Hayuning Ratri Hapsari | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi main ponsel (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Pernah tidak, baru beberapa menit membuka media sosial, suasana hati langsung berubah? Bukannya menemukan hiburan, yang muncul justru berita tentang permasalahan baru, kebijakan yang menuai kritik, atau pernyataan pejabat yang memancing emosi. Rasanya, selalu ada saja kabar yang membuat kita mengelus dada.

Bukan berarti semua kabar yang beredar selalu buruk. Namun, derasnya informasi yang datang setiap hari membuat banyak orang semakin mudah merasa lelah, pesimis, bahkan kehilangan kepercayaan.

Trust issue terhadap pemerintah dan arah negara pun perlahan tumbuh karena rentetan kejadian yang terus berulang dan kita baca melalui kanal berita atau media sosial.

Di tengah kondisi seperti itu, saya menemukan konsep Paradoks Stockdale. Konsep ini tidak mengajak kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi juga tidak membiarkan kita tenggelam dalam keputusasaan.

Keseimbangan antara menerima kenyataan dan tetap memelihara harapan itulah yang menurut saya relevan untuk menghadapi keadaan Indonesia hari ini.

Tetap Optimis, tetapi Tidak Menipu Diri Sendiri

Mengutip situs resmi Jim Collins, Paradoks Stockdale diperkenalkan dalam buku Good to Great, terinspirasi dari pengalaman Laksamana James Stockdale yang menjadi tawanan perang selama lebih dari tujuh tahun di Vietnam.

Selama masa penahanan itu, ia menyaksikan banyak rekannya kehilangan harapan. Anehnya, bukan mereka yang paling pesimis yang paling dulu menyerah, melainkan mereka yang terlalu optimis.

Mereka terus meyakini bahwa akan bebas pada Natal, lalu bergeser ke Paskah, kemudian ke momen berikutnya. Setiap kali harapan itu tidak terwujud, semangat mereka runtuh sedikit demi sedikit hingga akhirnya menyerah pada keadaan.

Dari situlah lahir Paradoks Stockdale, yang intinya tetaplah percaya bahwa pada akhirnya kita akan melewati masa sulit, tetapi jangan pernah mengabaikan kenyataan pahit yang sedang dihadapi hari ini.

Jangan Sampai Kita Kehilangan Akal Sehat usai Baca Linimasa

Kalau dipikir-pikir, hidup di Indonesia belakangan ini sering menguji emosi. Rasanya hampir setiap minggu ada saja peristiwa yang membuat publik geram.

Isu politik silih berganti, kondisi ekonomi menjadi perhatian banyak orang, sementara media sosial mempercepat penyebaran setiap kabar terbaru.

Saya tidak mengatakan bahwa kita harus menutup mata atau berhenti mengkritik keadaan. Sebaliknya. Paradoks Stockdale mengajarkan bahwa kita harus berani melihat kenyataan apa adanya.

Jika ada kebijakan yang layak dipertanyakan, kita berhak mengkritiknya. Jika ada persoalan yang perlu dibenahi, kita juga tidak boleh berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Namun, saya juga melihat bahaya lain yang mulai muncul, yaitu rasa putus asa yang perlahan berubah menjadi sikap sinis terhadap apa pun. Seolah-olah setiap kebijakan pasti salah, setiap berita pasti buruk, dan setiap perubahan pasti sia-sia.

Perasaan seperti ini memang bisa dimengerti, tetapi jika terus dipelihara, pada akhirnya justru menguras energi kita sendiri.

Paradoks Stockdale mengingatkan bahwa menerima kenyataan bukan berarti menyerah. Mengakui bahwa keadaan sedang sulit juga bukan berarti berhenti berharap. Dua hal itu justru harus berjalan beriringan.

Punya Harapan Bukan Berarti Naif

Menurut saya, pelajaran terbesar dari Paradoks Stockdale adalah tentang cara menghadapi kehidupan sehari-hari, terlebih di era ketika informasi datang tanpa henti.

Menjaga harapan bukan berarti menganggap semua akan selesai dalam waktu dekat. Setiap perubahan hampir selalu membutuhkan waktu yang panjang.

Mungkin itulah yang sedang kita butuhkan sebagai masyarakat. Tetap kritis terhadap apa yang terjadi, tetapi tidak membiarkan rasa kecewa mengambil alih seluruh cara kita memandang masa depan.

Kita memang harus tetap mengikuti berita terkini, tetapi juga tahu kapan harus berhenti sejenak agar pikiran tidak terus-menerus dibanjiri kabar buruk. Di negara yang penuh kejutan seperti Indonesia, mungkin itulah cara paling masuk akal untuk tetap waras.