaian terhadap realitas support system yang dimiliki oleh setiap ibu.

Teori-teori barat yang diadopsi secara mentah-mentah tersebut sering kali mengasumsikan bahwa sang ibu berada dalam kondisi mental yang stabil, memiliki waktu luang yang cukup, dan dibantu oleh lingkungan yang suportif.

Padahal, kenyataannya, mayoritas ibu di kelas menengah ke bawah harus memikirkan urusan domestik sendirian dari subuh hingga malam, memutar otak mengatur uang belanja yang makin menipis, bahkan tidak sedikit yang harus sembari bekerja. Menuntut seorang ibu untuk selalu waras dan lembut 24 jam sehari tanpa memberikan mereka ruang untuk beristirahat adalah sebuah bentuk kekejaman berpikir.

Dari sudut pandang saya, posisi saya dalam isu ini sangat jelas, kita harus berani memisahkan antara idealisme pengasuhan yang sehat dan utopia media sosial yang manipulatif.

Anak-anak memang membutuhkan kasih sayang dan validasi emosi, tetapi mereka juga perlu melihat bahwa ibu mereka adalah manusia biasa yang memiliki batas lelah, bisa merasa sedih, dan boleh merasa kesal.

Memaksakan diri menjadi "ibu sempurna" yang tidak pernah marah justru akan melahirkan bom waktu emosional yang jauh lebih berbahaya bagi kesehatan mental keluarga. Kita menjadi generasi ibu yang paling berpendidikan dalam sejarah pola asuh, namun ironisnya, kita juga menjadi generasi ibu yang paling cemas dan paling mudah merasa gagal.

Gelombang tren gentle parenting ini menyisakan sebuah refleksi penting yang patut kita renungkan bersama tanpa perlu merasa tersinggung. Apakah kita benar-benar sedang menerapkan pola asuh yang bijaksana untuk anak, atau kita sebenarnya hanya sedang ketakutan setengah mati terhadap penilaian orang lain di ruang digital?

Menjadi ibu adalah sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan ruang belajar yang tidak sempurna, bukan sebuah panggung teater tempat kita harus selalu berakting tenang demi mendapatkan takjub dari netizen.

Mungkin, sebelum kita kembali menelan mentah-mentah tips pengasuhan dari video pendek malam ini, ada baiknya kita berdamai dengan diri sendiri: anak kita tidak membutuhkan ibu yang sempurna seperti di media sosial, mereka hanya membutuhkan ibu yang bahagia dan selesai dengan dirinya sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda