M. Reza Sulaiman | Riswandi Riswandi
Ilustrasi seorang anak muda dengan segelas kopi di tangan. (Gambar oleh pixabay.com)
Riswandi Riswandi

Coba deh, kapan terakhir kali kamu rela antre 20 menit demi segelas kopi susu kekinian, tapi begitu ditanya "kapan nyicil rumah?" jawabanmu langsung berubah jadi ketawa getir campur nangis dalam hati?

Kalau kamu ngangguk-ngangguk baca ini, selamat—kamu bukan sendirian. Scroll Instagram atau TikTok sebentar aja, isinya penuh story teman-teman yang nggak pernah absen nonton konser, ngantre blind box limited edition, atau wisata kuliner ke tempat-tempat estetik yang harga semangkuknya bisa buat makan tiga hari. Tapi giliran obrolan geser ke topik "beli rumah" atau "nabung buat masa depan", semua kompak jawab satu suara: "Ntar dulu deh, mahal banget, nggak masuk akal buat kantong."

Kelihatannya aneh, ya? Generasi yang katanya "boros" untuk hal-hal remeh, tapi giliran soal aset besar malah langsung menyerah duluan. Padahal ini bukan soal nggak mau usaha atau nggak bisa mikir panjang. Ini punya nama resmi dalam dunia psikologi ekonomi: Lipstick Effect.

Sejarah Singkat: Dari Amerika Pasca-9/11 Sampai ke Meja Kopi Kita

Istilah ini sebenarnya udah ada sejak lama, jauh sebelum tren ngopi cantik viral di linimasa. Orang yang pertama kali "membaptis" fenomena ini adalah Leonard Lauder, mantan bos besar Estée Lauder, saat Amerika Serikat diguncang krisis ekonomi pasca tragedi 11 September 2001.

Waktu itu ia mengamati sesuatu yang menarik: penjualan barang-barang mahal seperti mobil dan properti anjlok drastis. Tapi anehnya, penjualan lipstik malah melejit. Orang-orang yang lagi cemas, stres, dan nggak punya cukup uang buat beli barang besar, ternyata tetap butuh "pelarian kecil" biar hidup terasa sedikit lebih baik. Lipstik jadi solusinya—murah, gampang dibeli, dan efeknya instan bikin mood naik.

Nah, kalau di Amerika era 2000-an itu wujudnya lipstik, sekarang di Indonesia bentuknya udah bergeser jauh. Menurut kajian ekonomi dari Universitas Medan Area, versi kekinian dari lipstick effect ini nggak melulu soal kosmetik lagi, tapi merambah ke gaya hidup sehari-hari: ngopi di kafe hits, koleksi action figure atau mainan, sampai pengeluaran buat "healing" dan jaga kesehatan mental.

Kenapa Ngopi Rp40 Ribu Terasa Lebih Masuk Akal daripada DP Rumah?

Coba dipikir secara logis: uang muka rumah bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Angka segitu rasanya kayak mimpi yang jauh banget buat kebanyakan anak muda yang gajinya pas-pasan buat kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, secangkir kopi susu seharga Rp35 ribu sampai Rp55 ribu? Itu jauh lebih "kejangkau" secara psikologis, meskipun secara logika keuangan jangka panjang sama-sama mengurangi saldo tabungan.

Riset sosiologi ekonomi dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung juga menyebut bahwa kebiasaan "ngafe" atau belanja barang hobi itu sebenarnya adalah bentuk pelarian murah meriah biar tetap waras di tengah tekanan kerja dan mahalnya biaya hidup. Jadi bukan berarti Gen Z nggak paham finansial—mereka cuma lagi cari cara bertahan hidup secara emosional dengan sumber daya yang mereka punya.

Tapi Hati-Hati, Ini Tiga Jebakan yang Mengintai

Sayangnya, kebiasaan self-reward yang nggak dikontrol bisa berubah jadi bumerang finansial. Berikut tiga bahaya yang perlu kamu waspadai:

1. Belanja Impulsif Gara-Gara FOMO

Media sosial itu ibarat mesin pembangkit rasa "harus punya juga". Lihat teman upload boba baru, teman lain pamer koleksi mainan limited, otomatis muncul dorongan buat ikutan biar nggak ketinggalan atau dianggap kurang "gaul". Akhirnya belanja bukan karena butuh, tapi demi validasi sosial dan konten semata.

2. Godaan Paylater dan Pinjol yang Mengintai di Balik Layar

Ketika keinginan buat self-reward lebih besar dari saldo rekening, fitur bayar nanti alias paylater dan pinjaman online jadi jalan pintas yang menggoda. Padahal ini bisa berujung utang konsumtif yang menggerogoti gaji bulan depan, bahkan bulan-bulan berikutnya.

3. Dana Darurat dan Tabungan Masa Depan Jadi Korban

Kelihatannya cuma jajan kopi setiap hari kerja, tapi kalau dihitung setahun penuh, jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah. Nominal kecil yang rutin ini pelan-pelan menggerus dana darurat dan investasi yang harusnya jadi bantalan finansial saat kondisi darurat datang.

Jadi, Haruskah Berhenti Total Self-Reward?

Tenang, bukan berarti kamu harus jadi pelit sama diri sendiri. Menghadiahi diri atas kerja keras itu sah-sah aja, kok. Kita semua manusia biasa yang butuh sedikit kebahagiaan buat melepas penat setelah rutinitas yang melelahkan. Yang jadi masalah bukan kegiatannya, tapi kontrol dan porsinya.

Coba terapkan sistem budgeting berbasis persentase. Misalnya, alokasikan maksimal 10% dari penghasilan bulanan khusus buat pos lifestyle atau self-reward. Begitu jatah itu habis di pertengahan bulan, disiplinkan diri buat menahan keinginan sampai jatah baru datang bulan depan.

Selain itu, sebelum checkout barang hobi atau transfer buat jajan kuliner viral, coba tanya dulu ke diri sendiri: "Aku beli ini karena beneran butuh, atau cuma karena stres dan pengen ikutan tren?" Jangan sampai demi terlihat bahagia di linimasa media sosial, kamu malah mengorbankan masa depan finansialmu sendiri di dunia nyata.

Pada akhirnya, lipstick effect bukan musuh yang harus dihindari sepenuhnya. Ia cuma alat—dan kamulah yang menentukan siapa yang pegang kendali. Jadi, mau jadi pengendali dari kebiasaan ini, atau malah jadi korbannya?