Menenun Identitas: Perempuan Sumba, Warna Alam, dan Warisan yang Tak Pernah Putus

Bimo Aria Fundrika | Vicka Rumanti
Menenun Identitas: Perempuan Sumba, Warna Alam, dan Warisan yang Tak Pernah Putus
Ilustrasi perempuan menenun (Freepik/freepik)

Di tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur, sehelai kain bukan sekadar busana. Ia adalah lembaran sejarah, simbol status, dan utamannya adalah sebagai identitas bagi perempuan yang melahirkannya.

Masyarakat setempat meyakini bahwa kemahiran dalam menenun merupakan tolok ukur kedewasaan dan kesempurnaan seseorang.

Diana Kalera Lena, seorang penenun asli Sumba mengungkapkan dengan penuh kebanggaan betapa dalamnya akar tradisi ini tertanam dalam dirinya di tanah kelahirannya.

“Perempuan Sumba tidak bisa disebut sebagai perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun,” ujarnya lantang.

Baginya dan perempuan Sumba lainnya, menenun adalah napas kehidupan yang sudah dipelajari sejak jemari mereka masih mungil. Keterampilan ini tidak bisa dikuasai hanya dengan sekejap, semalam, melainkan butuh kesabaran yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang.

“Proses menenun dari tahapan awal sampai menjadi sehelai kain it

Ilustrasi tenun (Envato)
Ilustrasi tenun (Envato)

u butuh proses panjang. Sejak usia 6 tahun, saya sudah membantu Ibu saya dan mulai menenun sendiri pada usia 17 tahun,” ujar Diana.

Menghidupkan Kembali Rahasia Alam

Sejak kehidupan semakin modern, selama bertahun-tahun banyak penenun yang mulai beralih ke pewarna sintetis demi kepraktisan. Namun, terasa ada sesuatu yang hilang ketika bahan kimia mencoba menggantikan keajaiban yang bisa dibuat oleh alam. Kain menjadi kehilangan sedikit “jiwa” dan kedalaman makna.

Melalui inisiatif Bakti BCA yang menggandeng Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI), Diana dan penenun-penenun lainnya dari komunitas Kambatatana hingga Prai Kilimbatu, mulai menjemput warisan yang sempat terpinggirkan. Kini disebut dengan “Wastra Warna Alam”.

Resep pewarnaan alami yang berasal dari akar mengkudu, kayu secang, hingga daun nila, dahulu adalah rahasia sakral yang tidak dibagikan secara terbuka. Melalui pembinaan yang terstruktur, “rahasia dapur” para leluhur ini kembali dibuka. Perempuan-perempuan Sumba belajar meracik kembali warna-warna yang ibu pertiwi punya. Tentunya warna-warna ini lebih ramah lingkungan. Nilai seninya tidak tertinggal, bahkan nilai ekonominya justru lebih tinggi.

Dari Upacara Adat Menuju Panggung Dunia

Kain tenun Sumba selama ini masih berputar hanya di lingkungan upacara adat, seperti pernikahan dan prosesi kematian. Namun kini, para perempuan Sumba memiliki visi yang mulai meluas. Mereka ingin mahakarya turun-temurun ini tidak hanya menjadi saksi bisu ritual, tetapi juga menjadi produk gaya hidup yang kelak dapat diakui dunia.

Dengan keterlibatan laki-laki dalam membantu pengolahan bahan dan pengembangan motif, ekosistem tenun di desa-desa Sumba menjadi lebih hidup. Hal ini kemudian tidak hanya menjadi warisan budaya yang statis, melainkan juga perlahan-lahan sebagai penggerak ekonomi keluarga.

Bagi Diana, hasil tangan dan ketelatenan jari jemarinya yang tulus tersebut mampu membantu sang suami dan memastikan pendidikan anak-anaknya dapat terus berlanjut.

Upaya menjaga kelestarian tenun warna alam ini merupakan pesan yang kuat untuk tetap berdiri tegak menjaga warisan, memegang teguh jati diri perempuan, dan memastikan bahwa setiap helai benang yang dipintal akan terus bercerita untuk generasi-generasi masa depan walaupun gempuran modernitas semakin riuh bertebaran.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak