Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, kabar tentang seseorang yang mendapat jabatan strategis di usia muda selalu menarik perhatian publik.
Bukannya iri melihat anak muda sukses, tapi karena murni penasaran, apa yang membuat seseorang dianggap layak menduduki posisi penting tersebut?
Perasaan itulah yang muncul di benak masyarakat terkait penunjukan Ginka Febriyanti Br Ginting sebagai komisaris di salah satu anak perusahaan BUMN.
Sorotan publik bukan semata-mata tertuju pada usianya yang masih muda, tetapi juga latar belakang dan rekam jejak yang dinilai belum cukup meyakinkan untuk menduduki posisi strategis tersebut.
Di media sosial, diskusi pun berkembang ke arah yang lebih luas. Banyak netizen menganggap bahwa koneksi dan loyalitas sering kali memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding kompetensi.
Benar atau tidaknya anggapan tersebut, persepsi semacam ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap sistem meritokrasi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Sulitnya Mencari Kerja bagi Rakyat Biasa
Bagi banyak orang, mendapatkan pekerjaan bukanlah perkara mudah. Seseorang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hanya untuk mencari posisi yang sesuai.
Mereka harus menyiapkan CV terbaik, mengikuti tes administrasi, tes kemampuan, psikotes, wawancara berlapis, hingga bersaing dengan ratusan atau bahkan ribuan pelamar lainnya.
Tidak sedikit pula perusahaan yang menetapkan syarat yang cukup berat. Fresh graduate diminta memiliki pengalaman kerja. Pelamar yang sudah berusia tertentu dianggap kurang kompetitif. Ada pula yang diwajibkan memiliki sertifikasi khusus, kemampuan bahasa asing, hingga pengalaman memimpin tim selama beberapa tahun.
Ironisnya, semua persyaratan tersebut sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Masyarakat diminta menerima bahwa dunia kerja memang kompetitif dan setiap orang harus membuktikan kualitasnya sebelum dipercaya menduduki suatu posisi.
Tidak heran jika masyarakat merasa janggal ketika melihat seseorang dapat menduduki jabatan strategis tanpa rekam jejak yang dianggap sebanding dengan tanggung jawab yang akan diemban.
Ketika Loyalitas Lebih Dihargai daripada Kompetensi
Salah satu hal yang paling sering memicu kritik adalah munculnya kesan bahwa loyalitas lebih dihargai daripada kompetensi.
Dalam banyak kasus, kedekatan dengan tokoh politik, kelompok tertentu, atau lingkaran kekuasaan sering dianggap mampu membuka peluang yang sulit diakses oleh orang lain.
Padahal, kompetensi adalah sesuatu yang dibangun melalui proses panjang. Seseorang harus belajar, bekerja, menghadapi kegagalan, dan mengumpulkan pengalaman selama bertahun-tahun. Semua itu dilakukan agar suatu hari ia dianggap layak menduduki posisi yang lebih tinggi.
Ketika masyarakat melihat ada orang yang seolah bisa melewati proses tersebut dengan lebih mudah, kepercayaan terhadap sistem meritokrasi mulai terkikis.
Tentu tidak semua orang yang memiliki kedekatan dengan penguasa pasti tidak kompeten. Namun, ketika proses pengangkatan tidak dijelaskan secara terbuka dan indikator kelayakannya tidak terlihat jelas, wajar jika publik memperdebatkannya.
Anak Muda Layak Mendapat Kesempatan, Tapi Caranya Harus Benar
Menjadi komisaris di usia muda tentu bukan sesuatu yang salah. Bahkan, banyak perusahaan di berbagai negara mulai memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengambil peran strategis karena mereka membawa perspektif baru dan kemampuan beradaptasi yang tinggi.
Akan tetapi, perlu dipastikan bahwa prosesnya berjalan secara adil dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Jika seseorang memang memiliki kapasitas yang memadai, rekam jejak yang kuat, dan lolos melalui mekanisme yang transparan, maka usia muda justru menjadi nilai tambah yang patut diapresiasi.
Sebaliknya, jika masyarakat terus melihat adanya pola bahwa koneksi dan loyalitas lebih mudah mengantarkan seseorang ke kursi jabatan dibanding kompetensi, maka kepercayaan terhadap sistem akan semakin menurun.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh institusi terkait, tetapi juga oleh generasi muda yang sedang berjuang membangun masa depan mereka.
Lagi-lagi, masyarakat tidak menuntut semua orang memulai dari titik yang sama. Mereka hanya ingin aturan main yang sama. Sebab, ketika koneksi menjadi jalan tol untuk menduduki posisi strategis, sulit rasanya meyakinkan diri bahwa meritokrasi masih benar-benar hidup.
Baca Juga
-
Ironi Restoran Self-Service: Mau Praktisnya, Enggan Tanggung Jawabnya
-
Bukan Drama Chaebol Biasa: Mengapa Cinderella at 2 AM Layak Masuk Watchlist Kamu
-
Ulasan Law and The City: Drama Hukum dengan Nuansa Healing yang Hangat
-
Sesi Sambutan di Acara Resmi, Warisan Feodal yang Dianggap Normal
-
Ulasan The Winning Try: Kisah Tim Rugby Buangan yang Layak Diperjuangkan
Artikel Terkait
Kolom
-
Pria Jepang Jadi 'Pahlawan' di Stadion, Tapi 'Beban' di Rumah Tangga
-
Ironi Restoran Self-Service: Mau Praktisnya, Enggan Tanggung Jawabnya
-
Paylater dan Pinjol: Ketika Kemudahan Berubah Menjadi Ketergantungan
-
Cup Plastik di Meja Anda: Boleh Ditinggal atau Harus Dibuang Sendiri?
-
PLN Bilang Tarif Listrik Tak Naik, Lalu Kenapa Tagihan Kita Meledak?
Terkini
-
Stray Kids Wujudkan Semangat dan Ambisi untuk Terus Maju Lewat Lagu Run It
-
Kepergok Makan Sundae Bareng, Gong Myung Ungkap Reaksi Kocak Han Hyo Joo Soal Rumor Kencan
-
Drama China Derailment: Penuh Plot Twist Mind Blowing atau Cuma Menjual Visual?
-
Begadang Nonton Bola? Ini 5 Trik Biar Gak Kelihatan Zombie di Kantor
-
MotoGP Belanda 2026: Marc Marquez Incar Hattrick, Pecco Punya Misi Terakhir