Mungkin banyak di antara kamu yang tinggal di tengah-tengah kota metropolitan. Hidup di tengah pusat kota memang memudahkan kita untuk menemukan hal yang serba instan mulai dari transportasi, pusat perbelanjaan, jaringan internet, hingga jasa pesan antar makanan.
Di sisi lain, sesekali kita juga harus merasakan kehidupan di tengah perkampungan. Kenapa? Sebab ada banyak hal yang bisa kamu petik baiknya, bahkan membukakan jendela pikiran baru. Berikut ini 5 hal yang bisa jadi hanya kamu temukan jika hidup di kampung:
1. Susah sinyal
Masih banyak lho, perkampungan yang jaringan internetnya masih terbatas. Dari banyaknya operator seluler, paling banyak mungkin hanya 2 yang jaringan internetnya lancar. Sayangnya, ketika lampu padam jaringan udah pasti ikutan hilang.
Namun, hal ini memungkinkan kita untuk meminimalisir kegiatan di depan layar, lebih banyak bercengkerama dengan orang sekitar, dan tentunya mengurangi stres.
2. Nuansa yang tenang
Perkampungan selalu identik dengan perkebunan, pepohonan, dan pemukiman yang dekat dengan sumber air. Siapa yang gak luluh melihat nuansa hijau yang memanjakan mata? Suara gemericik air yang mendamaikan suasana hati.
Di kota, sangat sulit menemukan sumber air yang bersih dan nyaman dipandang. Apalagi di beberapa kota besar, sekedar menemukan hamparan sawah saja sudah sulit sekali.
3. Rumah dengan khas tertentu
Pedesaan adalah tempat yang masih sangat menjunjung tinggi tradisi di daerahnya. Biasanya, setiap kampung memiliki ciri khas sendiri ketika membangun sebuah rumah seperti rumah panggung, rumah yang dibuat dari bambu, rumah dengan kamar mandi tanpa atap, dan lain sebagainya.
4. Anjing liar
Di kota, anjing biasa dijadikan peliharaan atau sebagai penjaga yang berdiam di pekarangan rumah. Tapi di beberapa desa, anjing sudah seperti kucing liar yang hidup berdampingan dengan manusia. Anjing-anjing ini akan menggonggong ketika ada orang asing atau orang mencurigakan yang memasuki perkebunan warga.
5. Solidaritas yang sangat kental
Berbeda dengan kebiasaan di kota yang lebih bersifat masing-masing, di kampung solidaritas adalah hal yang masih sangat kental.
Warga desa memiliki sifat gotong royong yang tinggi gak peduli siapa kamu dan darimana kamu berasal. Meski begitu, warga kampung gak pamrih loh dalam memberikan pertolongan.
Itu dia hal-hal yang mulai sulit ditemukan di kota. Tentu, di mana pun tinggalnya, pasti ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tinggal bagaimana kita beradaptasi dan memanfaatkan segala sesuatu yang ada. Jadi, tertarik tinggal di desa gak, nih?
Baca Juga
-
'Dharma' dari Fanny Soegi, Lagu dengan Bahasa Sansekerta yang Maknanya Dalam
-
Tips Pilih Mukena Tarawih, Tampilan Cantik Tak Menjamin Kenyamanan
-
Terlalu Identik dengan Uang, Amal Jariyah Jadi Disepelekan
-
Nyoblos Jadi Mikir Lagi, Hak Suara Rakyat Miskin Dihargai Rp30.000 Demi Menang
-
Ramadhan Tahun Ini Mau Lebih Baik? Please, Jangan Wacana Doang!
Artikel Terkait
-
Kondisi Jalan Desa Pamoyanan Rusak Parah, Gubernur Jawa Barat dan Bupati Cianjur Disorot Warganet
-
Dua Orang Santri Ponpes Kediri Jadi Korban Keganasan Pantai Setangi Lombok NTB
-
Pesonanya Ada yang bak Surga Tersembunyi, Ini 3 Rekomendasi Wisata di NTB
-
Walhi: Ganjar Pranowo Lebih Mengakomodir Kepentingan Investasi daripada Warga
-
Begini Proses Panjang yang Harus Dilalui Perajin Tuak di Sibetan, Bali
Lifestyle
-
Gak Cuma Enak Dimakan, Ini 5 Face Wash Stroberi yang Bikin Kulit Glowing!
-
Travel Look Goals! 4 OOTD ala Hwang Min Hyun yang Simpel dan Stylish
-
6 HP Harga Rp2 Jutaan dengan Kamera 108MP dan Stabilizer, Hasil Foto Memukau Setara iPhone
-
4 Rekomendasi Pembersih Wajah Berbahan Bambu untuk Skin Barrier Kuat
-
4 Toner Black Rice, Rahasia Kulit Cerah dan Lembap tanpa Terasa Lengket!
Terkini
-
Kerja Bagai Kuda tapi Hidup Tetap Sama? Menelusuri Retaknya Meritokrasi di Indonesia
-
MBG di Persimpangan: Investasi SDM Masa Depan atau Malah Jadi Beban Fiskal?
-
Film Terbaru Doraemon Berhasil Kuasai Box Office Jepang 6 Pekan Berturut
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
UMK Jember Tembus 3 Juta, Sudahkah Memenuhi Realitas Hidup Buruh?