Istilah independent woman sering digunakan untuk menggambarkan perempuan yang dianggap mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Biasanya, sosok ini dilekatkan pada perempuan yang punya penghasilan, karier cemerlang, pendidikan tinggi, dan tidak bergantung secara finansial kepada orang lain, khususnya pasangan.
Awalnya, saya tidak terganggu dengan istilah tersebut. Namun, belakangan ini saya menyadari bahwa gambaran soal independent woman perlahan berubah menjadi standar tentang seperti apa perempuan mandiri seharusnya terlihat.
Mengapa perempuan yang memiliki jabatan bagus dan penghasilan tinggi lebih mudah disebut sebagai independent woman, sementara perempuan yang bekerja sebagai buruh, pekerja rumah tangga, pedagang kecil, atau ibu rumah tangga jarang mendapatkan label yang sama?
Ketika Karier Menjadi Tolok Ukur Kemandirian
Mendefinisikan kemandirian perempuan seharusnya tidak sesempit itu. Memiliki penghasilan sendiri memang merupakan salah satu bentuk kemandirian yang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran.
Kesempatan untuk menjadi mandiri juga dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi seseorang. Bagi sebagian perempuan, pekerjaan bukan sekadar ruang untuk mengembangkan diri, melainkan cara untuk memastikan kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Pilihan pekerjaannya pun sering kali terbatas pada apa yang tersedia dan bisa dilakukan. Ada yang harus menerima jam kerja panjang, upah kecil, atau kondisi kerja yang jauh dari kata ideal karena tidak punya banyak alternatif.
Di sinilah bias kelas muncul tanpa kita sadari. Kita lebih mudah melihat seorang perempuan sebagai sosok mandiri jika ia punya kesempatan untuk menunjukkan pencapaiannya.
Sementara itu, perempuan yang hidup dengan keterbatasan ekonomi sering dianggap hanya sedang menjalani kehidupan sehari-hari, padahal mereka juga punya kemampuan untuk mengambil keputusan dan mengatur hidupnya sendiri.
Kerja Perempuan Tak Selalu Terlihat
Masyarakat juga sering kali menghubungkan kemandirian dengan pekerjaan formal. Pembahasan tentang working woman, misalnya, sering kali identik dengan perempuan yang bekerja di kantor dan duduk di depan laptop.
Padahal dunia kerja perempuan sangat beragam. Ada perempuan yang bekerja di pabrik dan harus berdiri berjam-jam, ada kasir yang tidak bisa meninggalkan meja pelayanan sesuka hati, ada buruh yang terikat target produksi. Bahkan, ada pula ibu yang bekerja dari rumah sambil mengurus anak dan pekerjaan domestik.
Perbedaan kondisi ini terlihat jelas dalam pembahasan tentang ibu menyusui dan pumping di tempat kerja. Di media sosial, himbauan memompa ASI saat bekerja kadang dibungkus dengan narasi yang terlihat mudah.
Padahal tidak semua kantor menyediakan ruang laktasi. Kalau pun ada, keberadaan ruang laktasi belum otomatis membuat proses pumping mudah bagi semua ibu pekerja.
Bagi pekerja kantoran mungkin bisa meninggalkan meja selama beberapa saat. Namun, bagi pekerja yang harus memberikan pelayanan langsung, bekerja di lini produksi, atau berada di lingkungan kerja dengan prosedur yang ketat, mengambil jeda untuk pumping tidaklah mudah.
Oleh karena itu, narasi tentang ibu pekerja juga seharusnya tidak hanya menggunakan pengalaman pekerja kantoran sebagai patokan.
Kerja Domestik Juga Membutuhkan Kemandirian
Hal yang sama berlaku pada pekerjaan domestik. Selama ini, pekerjaan rumah tangga sering dianggap sebagai sesuatu yang otomatis dilakukan dan tidak membutuhkan keterampilan khusus. Padahal, mengelola rumah tangga bukan pekerjaan yang mudah.
Mengatur pengeluaran, memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, mengurus anak, mengatur jadwal anggota keluarga, mengambil keputusan ketika ada masalah, sampai menjaga kondisi emosional orang-orang di dalam rumah membutuhkan skill yang tidak main-main.
Sayangnya, karena pekerjaan tersebut tidak selalu menghasilkan penghasilan secara langsung, value-nya sering kali dianggap lebih rendah.
Menurut saya, pekerjaan domestik perlu diakui sebagai kerja agar kontribusi perempuan di dalamnya tidak dianggap sebagai orang yang tidak melakukan apa-apa.
Sebab, jika ukuran kemandirian hanya gaji atau penghasilan, kita berisiko mengabaikan berbagai bentuk kemampuan dan kontribusi perempuan yang tidak tercatat dalam slip gaji.
Sebagai sesama perempuan, kita seharusnya tidak menciptakan kasta baru tentang perempuan mana yang paling mandiri.
Menjadi perempuan mandiri tidak seharusnya menjadi perlombaan tentang siapa yang punya gaji paling besar, jabatan paling tinggi, atau pendidikan paling panjang.
Ada perempuan yang mandiri dengan caranya sendiri, hanya saja bentuk perjuangannya tidak cukup mewah untuk masuk ke dalam narasi yang biasa kita rayakan.
Baca Juga
-
Geliat Literasi Anak Muda: Minat Baca Bangkit, Harga Buku Sulit
-
Kepala BGN Bantah MBG Habiskan APBN: Strawman Fallacy dalam Membaca Kritik
-
Pergeseran Orientasi Karier: Tidak Semua Orang Ingin Naik Jabatan
-
Tumbuh Tanpa Kehilangan Akar: Desa Kemiren dan Jalan Panjang Merawat Budaya Osing
-
Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri
Artikel Terkait
Kolom
-
Merdeka dari Standar Cantik: Perlawanan Perempuan terhadap Beauty Pressure
-
Selamat Datang di Era Attention Economy: Ketika Kebenaran Kalah Penting dari Sensasi Viral
-
Kemiren Lawan Komersialisasi Budaya Lewat Wirausaha UMKM Berkelanjutan
-
Geliat Literasi Anak Muda: Minat Baca Bangkit, Harga Buku Sulit
-
Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?
Terkini
-
Kebahagiaan itu Bukan Dikejar: Refleksi Menarik dari Buku Happiness Here!
-
Ulasan Botchan: Kisah Pemuda Jujur Melawan Kemunafikan Dunia Kerja
-
Dari Rp500 Ribu Jadi Skandal Rp24,5 Miliar: Begini Cara "Orang Dalam" Bobol BPJS Ketenagakerjaan
-
Review Drama Alice in Borderland, Teka-Teki Permainan Kartu yang Mematikan
-
Jangan Asal Cas! Ketahui 9 Tips Jitu Bikin Baterai Android Awet Seharian