Pada 17 Agustus, Istana Negara menjadi salah satu pusat perayaan kemerdekaan Indonesia. Suasana meriah, pakaian adat, rangkaian acara, dan wajah-wajah yang tersenyum menjadi pemandangan yang menghiasi peringatan HUT ke-81 RI. Namun, pada hari yang sama, sebagian rakyat Indonesia menjalani kemerdekaan dengan suasana yang jauh berbeda.
Di Nusa Tenggara Timur, gempa kuat yang terjadi pada 15 Agustus 2026 telah menewaskan 53 orang, melukai 135 orang, merusak ratusan rumah dan fasilitas publik, serta memaksa lebih dari 5.000 warga mengungsi. Penanganan bencana dan penyaluran bantuan memang terus dilakukan pemerintah, tetapi masyarakat terdampak masih harus menghadapi kehilangan dan proses pemulihan yang panjang.
Kontras tersebut membuat perayaan kemerdekaan tahun ini terasa ironis. Istana bisa berpesta karena negara sedang merayakan kemerdekaan, tetapi bagaimana dengan rakyat yang bahkan belum merasa aman di rumahnya sendiri?
Kemerdekaan yang Terasa Berjarak
Menurut saya, perayaan nasional seharusnya juga punya kepekaan terhadap keadaan yang sedang dihadapi rakyatnya. Ironisnya, kemerdekaan lebih banyak ditampilkan sebagai kemeriahan, sementara makna lain dari kemerdekaan justru luput dibicarakan.
Gambaran kemeriahan itu memang terlihat jelas di Istana Merdeka hari ini. Ribuan tamu hadir dengan beragam pakaian adat dari berbagai daerah, sementara rangkaian perayaan juga diisi berbagai kegiatan yang membuat suasana semakin semarak.
Padahal, kemerdekaan seharusnya juga berarti rasa aman, perlindungan, dan keyakinan bahwa negara tidak akan membiarkan warganya menghadapi kesulitan sendirian. Dalam situasi bencana, makna itu menjadi jauh lebih penting daripada sekadar seberapa meriah sebuah acara digelar.
Saya kira keresahan yang muncul di media sosial juga tidak sepenuhnya tentang rasa iri melihat orang-orang di Istana bersenang-senang. Mereka hanya sedang mempertanyakan apakah negara juga cukup peka membaca suasana.
Bukan Berarti Kemerdekaan Harus Dibatalkan
Saya setuju bahwa negara tetap membutuhkan ruang untuk merayakan, begitu pula masyarakat. Bahkan dalam situasi sulit, perayaan bisa menjadi pengingat bahwa kehidupan harus terus berjalan. Namun, cara kita merayakannya tetap penting, terutama karena di balik sebuah perayaan selalu ada pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Perayaan tidak harus selalu identik dengan kemewahan dan kemeriahan. Ada banyak cara untuk menunjukkan rasa syukur atas kemerdekaan tanpa membuatnya terasa seperti pesta yang terpisah dari persoalan rakyat.
Momentum 17 Agustus justru bisa digunakan untuk memperlihatkan solidaritas, mengangkat perjuangan warga terdampak bencana, atau menunjukkan kerja-kerja pemulihan yang sedang dilakukan di berbagai daerah.
Jangan Sampai Seremoni Lebih Besar dari Makna Merdeka
17 Agustus seharusnya memang menjadi hari untuk bersuka cita. Saya pun tidak ingin melihat kemerdekaan dirayakan dengan suasana muram. Tetapi rasanya juga aneh kalau kita berpura-pura semua sedang baik-baik saja hanya demi menjaga suasana tetap meriah.
Justru di tengah situasi seperti ini, mungkin kita perlu sedikit mengurangi kemeriahan dan memperbesar kepedulian. Bukan berarti semua acara harus dibatalkan. Pemangku kebijakan hanya perlu menunjukkan bahwa mereka sadar, ada rakyat yang tahun ini tidak punya kesempatan untuk ikut bergembira.
Menurut saya, yang juga perlu dipikirkan adalah kebiasaan menganggap perayaan harus tetap berjalan seperti yang sudah direncanakan, seolah keadaan di luar agenda tidak perlu ikut dipertimbangkan. Padahal, situasi bisa berubah dan negara seharusnya bisa ikut menyesuaikan diri. Tidak semua hal harus dipaksakan tetap meriah hanya karena sudah masuk susunan acara.
Saya juga tidak yakin bahwa kesederhanaan dalam merayakan kemerdekaan otomatis berarti mengurangi rasa cinta terhadap negara. Justru ada kalanya menahan diri menjadi bentuk penghormatan.
Tidak apa-apa jika negara ingin berpesta. Tapi jangan terlalu cepat menyebutnya sebagai bukti keberhasilan. Sebab, negara yang pandai merayakan dirinya sendiri belum tentu pandai mengurus rakyatnya.
Baca Juga
-
Ulasan Psychopath Diary: Ketika Psikopat Palsu Bertemu Pembunuh Asli
-
Lowongan Minta Paket Lengkap, Gaji Paket Hemat: Ada Apa dengan Pasar Kerja?
-
Katanya Swasembada Pangan, Mengapa Harga Bahan Pokok Kian Menjulang?
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
Artikel Terkait
-
LIVE STREAMING: Reshuffle Kabinet dan Pelantikan Pejabat Baru di Istana Negara
-
Dari Bandung hingga Malang, Ini Cerita di Balik Gapura Pemenang Lomba Hias HUT RI
-
Kurir-Kurir Kemerdekaan: Pertaruhan Nyawa Membawa Berita Proklamasi 1945
-
Tolak Pidato Netanyahu di PBB, DPR Puji Aksi Walk Out Delegasi Indonesia
-
Prabowo Lantik Suahasil Nazara jadi Menteri Keuangan
Kolom
-
Hidup Terlalu Cepat: Kapan Terakhir Kali Kita Benar-benar Berhenti?
-
Kesederhanaan yang Perlahan Pergi
-
Berhenti Jadi Budak Produktivitas: Lawan Ekspektasi Semua Harus Selesai Hari Ini dengan Jeda Sejenak
-
Viral Artis Dirujak Tanpa Ampun, Cancel Culture Itu Keadilan atau Main Hakim Sendiri?
-
7 Kali Reshuffle Prabowo: Bukti Tegas atau Kabinet yang Gagal Fokus?