Belakangan ini, lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat ramai diperbincangkan di media sosial. Lagu yang diciptakan oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, menuai kritik dari berbagai kalangan karena dinilai mengandung unsur yang merendahkan perempuan.
Kontroversi ini bahkan membuat sang bupati akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan menghapus unggahan lagu tersebut dari media sosial pribadinya.
Terlepas dari niat penciptanya, saya melihat lagu ini mencerminkan pola pikir yang selama ini begitu akrab di tengah masyarakat, yaitu menganggap perempuan sebagai objek candaan. Karena sudah terlalu sering ditemui, cara pandang tersebut akhirnya terasa normal, padahal sangat keliru.
Seksisme Tidak Selalu Hadir dalam Bentuk Ujaran Kebencian
Banyak orang membayangkan seksisme sebagai tindakan yang ekstrem, seperti penghinaan terang-terangan atau diskriminasi di tempat kerja.
Padahal, seksisme juga bisa muncul dalam bentuk yang jauh lebih halus. Salah satunya adalah menjadikan pengalaman perempuan sebagai bahan candaan melalui sebuah lagu.
Lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat dibuka dengan kalimat, "Nuhun Gusti, tos nyiptakeun kuring jadi lalaki" atau "Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku menjadi laki-laki."
Rasa syukur tersebut dibangun dengan membandingkan laki-laki dan perempuan, seolah-olah alasan bersyukur menjadi laki-laki adalah karena tidak perlu mengalami berbagai hal yang dialami perempuan. Dari sinilah saya melihat ini sebagai potret seksisme yang selama ini kerap dinormalisasi.
Dalam lagu tersebut, perempuan tidak digambarkan sebagai individu yang utuh. Sebaliknya, perempuan lebih banyak direpresentasikan melalui tubuh, fungsi biologis, dan penampilannya.
Misalnya, ada penggalan yang berbunyi, "Teu kudu meuli kutang" atau "Tidak perlu membeli bra." Ada pula bagian yang menyebut "Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan", yang berarti "Tidak perlu mondar-mandir ke apotek karena telat datang bulan."
Bagi saya, pengalaman biologis perempuan bukan sesuatu yang layak dijadikan bahan humor. Menstruasi maupun kekhawatiran saat mengalami keterlambatan haid adalah pengalaman yang nyata bagi banyak perempuan.
Bahkan tanpa disadari, candaan seperti ini ikut membentuk persepsi masyarakat. Hal-hal yang seharusnya dipahami sebagai pengalaman manusia justru berubah menjadi bahan olok-olok.
Bagian lain yang mengganggu adalah lirik, "Cacak mun jadi awewe, SMP kelas tilu, tos karuron tujuh kali", yang diterjemahkan menjadi "Andai menjadi perempuan, SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali."
Terlepas dari maksud penciptanya, lirik ini menghadirkan gambaran yang sangat problematik. Kehamilan remaja dan keguguran merupakan persoalan serius yang dialami sebagian perempuan.
Mengubahnya menjadi bahan candaan justru berisiko menormalisasi stigma terhadap perempuan, seolah persoalan tersebut pantas ditertawakan, bukan dipahami dengan empati.
Lagu ini juga menyentil perempuan yang berdandan melalui lirik, "Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata" atau "Tidak perlu melukis alis dan bulu mata."
Jika keseluruhan lagu itu disatukan, muncul pola yang sama. Perempuan digambarkan sebagai sosok yang merepotkan, terlalu memperhatikan penampilan, dan identik dengan berbagai hal yang dianggap lucu.
Berhenti Bungkus Objektifikasi dengan Humor
Permintaan maaf yang disampaikan Om Zein patut diapresiasi sebagai bentuk tanggung jawab atas kontroversi yang muncul.
Namun, ada satu hal yang lebih penting dari sekadar permintaan maaf, yaitu menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk mengevaluasi cara kita memandang perempuan dalam ruang publik.
Masalah sebenarnya adalah masyarakat masih melanggengkan objektifikasi terhadap perempuan dengan dibungkus candaan. Selama pola pikir itu masih dianggap wajar, perempuan akan terus menjadi sasaran humor yang sebenarnya tidak lucu.
Seolah-olah menjadi perempuan identik dengan kerepotan, masalah, dan sesuatu yang patut disyukuri karena tidak mengalaminya.
Padahal, menstruasi bukanlah aib. Kehamilan bukan bahan candaan. Memakai bra bukan sesuatu yang memalukan. Begitu pula berdandan merupakan pilihan pribadi yang tidak semestinya dijadikan bahan ejekan.
Perempuan sudah terlalu sering diminta belajar menerima candaan. Mungkin sesekali, yang perlu belajar adalah mereka yang masih menganggap merendahkan perempuan sebagai hiburan.
Baca Juga
-
Fitur Username WhatsApp: Inovasi atau Sekadar Gimmick?
-
Satu Program, Seribu Panggung: Jejak Narasi MBG dalam Pidato Prabowo
-
Ulasan Uncle Samsik: Potret Korea Selatan di Ambang Krisis Politik 1960
-
Paradoks Stockdale: Cara Jaga Kewarasan di Negara yang Penuh Kejutan
-
Prabowo Bangga Polri Kelola 1.000 SPPG: Ke Mana Arah Peran Kepolisian?
Artikel Terkait
-
Bupati Purwakarta Minta Maaf Soal Lagu 'Lalaki Langit', Bantah Rendahkan Wanita
-
Lagu Bupati Purwakarta 'Lalaki Langit' Berpotensi Langgar UU TPKS, Ancaman Hukuman 9 Bulan Penjara
-
Lagu Om Zein Dinilai Lecehkan Perempuan, Dianggap Humor Pun Tidak Lucu!
-
Lagu Bupati Purwakarta Dinilai Bias Gender, Partai Diminta Beri Teguran
-
Lagu Bupati Purwakarta Om Zein Diduga Rendahkan Perempuan, Gerindra Ingatkan Kader Jaga Etika
Kolom
-
Yang Perlu Dikampanyekan Adalah Kesiapan Finansial, Bukan Penghinaan
-
Piala Dunia: Euforia Sepak Bola atau Jerat Judi dan Pemerasan Ekonomi?
-
Fitur Username WhatsApp: Inovasi atau Sekadar Gimmick?
-
Piala Dunia 2026: Mengapa Kita Memuja Pesepak Bola Bak Dewa?
-
Menanti Rp18.000 per Dolar AS: Rapuhnya Tameng Dedolarisasi Kita
Terkini
-
Film Pendek Singsot, dari Mitos Menjadi Mimpi Buruk
-
Catat! Ini 6 Barang yang Wajib Kamu Bawa saat Liburan Musim Panas
-
Berlatar Negeri Mongolia, Anime Jaadugar: A Witch in Mongolia Tayang 4 Juli
-
Spanyol dan Meksiko Nirbobol, Pertanda Calon Juara Piala Dunia 2026?
-
Dibintangi Tyler Perry, Poster Film Why Did I Get Married Again? Dirilis