Sebagai perempuan, saya merasa overthinking sudah seperti bagian kecil dari kehidupan sehari-hari. Memikirkan hal-hal sepele dan belum tentu terjadi, takut salah mengambil keputusan, khawatir dinilai orang lain, sampai memikirkan masa depan terlalu jauh.
Anehnya, di tengah kepala yang sering penuh itu, ada satu kebiasaan yang diam-diam terasa menenangkan: memasukkan barang ke keranjang belanja. Ya, belanja online jadi momen healing demi mengatasi overthinking.
Awalnya saya menganggap itu hal biasa. Bayangkan, scroll marketplace sambil rebahan. Lihat barang lucu. Lalu klik “tambahkan ke keranjang” terasa seperti hiburan kecil setelah hari yang melelahkan.
Namun, lama-lama saya sadar kalau keranjang belanja saya hampir tidak pernah kosong. Bahkan kadang saya sendiri bingung kenapa bisa membeli begitu banyak hal yang kadang tidak dibutuhkan.
Di titik itu saya mulai bertanya: apakah saya benar-benar butuh barang-barang itu, atau sebenarnya hanya sedang mencoba menenangkan pikiran sendiri?
Overthinking dan Kebiasaan Mencari Distraksi
Saya merasa banyak perempuan punya kebiasaan memikirkan terlalu banyak hal sekaligus. Mulai dari pekerjaan, hubungan, penampilan, masa depan, sampai hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan.
Saat pikiran mulai penuh, mencari distraksi terasa jadi solusi tercepat. Dan di era sekarang, belanja online adalah salah satu bentuk distraksi paling mudah dijangkau.
Tinggal buka aplikasi, scroll tanpa tujuan, lalu tiba-tiba menemukan barang yang terasa “kayaknya aku butuh”. Padahal sebelumnya tidak pernah terpikir untuk membelinya.
Menurut saya, proses belanja itu sendiri sering menjadi pelarian emosional. Rasanya seperti ada hal menyenangkan yang bisa dinantikan di tengah hidup yang terasa melelahkan.
Keranjang Belanja Sebagai Tempat “Menenangkan Diri”
Saya pernah berada di fase ketika sedikit stres langsung membuka marketplace. Saat capek, sedih, bosan, atau overthinking tengah malam, scrolling barang-barang lucu terasa seperti terapi instan.
Yang menarik, kadang saya tidak benar-benar membeli barangnya. Memasukkannya ke keranjang saja sudah memberi rasa puas seolah sedang memberi hadiah kecil untuk diri sendiri.
Namun, di sisi lain kebiasaan itu juga membuat saya sadar betapa mudahnya emosi memengaruhi keputusan belanja. Banyak barang yang akhirnya dibeli hanya karena kondisi mental saat itu sedang tidak stabil.
Media Sosial dan Tekanan untuk Selalu “Layak”
Menurut saya, perempuan sekarang hidup di tengah standar yang melelahkan. Kita dituntut tampil menarik, punya hidup yang rapi, outfit estetik, penampilan terawat, dan tetap terlihat bahagia.
Media sosial membuat semua itu terlihat normal. Setiap hari saya melihat orang-orang dengan gaya hidup yang tampak sempurna. Lama-lama muncul rasa ingin ikut memiliki semuanya agar tidak tertinggal.
Akhirnya keranjang belanja jadi penuh dengan barang-barang yang sebenarnya lebih banyak berkaitan dengan validasi daripada kebutuhan.
Kadang saya membeli barang viral karena takut ketinggalan tren dan dianggap tidak setara. Padahal semakin diikuti, rasanya tidak pernah benar-benar cukup.
Overthinking Bikin Belanja Makin Impulsif
Saya juga menyadari kalau overthinking sering membuat saya sulit merasa puas. Saat melihat satu barang, saya mulai berpikir bakal rugi kalau tidak jadi beli.
Pikiran seperti itu akhirnya membuat keputusan belanja jadi impulsif. Ironisnya, setelah barang datang, rasa senangnya sering hanya sebentar hingga berujung pada kelelahan finansial maupun emosional.
Paylater dan Keranjang yang Tidak Pernah Habis
Kemudahan paylater juga membuat kebiasaan belanja emosional semakin sulit dikontrol. Karena tidak langsung membayar penuh, kita jadi lebih mudah berpikir, “Nanti aja bayarnya".
Padahal tanpa sadar, tagihan mulai menumpuk. Yang lebih berbahaya, keranjang belanja akhirnya bukan cuma berisi barang, tapi juga rasa cemas yang ditunda.
Setiap checkout memberi rasa senang sesaat sekaligus beban finansial yang perlahan mengikuti setelahnya. Lalu tagihan datang bersamaan dengan kebutuhan lain dan kita jadi stres sendiri.
Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
Sekarang saya mulai mencoba lebih sadar sebelum membeli sesuatu. Saya belajar berhenti sejenak dan bertanya: “Aku benar-benar butuh, atau cuma sedang overthinking?”
Saya juga mulai memahami kalau rasa tenang tidak selalu harus dicari lewat checkout barang baru. Kadang yang sebenarnya saya butuhkan hanyalah istirahat atau memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas tanpa tekanan.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa banyak barang yang dimiliki, tapi seberapa tenang kita menjalani hidup tanpa terus merasa kurang.
Baca Juga
-
AI Makin Pintar dan Serba Bisa: Saatnya Gen Z Harus Punya Pikiran Kritis
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
-
Ketika Cinta Tak Lagi Ingin Pulang
-
Stop Oversharing! Ini 7 Hal dalam Hidup yang Sebaiknya Kamu Simpan Sendiri
-
Tren Menulis Artikel Pakai AI: Bantu Produktivitas atau Hambat Kreativitas?
Artikel Terkait
Kolom
-
Membungkam Alarm Token Listrik: Audit Kebiasaan Kecil yang Bikin Kantong Jebol
-
AI Makin Pintar dan Serba Bisa: Saatnya Gen Z Harus Punya Pikiran Kritis
-
Bansos Bukan Barang Gratis: Ada Amanah yang Harus Dijaga
-
Kuliah Makin Mahal, tapi Kenapa Gaji Fresh Graduate Tetap Segitu-gitu Aja?
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca
Terkini
-
Raphinha Mesin Gol Baru FC Barcelona: 12 Gol dan Jadi Top Scorer La Liga
-
Sense and Sensibility: Kenapa Perempuan Abad 19 Cuma Fokus pada Pernikahan?
-
Review Film The Last Sunrise: Nikmatnya Jatuh Cinta di Detik-Detik Terakhir
-
Novel Melodi Senin: Di Balik Kebiasaan Bolos, Ada Mimpi yang Dikejar
-
Takut Coba Hal Baru, Intip Tips Winter aespa Memotivasi Diri Sendiri