Film aksi kadang memang paling menyenangkan ketika berhenti berusaha terlihat penting. Cukup pakai seorang mantan tentara, misi dengan batas waktu, sekelompok penjahat bersenjata, kendaraan yang dipacu sekencang mungkin, lalu berbagai kekacauan yang muncul sebelum tujuan tercapai. Runner memahami formula tersebut dan menjalankannya tanpa banyak basa-basi.
Film garapan Scott Waugh ini memang bukan jenis film aksi yang membawa ambisi untuk mengubah genre. Runner lebih terasa seperti B-movie modern yang ingin memberikan hiburan cepat selama sekitar ±98 menit. Ceritanya sederhana, konfliknya langsung, karakternya mudah dikenali, sementara aksinya terus mendorong cerita maju.
Runner merupakan film action-thriller produksi Amerika Serikat yang disutradarai Scott Waugh. Skenarionya ditulis Miles Hubley dan Tommy White. Film ini diproduksi oleh 2521 Entertainment, A Higher Standard, dan AllyCat Entertainment, dengan Angel Studios sebagai distributor.
Alan Ritchson menjadi pemeran utama sebagai Hank Malone, mantan tentara yang bekerja sebagai kurir khusus. Owen Wilson berperan sebagai Ben Bishop, sementara Rodrigo Santoro tampil sebagai Damian Zaldívar. Leila George memerankan Kate Baker, Peta Sergeant sebagai Julie, Geraldine Hakewill sebagai Monica, dan Scarlett Crabtree sebagai Ellie Baker.
Dikisahkan Hank Malone sedang menjalani hidup yang jauh dari gemerlap seorang pahlawan. Mantan tentara tersebut bekerja sebagai kurir khusus dan terbiasa mengantarkan berbagai macam barang. Rutinitas itu berubah ketika dia bertemu Ben Bishop, si pengantar khusus organ transplantasi yang membawa organ hati untuk Ellie Baker, si anak perempuan yang membutuhkan transplantasi.
Misi mereka seharusnya simpel. Organ tersebut harus segera sampai pada Ellie sebelum kesempatan untuk menyelamatkan hidupnya berakhir. Perjalanan yang bermula sebagai pengantaran medis berubah jadi pengejaran mematikan ketika ada kartel mengincar organ tersebut.
Hank dan Ben kemudian harus bergerak melintasi perjalanan dari Brisbane menuju Gold Coast sambil menghadapi orang-orang bersenjata, kejar-kejaran kendaraan, baku tembak, perkelahian, dan berbagai hambatan yang membuat waktu semakin menipis. Keren, deh!
Film Aksi yang Tahu Dirinya Bukan Film Prestisius
Menurutku, daya tariknya, film ini berhenti berpura-pura sedang membuat sesuatu yang monumental. Film ini tahu persis jenis hiburan yang ingin diberikan. Penonton diajak mengikuti perjalanan dari satu masalah menuju masalah berikutnya tanpa harus membongkar misteri rumit atau memahami sejarah panjang.
Pendekatan semacam ini memang menghasilkan cerita yang sangat familier. Hank harus mengantar sesuatu yang penting, waktu terus berjalan, penjahat mengejar, lalu setiap hambatan dibuat semakin besar. Formula tersebut sudah sering dipakai dalam film aksi. Runner pun sama sekali bukan pengecualian.
Namun, dari hal itu, membuat film ini begitu ringan. Dengan durasi yang relatif singkat, Runner terus bergerak tanpa menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memperluas konflik. Ketika aksi datang, film segera masuk ke dalam kekacauan. Ketika karakter membutuhkan jeda, percakapan Hank dan Ben ngasih jeda bernapas sebelum perjalanan kembali dipacu.
Di sinilah Alan Ritchson dan Owen Wilson menjadi penting. Ritchson tampil serius dan fisiknya sangat merepresentasikan tokoh laga, sedangkan Wilson menghadirkan sisi santai yang membuat perjalanan mereka punya sedikit warna komedi. Perbedaan itu. membantu menahan film agar nggak kayak rangkaian adegan kejar-kejaran yang disambung begitu saja.
Runner memang punya kelemahan. Karakternya masih familier, konflik kartelnya generik, sementara unsur emosional Hank belum digali sedalam potensi ceritanya. Film juga beberapa kali lebih tertarik mengejar momentum daripada membangun kedalaman.
Namun standar yang digunakan untuk menikmatinya memang sebaiknya diturunkan. Runner bukan film yang perlu dibebani ekspektasi untuk jadi aksi prestisius. Film ini lebih dekat dengan tontonan B-movie yang tahu cara menyajikan kekacauan, menjaga durasi tetap ringkas, lalu membiarkan Alan Ritchson dan Owen Wilson membawa penonton sampai garis akhir.
Jadi kalau Sobat Yoursay tertarik nonton, buruan ke bioskop, ya!.
Baca Juga
-
Shaun the Sheep: The Beast of Mossy Bottom, Komedi yang Nggak Banyak Kata
-
Review Film Love of Your Life: Terlalu Banyak Kesedihan dalam Satu Paket
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Review Last Seen: Thriller yang Menekan Emosi, Bukan Cuma Twist Saja
Artikel Terkait
-
Review Film Runner: Kisah Pengorbanan Mengharukan dalam Balutan Laga Modern
-
Review Film The Runner: Aksi Mencekam Gal Gadot Menyusuri Kota London!
-
Review Film Mirzapur: The Movie, Babak Baru Rivalitas Panas Guddu dan Munna
-
Film The Runner Hanya Raih Skor 9%, Jadi Film Terburuk Gal Gadot
-
The Runner: Gal Gadot Ngebut Lari, Filmnya Gagal Bikin Penonton Ikut Tegang
Ulasan
-
Ulasan Do Do Sol Sol La La Sol: Tentang Harapan yang Tumbuh dari Kehilangan
-
Belajar Berdamai dengan Kehilangan Lewat Novel Serangkai
-
Pasti Ada Jalan Keluar: Mengubah Cara Pandang dalam Menghadapi Masalah
-
Review Can This Love Be Translated?: Cinta Tak Semudah Menerjemahkan Kata
-
Ulasan Novel Inestable: Belajar Pentingnya Komunikasi dalam Hubungan
Terkini
-
Anime The Fable Season 2 Tayang Januari 2027, Yamaoka Arc Resmi Diadaptasi
-
Bye Garis Halus! 4 Serum Adenosine Jaga Wajah Tetap Kenyal Tanpa Iritasi
-
Bukan Oversharing, Tulisan yang Jujur dan Personal Tetap Punya Batasan
-
Bye Sel Kulit Mati! 5 Lulur Mandi Beras Bikin Kulit Lembut dan Bercahaya
-
Ketika Pemimpin Tak Percaya Pakar, Bagaimana Negara Menentukan Arah?