Pernahkah Anda melihat dokumentasi kegiatan kepolisian di media sosial yang terasa terlalu di-set untuk kebutuhan konten? Kita semua sering melihatnya. Namun, sebuah pemandangan berbeda terekam di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Demangan, Yogyakarta, baru-baru ini. Dalam acara Gebyar Lansia 2026, tampak seorang petugas Bhabinkamtibmas larut dalam tawa bersama para simbah yang sedang senam dan rukun bercengkerama.
Bagi mata yang sinis, itu mungkin dianggap sekadar jepretan humas demi menaikkan citra instansi. Namun, jika kita membedahnya lebih dalam, jepretan itu menangkap sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah strategi keamanan wilayah yang sangat cerdas, berbasis investasi kultural.
Jangkar Moral di Balik Tawa para Simbah
Mengapa mendekati lansia menjadi sangat krusial dalam peta keamanan modern? Mari kita tengok lanskap sosiologis masyarakat kita, khususnya di Yogyakarta yang masih kental dengan struktur paternalistik. Di perkampungan kota maupun desa, figur senior—para sesepuh dan pinisepuh—bukan sekadar warga senior yang pasif. Mereka adalah jangkar moral dan penjaga denyut nadi sosial di lingkungannya.
Coba renungkan, kepada siapa anak-anak muda atau para ketua RT meminta nasihat saat ada konflik antarwarga? Ke mana arah kompas kepatuhan sosial sebuah kampung bermuara? Jawabannya hampir selalu: kata para orang tua.
Ketika seorang Bhabinkamtibmas berhasil merebut hati, empati, dan kepercayaan para lansia ini, ia sebenarnya sedang mengunci simpul keamanan paling dasar di wilayah tersebut. Polisi tidak hanya memenangkan hati individu, tetapi sedang memenangkan legitimasi seluruh kampung lewat restu para sesepuh.
Kritik atas Obsesi Hard Power dan Patroli Sirene
Selama ini, paradigma keamanan kita kerap kali terjebak pada pendekatan hard power. Kamtibmas dinilai aman jika patroli mobil dengan sirene meraung-raung di tengah malam, atau ketika polisi melakukan penindakan hukum formal pasca-kejadian kriminal. Pendekatan ini tidak salah, tetapi melelahkan dan reaktif.
Keamanan sejati tidak lahir dari rasa takut warga terhadap moncong senjata atau kilatan lampu rotator, melainkan dari kedekatan emosional. Sayangnya, strategi soft power yang menyentuh akar budaya seperti ini masih sering dianggap sebagai program sampingan atau sekadar formalitas pengisi kalender kerja. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang usang ini.
Gagasan "Gerebeg Sesepuh" untuk Indonesia
Melihat keberhasilan di Demangan, mengapa kita tidak melembagakan pendekatan ini dalam skala yang lebih masif? Kita bisa mendorong lahirnya gerakan "Gerebeg Sesepuh"—sebuah model community policing (pemolisian masyarakat) yang berbasis pada penghormatan generasi senior.
Daripada energi kepolisian habis untuk meredam konflik remaja di jalanan secara represif, pencegahan dini bisa dilakukan dengan cara rutin sowan dan mendengarkan keluh kesah para lansia di ruang publik. Melalui wejangan para simbah inilah, pesan-pesan kamtibmas dapat mengalir secara organik dan persuasif ke ruang tamu rumah-rumah warga, langsung menyentuh anak dan cucu mereka. Model kedekatan kultural di Demangan ini sudah sepatutnya menjadi cetak biru percontohan nasional.
Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa keamanan sebuah kota tidak pernah diukur dari seberapa banyak barikade besi yang terpasang atau seberapa sering patroli malam membunyikan sirene. Keamanan yang hakiki justru tecermin dari seberapa aman, bahagia, dan dihargainya para lansia di ruang-ruang terbuka mereka. Jadi, sudahkah polisi di daerahmu ikut sungkem dan mendengarkan cerita para simbah hari ini?
Baca Juga
-
Sarjana Beban Industri: Sampai Kapan Lulusan Diminta "Langsung Jadi"?
-
Indonesia Emas 2045: Mungkinkah Berinovasi jika Sewa Rumah Saja Cemas?
-
Pasar Modal Serok Rp125 Triliun: Pesta Raksasa yang Lupa Mengundang UMKM
-
Investasi Pariwisata Tembus Rp39 Triliun: Warga Lokal Ikut Kaya atau Cuma Jadi Penonton?
-
Jebakan Narsisme Kebudayaan: Mengapa Delegasi Mahasiswa Harus Berhenti Sekadar Jadi 'Performer'
Artikel Terkait
-
Drama Once Upon a Small Town, Ketika Dokter Hewan Kota Harus Pindah ke Desa
-
Kapolri Temui Prabowo di Istana, Stabilitas Keamanan dan Hari Bhayangkara Jadi Bahasan
-
Pura-pura Jadi Pembeli! Polisi Ciduk Pengedar 15 Airsoft Gun yang Dijual via WhatsApp
-
Teriak 'Kaki Saya Patah' saat Jaga Demo di DPR, Ternyata Ini Diagnosis Medis AKBP Adri Desas
-
Bongkar Jejak Sadis Taufik Hidayat! Inafis Sita Bukti dari TKP Penyekapan 3 Tahun YTR di Kontrakan
Kolom
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Membaca Daya Beli dari Antrean SPBU: Potret Ekonomi di Balik Pilihan BBM
-
Serahkan Gadget ke Anak demi WFH: Dosa Seorang Ibu atau Cela Sistem?
-
Rahasia Sukses Horor Indonesia: Mengapa Formula Mitos Lokal Selalu Laris?
-
Sekolah Negeri Katanya Gratis, Tapi Kenapa Dompet Saya Tetap Meringis?
Terkini
-
Cerdas! Begini Langkah Kang Edai Mengubah Desa Kemiren Jadi Naik Kelas
-
HP 64 GB Mulai Lemot? Coba 6 Trik Sederhana Ini sebelum Ganti Ponsel
-
Lomba Menghias Pasar Godean HUT ke-81 RI, Jadi Wujud Syukur Pedagang
-
Tak Melulu Merek Luar, ini 6 Sepatu Lokal yang Gak Kalah Keren!
-
4 Cara Digital Detox untuk Mengurangi Ketergantungan pada Gadget