Ada anggapan bahwa hidup miskin tetap bisa dijalani dengan bahagia selama seseorang mampu bersyukur. Gagasan ini memang terdengar menenangkan, tetapi juga bisa menjadi cara halus untuk meromantisasi kemiskinan. Budaya seperti ini membuat kondisi serba kekurangan seolah tidak masalah selama orang yang mengalaminya masih bisa tersenyum.
Pembahasan soal ini terasa relevan setelah Presiden Prabowo Subianto beberapa kali menyinggung kemampuan masyarakat miskin untuk tetap tersenyum. Dalam pidato di WEF 2026, misalnya, ia mengatakan bahwa orang miskin dan lemah yang masih bisa tersenyum berarti memiliki harapan.
Selain itu, pada kesempatan lain di Cikarang, ia juga mengaku heran melihat masyarakat yang hanya memiliki satu setel pakaian dan tinggal di gubuk masih mampu tersenyum.
Namun, kemampuan untuk tersenyum tidak seharusnya menjadi ukuran tunggal kesejahteraan. Orang bisa saja tetap tertawa di tengah kesulitan, tetapi itu bukan berarti kemiskinan menjadi kondisi yang layak dipertahankan. Lantas, apakah orang miskin memang cukup diminta bersyukur, alih-alih diberi kesempatan untuk hidup lebih layak?
Miskin dan Sederhana Itu Berbeda
Ada kekeliruan yang cukup sering muncul dalam pembahasan soal kemiskinan, yaitu menyamakan hidup sederhana dengan hidup miskin. Padahal, keduanya sangat berbeda.
Hidup sederhana masih memberi seseorang ruang untuk memilih. Ia bisa saja punya uang untuk membeli banyak hal, tetapi memilih hidup secukupnya karena memang tidak ingin berlebihan, atau zaman sekarang istilahnya frugal living.
Namun, kemiskinan tidak seperti itu. Orang yang hidup miskin sering kali tidak punya kemewahan untuk memilih. Mau makan apa hari ini saja bisa menjadi pertanyaan setiap harinya. Mau menyekolahkan anak lebih tinggi harus mempertimbangkan biaya. Berobat pun bisa ditunda karena takut pengeluaran semakin besar.
Oleh karena itu, rasanya kurang tepat jika kemiskinan dipoles menjadi semacam gaya hidup yang patut dikagumi. Orang miskin tidak membutuhkan ceramah tentang betapa indahnya hidup sederhana. Mereka membutuhkan kesempatan untuk keluar dari kondisi yang membatasi pilihan hidupnya.
Uang Juga Bisa Membeli Kebahagiaan
Saya tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Memang, uang tidak bisa membeli kasih sayang atau hubungan yang tulus. Namun, uang bisa membeli rasa tenang. Punya penghasilan yang cukup, tabungan yang aman, kebutuhan sehari-hari terpenuhi, serta tidak perlu pusing memikirkan biaya sekolah anak tentu bisa membuat hidup terasa jauh lebih ringan.
Coba bayangkan punya cukup uang untuk memastikan anak mendapat pendidikan yang baik, keluarga bisa makan bergizi, rumah nyaman, kebutuhan kesehatan terpenuhi, sampai punya dana darurat untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga. Bukankah semua itu juga bagian dari kebahagiaan? Kita mungkin tidak membeli kebahagiaan secara langsung, tetapi uang memberi kita kondisi yang membuat hidup lebih tenang dan nyaman.
Sebaliknya, kekurangan uang bisa membuat banyak hal sederhana terasa berat. Dalam kondisi serba terhimpit, rasanya agak tidak masuk akal jika seseorang hanya diminta berpikir positif agar tetap bahagia.
Oleh karena itu, menurut saya, mengakui bahwa uang bisa membawa kebahagiaan bukan berarti menjadi materialistis. Ada kebahagiaan yang memang datang dari hal-hal sederhana, tetapi ada juga kebahagiaan yang muncul karena kita tidak lagi hidup dalam kekhawatiran soal kebutuhan dasar.
Bahagia Tak Harus Berkompromi dengan Kekurangan
Kita perlu berhenti menjadikan kemampuan seseorang untuk bertahan sebagai ukuran bahwa kondisinya sudah baik. Orang yang tetap bisa tertawa di tengah kesulitan memang menunjukkan ketangguhan, tetapi ketangguhan itu seharusnya tidak membuat kita lupa bahwa ada keadaan yang perlu diperbaiki.
Kemiskinan juga tidak akan selesai hanya dengan mengubah cara seseorang memandang hidup. Ada masalah yang membutuhkan perubahan lebih besar, mulai dari akses pendidikan dan kesehatan yang layak sampai kesempatan kerja yang memungkinkan orang memperbaiki taraf hidupnya.
Kalau semua beban itu dikembalikan kepada individu dengan nasihat untuk bersyukur dan berpikir positif, kita justru sedang menyederhanakan masalah dan melanggengkan toxic positivity.
Baca Juga
-
Politik di Ruang Pengasuhan: Kecemasan Membesarkan Anak di Negeri Sendiri
-
Privilege dalam Pengasuhan: Mengapa Ibu Berduit Dianggap Lebih Siap?
-
Beban Perubahan di Pundak Mahasiswa: Sampai Kapan Rakyat Menitipkan Harapan?
-
Ulasan Moon in the Day: Kisah Dendam yang Mengikat Kehidupan Lintas Zaman
-
Fenomena Pejabat Asbun: Dead Cat Strategy atau Kegagalan Komunikasi?
Artikel Terkait
-
Purbaya Jamin Tambah Anggaran Korban Bencana Gempa NTT, Tinggal Tunggu Arahan Prabowo
-
Temui Korban Gempa NTT, Purbaya: Presiden Prabowo Tidak Melupakan Kondisi Masyarakat
-
Tanggapan Istana soal Sorotan Netizen Terkait Gambar Prabowo di Atraksi Terjun Payung HUT RI
-
Soroti 52 Persen BUMN Rugi, Pakar UGM Sebut Perampingan Perusahaan Efektif Jika Korupsi Diberantas
-
Jateng Uji Model Baru Pengentasan Kemiskinan, Pemuda Jadi Ujung Tombak
Kolom
-
Kebakaran Hutan Kalimantan: Ketika Kemarau Terus Dijadikan Kambing Hitam
-
Politik di Ruang Pengasuhan: Kecemasan Membesarkan Anak di Negeri Sendiri
-
Suara Rakyat Lima Tahun Sekali, setelah Itu Siapa yang Berkuasa?
-
Zona Merah Hukum Adat: Mendesak Perlindungan Kesakralan Mama Papua di Tengah Konflik
-
Harga Pertamax Turun Rp300, Mengapa Harga BBM Bisa Fluktuatif?
Terkini
-
Hamsad Rangkuti dan Kisah Perjuangan Melawan Tentara NICA dalam BukuKereta Pagi Jam 5
-
Haikyuu!! Bagikan Visual dan Video Promosi Baru untuk Dua Proyek Anime 2027
-
5 Tips Melindungi Data Pribadi saat Terhubung ke Wi-Fi Publik
-
Powerful Tapi Emosional, Intip Highlight Medley Album Baru NCT 127 'BLINGY'
-
Santai, Pedro Acosta Hadapi Musim Perdana dengan Ducati Tanpa Rasa Tertekan