Istana resmi meluncurkan buku berjudul Presiden Solusi pada Senin (8/6/2026) di University Club, Jakarta. Buku ini berisi 108 jawaban yang mendokumentasikan kebijakan presiden dalam menyelesaikan setiap persoalan selama 18 bulan pertama masa kepemimpinan. Selain menjadi sebuah rekam jejak presiden, harapannya buku ini setelah diterbitkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus menjadi acuan bagi pembaca untuk menganalisis ide dan proses pengambilan keputusan pemerintah.
Namun, ironisnya penyampaian isi buku seolah-olah mengagungkan presiden sebagai sang pemecah masalah yang andal, padahal saat itu presiden baru menjabat belasan bulan. Lebih parahnya, ratusan lembar buku hanya menyajikan penjelasan seperti halnya halaman presentasi—mulai dari ilustrasi pendukung, gagasan masalah, hingga solusinya. Terlebih lagi, para penulis yang berasal dari unsur internal struktur pemerintahan juga menimbulkan persoalan objektivitas di mata publik.
Fenomena ini memicu berbagai pertanyaan kritis soal efektivitas dan tujuan utama penerbitan buku tersebut. Narasi yang padat, visual yang rapi, dan klaim pencapaian yang masif justru menimbulkan jurang pemisah antara retorika naratif yang dibangun di atas kertas dan pengalaman secara riil. Alih-alih menghadirkan laporan kinerja pemerintah kepada publik, penyusunan buku justru terjebak dalam gaya komunikasi politik serba instan sehingga akan berisiko menutupi setiap masalah bangsa yang belum terselesaikan.
Ketika Narasi Mendahului Pembuktian di Lapangan
Ratusan halaman di buku ini didesain dengan mengangkat masalah dalam skala nasional dan menyuguhkan penjelasan secara singkat, cepat, dan tepat. Alhasil, ketika kita membaca buku ini dari lembar ke lembar lainnya hanya akan menjumpai hal yang serupa, yakni beberapa kalimat dari sebuah masalah dan solusi dengan ilustrasi pendukung hingga mencapai lembar masalah dan solusi ke-108. Kemudian di halaman buku terakhir terdapat latar belakang penulis, kutipan kalimat yang ditulis presiden, lalu diakhiri dengan penutup.
Menurut pandangan saya, isi buku Presiden Solusi bila dibaca oleh orang yang tidak terbiasa menelaah pola yang sama persis di setiap halamannya—pengalaman membaca mereka mungkin akan terasa monoton—ditambah dengan adanya masalah dan solusi yang begitu ringkas tanpa membicarakan soal efek samping kebijakan, faktor penghambat, dan termasuk dampak kegagalan saat mengaktualisasi kebijakan. Pada akhirnya, penulisan narasi yang tidak menyertakan kedalaman dalam menganalisis kebijakan malah akan berpotensi bias karena abai akan dinamika kondisi sosial-ekonomi di lapangan.
Jika buku ini ditujukan sebagai pemantik diskusi kebijakan, pemerintah tidak perlu terburu-buru menerbitkannya sebagai konsumsi publik luas. Diskursus semacam ini idealnya diuji terlebih dahulu bersama para pakar, akademisi, dan praktisi di bidangnya. Sebagian besar publik tidak memerlukan sebuah konsep rapi dalam bentuk buku yang tentu dikhawatirkan tidak pernah bisa menggantikan hasil kerja nyata.
Krisis Objektivitas dan Jarak dengan Realitas
Membaca cerita pendek, novel, atau bahkan karya fiksi lainnya boleh jadi kita tidak memerlukan data dari sebuah riset. Sementara itu, buku seperti Presiden Solusi sebaiknya mengedepankan objektivitas. Penyajian masalah yang direspons secara serba cepat dan instan justru berisiko mereduksi kompleksitas persoalan yang ada. Barangkali juga setiap substansi yang ditulis bisa dianggap terlalu menyederhanakan masalah. Alhasil, niat baik untuk mengabarkan kebijakan yang telah diperbuat bisa menjadi kabur.
Kemudian, saya juga berharap agar penulis buku tersebut bukan hanya berasal dari unsur internal kabinet, melainkan pula melibatkan berbagai pihak, seperti orang yang berlatar belakang akademisi, pakar, dan peneliti. Keberadaan penulis independen tentu berfungsi sebagai penyeimbang dan pembanding di antara pemikiran pembuat kebijakan dan realitas yang terjadi di lapangan, sehingga karya tulis ini tidak terjebak dalam anggapan propaganda politik atau glorifikasi sepihak.
Harapannya juga, pemerintah tidak mengorelasikan citra positif di atas kertas dengan legitimasi kepemimpinan yang nyata. Sebuah buku boleh saja memuat ratusan gagasan dan klaim solusi cepat, tetapi penilaian masyarakat akan selalu berpijak pada efektivitas eksekusi dan perubahan di dalam kehidupan sehari-hari. Sebab lahirnya solusi yang bijak bukan berhasil dari bentuk cetak yang dijilid rapi, melainkan apa yang benar-benar terwujud secara nyata dan mampu dirasakan manfaatnya secara adil oleh seluruh rakyat.
Baca Juga
-
Sukses Tanpa Gelar: Bahaya Romantisasi Kemiskinan di Balik Mahalnya UKT
-
Jangan Tunggu Nanti, Ini Trik Jitu Mengatur Waktu Belajar US, TKA, dan UTBK Sejak Dini
-
Epik! Kolaborasi Yura Yunita, Feby Putri, dan Idgitaf Tembus 3 Besar Tren Musik YouTube
-
Matinya Era RPUL: Kenapa Hafalan Nama Pejabat Sudah Tidak Relevan Lagi?
-
Jangan Salahkan Attitude! Ini Alasan Logis Kenapa Gen Z Susah Cari Kerja
Artikel Terkait
Kolom
-
Kenapa Teman Dekat Tiba-Tiba Jadi Asing? Bukan Musuhan, Cuma Proses Pendewasaan
-
Jebakan Ketenangan Semu: Mengapa Transaksi Cashless Bikin Kita Makin Boros?
-
Menjaga Dapur Sendiri: ASEAN Butuh Aturan Latihan Militer Bersama
-
Gen Z Mulai Gemar Beli Produk Lokal: Bangga atau Sekadar Ikut Tren?
-
Sinyal Darurat Seleksi Hakim Agung: Benarkah Rekam Jejak Terabaikan?
Terkini
-
Spek Vivo V80 Lite 5G Terungkap, Performa Dimensity 7360-Turbo Jadi Andalan
-
6 Rekomendasi Horor Psikologis di Netflix, Siap Mengguncang Kewarasan
-
4 Cleansing Milk Formula Gentle, Angkat Makeup dan Jaga Kulit Tetap Lembap
-
Masjid Riyadhus Sholihin Jember, Jejak Dakwah yang Tak Pernah Sepi Peziarah
-
Ulasan Segala Kekasih Tengah Malam: Mencari Arti Diri di Balik Kesunyian