Menjadi remaja adalah pengalaman yang sulit, membingungkan, dan sangat penting. Para ilmuwan yang mempelajari sosialisasi remaja menemukan bahwa persahabatan di masa remaja dapat membentuk dasar yang signifikan bagi kesejahteraan di masa depan. Tidak hanya jenis persahabatan yang dijalin, tetapi juga durasi hubungan tersebut memiliki peran yang krusial.
Joseph Allen, Ph.D, salah satu penulis studi terbaru mengenai persahabatan remaja dan kesehatan mental yang diterbitkan oleh Society for Research in Child Development, menyatakan, “Membangun persahabatan dekat yang kuat adalah salah satu aspek terpenting dari pengalaman sosial remaja.”
Emily Shah dari Universitas Arkansas menambahkan bahwa persepsi remaja mengenai penerimaan sosial dari teman sebayanya pada awal masa remaja sangat berpengaruh dalam memprediksi kesejahteraan di usia dewasa. Hubungan kita dengan orang lain mempengaruhi pandangan diri, cara kita berfungsi dalam masyarakat, dan kesejahteraan psikologis, yang pada gilirannya juga berdampak pada kesejahteraan fisik.
Hal ini sangat relevan di masa remaja, ketika dukungan dari teman sebaya mulai menjadi penting dan perubahan hormonal dapat menciptakan ketegangan. Persahabatan juga dapat membantu remaja menghadapi transisi yang menegangkan, seperti ujian, pekerjaan baru, dan perpisahan dari rumah.
Menurut Dr. David Szwedo dari James Madison University, “Persahabatan selama masa remaja memberi ia kesempatan pertama untuk menjalin hubungan intim yang saling menguntungkan. Karena teman dapat datang dan pergi, persahabatan menjadi konteks bagi remaja untuk mengembangkan keterampilan dalam mempertahankan dan menumbuhkan hubungan tersebut, yang berguna untuk persahabatan dan hubungan romantis di masa depan.”
Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 184 siswa sekolah menengah pertama di Amerika, peserta disurvei pada usia 13-14 tahun dan kemudian lagi pada usia 17-18 tahun untuk mengukur kualitas persahabatan, penerimaan sosial, dan tingkat kesukaan yang dirasakan dari teman sebayanya. Peneliti kemudian menghubungi mereka kembali saat berusia 28-30 tahun untuk menilai kesehatan fisik dan mental, kepuasan kerja, ketidakamanan dalam hubungan romantis, dan pengalaman agresi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan sosial yang dirasakan merupakan indikator terbaik kesejahteraan di usia dewasa. Mereka yang merasa disukai oleh teman sebayanya saat remaja melaporkan tingkat kecemasan dan agresi sosial yang lebih rendah, kesehatan fisik yang lebih baik, serta kepuasan dalam pekerjaan dan hubungan. Sebaliknya, rasa suka yang dilaporkan oleh teman sebaya tidak selalu memprediksi kesejahteraan, menunjukkan bahwa persepsi remaja mengenai keberhasilan sosial mereka adalah faktor yang sangat penting.
Persahabatan memberikan remaja dan dewasa rasa memiliki serta penerimaan yang krusial selama masa sulit. Teman sebaya mengalami perubahan fisik dan emosional yang serupa, seperti ketakutan, ketidakamanan, kecemasan, atau kesedihan.
Mereka dapat merasakan tekanan dari ujian atau situasi sosial yang menantang, dan saling membuat satu sama lain merasa dipahami. Teman sering membantu mengatasi stres dan bersedia melakukan percakapan jujur yang mungkin sulit dilakukan dengan orang tua.
Baca Juga
-
Donasi Buku dan Ilusi Pemerataan Pengetahuan
-
Pertarungan Masyarakat Urban Memperoleh Akses Air Bersih di Sudut Kota
-
Tugas Sekolah di Era AI: Sinyal Belajar Semu dan Sekadar Menyelesaikan?
-
MBG hingga Sekolah Rakyat, Sejauh Mana Negara Berpihak pada Pendidikan?
-
Komersialisasi Pendidikan dan Ketika Solidaritas Publik Menambal Kebijakan
Artikel Terkait
-
Gen Z dan Milenial Paling Terbuka Sama Isu Kesehatan Mental, tapi Akses Pengobatan Masih Terbatas?
-
Bahaya Stres Kerja Berkepanjangan, Ini Dampaknya Bagi Kesehatan Fisik dan Mental
-
Penelitian Tunjukkan Ibu Rumah Tangga Paling Banyak Lakukan Skrining Kesehatan Jiwa, Kenapa Begitu Ya?
-
Ulasan Novel 'Doki-doki Game: Over', Terjawabnya Teka-teki Game Misterius
-
Rentetan Bunuh Diri Mahasiswa, Kapan Krisis Mental Generasi Muda Berakhir?
Lifestyle
-
Dibanderol Rp750 Juta, Ponsel Lipat Vertu AlphaFold Dilapisi Kulit Eksotis dan Emas Berlian
-
Acer AR Vision GR0 Resmi Meluncur, Kacamata Pintar Bisa Terhubung ke Android, iPhone, dan PC
-
Bocoran Galaxy Z Fold8: Bodi Super Ringan 210 Gram dan Minim Lipatan Layar
-
5 Masker Rambut yang Ampuh Atasi Rambut Rusak untuk Wanita Berhijab
-
4 Cleanser Matcha Harga Mulai Rp29 Ribu, Lawan Jerawat pada Kulit Berminyak
Terkini
-
Neko to Kiss: Mengadopsi Kucing yang Merupakan Jelmaan Teman Satu Kelas
-
Menakar Tren Slash Career: Alasan Gen Z Tak Cukup Punya Satu Profesi
-
Ulasan Propeller One-Way Night Coach: Film yang Asyik Curhat Sendiri
-
MBG dan Nafsu Kerakusan yang Menyusup ke Piring Rakyat
-
Logika Emak-Emak Menakar Misteri Lauk Proyek MBG yang Diduga Disunat Kroni