Hayuning Ratri Hapsari | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi wawancara kerja (magnific)
Dini Sukmaningtyas

"Berpenampilan menarik" mungkin menjadi salah satu syarat yang paling sering muncul dalam iklan lowongan kerja di Indonesia.

Hampir setiap kali membuka situs pencari kerja atau media sosial perusahaan, saya masih menemukan kalimat tersebut, baik untuk posisi customer service, front office, sales, hingga pekerjaan administratif.

Saking seringnya membaca syarat tersebut, saya jadi penasaran, sebenarnya seperti apa standar "berpenampilan menarik" yang dimaksud oleh perusahaan?

Masalahnya, frasa ini terasa sangat abu-abu. Ada yang mengartikannya harus cantik atau ganteng, ada pula yang menganggap cukup berpakaian rapi, menjaga kebersihan diri, dan tampil profesional.

Akibat ketidakjelasan ini, banyak pelamar akhirnya menafsirkan sendiri, bahkan tak sedikit yang langsung minder dan mengurungkan niat melamar karena merasa tidak memenuhi kriteria.

Lantas, apakah syarat berpenampilan menarik di lowongan kerja hanya soal profesionalisme, atau justru tanpa disadari ikut melanggengkan beauty privilege?

Berpenampilan Menarik Itu Sebenarnya Seperti Apa?

Buat sebagian orang, berpenampilan menarik identik dengan wajah cantik atau ganteng, tubuh proporsional, dan penampilan yang enak dipandang.

Sementara bagi perusahaan, bisa jadi maksudnya jauh lebih sederhana, misalnya pakaian yang rapi, menjaga kebersihan diri, rambut tertata, dan terlihat profesional. Sayangnya, pelamar tidak pernah tahu mana yang sebenarnya dimaksud.

Akhirnya, banyak orang menebak-nebak sendiri. Ada yang santai karena merasa cukup berpakaian rapi, tetapi ada juga yang langsung minder karena merasa wajahnya biasa saja.

Padahal, belum tentu perusahaan sedang mencari orang yang memenuhi standar kecantikan tertentu. Semua kebingungan itu muncul hanya karena satu kalimat yang terlalu multitafsir.

Apakah Ini Bentuk Beauty Privilege?

Saya tidak menyangkal bahwa penampilan memang memengaruhi kesan pertama. Orang yang dianggap cantik atau ganteng sering kali lebih mudah menarik perhatian, bahkan sebelum mereka berbicara atau menunjukkan kemampuannya.

Fenomena ini kita kenal sebagai beauty privilege, yaitu kondisi ketika seseorang memperoleh keuntungan tertentu hanya karena penampilan fisiknya dinilai lebih menarik.

Bukan berarti semua perusahaan sengaja memilih kandidat berdasarkan wajah. Saya juga yakin banyak perekrut yang tetap mengutamakan kemampuan dan pengalaman.

Namun, ketika sebuah lowongan hanya mencantumkan syarat "berpenampilan menarik" tanpa penjelasan yang lebih spesifik, wajar jika muncul anggapan bahwa penampilan fisik menjadi salah satu faktor yang ikut dipertimbangkan.

Padahal, wajah yang menarik bukan jaminan seseorang mampu bekerja dengan baik. Sebaliknya, banyak orang yang tampil sederhana justru memiliki kemampuan komunikasi yang bagus, cepat beradaptasi, dan bisa memberikan hasil kerja yang memuaskan.

Di sisi lain, saya juga memahami bahwa ada posisi tertentu yang memang menuntut interaksi langsung dengan pelanggan. Untuk pekerjaan seperti front office, customer service, atau pramuniaga, penampilan yang bersih dan rapi memang menjadi bagian dari profesionalisme karena mereka menjadi wajah perusahaan.

Namun, sekali lagi, menurut saya yang dibutuhkan adalah profesionalisme, bukan standar kecantikan atau ketampanan yang sifatnya sangat subjektif.

Sudah Saatnya Iklan Lowongan Kerja Menggunakan Istilah yang Lebih Jelas

Kalau dipikir-pikir, syarat "berpenampilan menarik" mungkin sudah menjadi template yang terus disalin dari satu lowongan ke lowongan lainnya. Akibatnya, istilah tersebut sudah telanjur melekat dan pelamar pun sering menghubungkannya dengan standar fisik.

Menurut saya, persoalan ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan mudah. Kalau yang diharapkan adalah kandidat yang menjaga kebersihan diri dan mampu tampil profesional saat bekerja, seharusnya ditulis saja apa adanya.

Misalnya, "berpenampilan rapi dan profesional" atau "memiliki personal grooming yang baik". Kalimat seperti itu jauh lebih jelas, tidak mengundang salah paham, dan tidak membuat pelamar buru-buru merasa dirinya tidak memenuhi syarat.

Pemilihan kata dalam lowongan kerja mungkin terlihat sepele, tetapi bisa menentukan siapa yang merasa layak untuk melamar. Olehkarena itu, menggunakan istilah yang lebih jelas akan lebih menguntungkan dan memberi kesempatan yang sama bagi setiap kandidat.