Pernah membaca novel atau komik bertema kerajaan? Mungkin kamu nggak asing dengan scene para putri dan bangsawan perempuan yang asyik menyulam. Bahkan sampai sekarang pun, praktik menyulam masih dilestarikan walau mulai tergerus oleh mesin bordir yang lebih cepat.
Namun, tahukah kamu kalau kegiatan menyulam ternyata memiliki efek dopamin bagi tubuh?
Studi Tentang Kegiatan Menyulam
Mengutip laman CottageGardenThreads, menyulam sejatinya adalah kegiatan rekreasi kreatif yang berguna untuk relaksasi. Dengan jarum, benang aneka warna, kain, pulpen untuk menggambar pola, gunting, dan tentu saja pemidang kain. Bahkan, ada beberapa penelitian terkait kegiatan menyulam yang bermanfaat bagi kesehatan mental, yakni:
Utah State University Extension
Penelitian menunjukkan bahwa melakukan hobi kreatif seperti menyulam dan membordir mampu mengaktifkan saraf parasimpatik, mengurangi stres, dan meningkatkan kejernihan mental. Cukup dengan 20-30 menit waktu kreatif yang terfokus bisa secara nyata meningkatkan suasana hati dan menurunkan tingkat kecemasan.
British Journal of Psychology
Studi tahun 2021 menemukan bahwa orang yang melakukan kegiatan rekreasi kreatif memiliki kepuasan hidup dan ketahanan emosional yang lebih tinggi.
Menyulam itu Seru
Menyulam bukan hanya sekadar hobi iseng-iseng, kalau diniati dan diperjuangkan, haha. Dewasa ini, ada banyak sekali konten video dan foto di media sosial yang mengangkat niche menyulam. Bahkan, jual beli foto di situs online seperti Shutterstock, dan situs penyedia gambar gratis seperti Pixabay, Unsplash, dan lainnya.
Kalau tidak ingin tersorot kamera, kita juga bisa mengikuti komunitas menyulam juga, kok. Atau belajar secara otodidak lewat konten dari media sosial. Lagipula, kegiatan ini bertujuan untuk santai dan rileks, ya, bukannya dikejar deadline macam kerjaan.
Peralatan menyulam pun kadang sudah dijual dalam satu set yang terdiri atas pemidang kain, pulpen, gunting kecil, benang sulam, dan beberapa pola yang siap dieksekusi. Namun, kalau malas membeli satu set lengkap, kamu cukup membeli pemidang kain saja. Sedangkan untuk benangnya, kita bisa menggunakan benang jahit.
Pengalamanku Menyulam dan Belajar Aneka Teknik Sulaman
Aku sendiri sempat melakukan otodidak menyulam setelah menonton beberapa konten di media sosial. Dengan modal jarum dan benang jahit biasa, dan juga pemidang kain plastik yang kubeli seharga Rp6.000.
Tadinya, aku belajar menyulam dengan kain-kain bekas dengan pola-pola yang nggak jauh dari bunga. Itu pun kacau juga, karena masih belum menguasai teknik menyulam untuk memaksimalkan hasil dari pola, dan bagaimana caranya memainkan gradasi warna dengan benang. Jadilah aku rajin menonton video edukasi teknik-teknik menyulam seperti running stitch (tusuk jelujur), back stitch (tusuk tikam jejak), chain stitch (tusuk rantai), satin stitch (tusuk pipih), hingga French knot (tusuk simpul Prancis).
Barulah kemudian, aku mencoba mengeksekusi beberapa baju, rok, dan celana dengan menggambar pola ala-ala sendiri. Untuk membuat garis, bingkai, tepian pola, hingga tangkai bunga, aku sering menggunakan metode back stitch dan chain stitch. Kemudian untuk mengisi rongga bagian daun atau kelopak bunga, umumnya pakai cara satin stitch, serta tengah bunga dibuat timbul dengan gaya French knot.
Hasilnya not bad untuk seru-seruan. Dan tentunya sukses menghilangkan stres karena pikiran yang spaneng berhasil terdistraksi. Walau kegiatan menyulam bagiku ada efek samping, ya. Seperti nyeri punggung karena duduk terlalu lama, dan ketiduran sewaktu masih memegang jarum. Jangan ditiru!
After all, kegiatan menyulam bukan hanya mengasah keterampilan semata, melainkan sebagai aksi relaksasi sederhana. Fokus kita bakal terpusat pada jarum, benang, dan pola. Sehingga keruwetan hidup dan kegilaan dunia tipu-tipu ini sedikit teralihkan.
Baca Juga
-
Kala Lapar Bertemu Deadline Kerjaan Tanpa Ampun, Lahirlah Kutukan 'Hangry'
-
Review Almarhum: Sinematografi Thriller Misteri Bernyawa Kearifan Lokal
-
Mengenal Kerajinan 'Anam Kepang', Esensi Edukatif yang Mati Ditelan Zaman
-
Nikmatnya Sambal Pencit: Kuliner 'Survival' Low Budget yang Kini Jadi Menu Populer Restoran
-
Sisi Gelap Sound Horeg Agustusan: Antara Cuan Gacor dan Panci yang Ikut Bergetar
Artikel Terkait
-
Scroll TikTok Terus, Tugas Mangkrak: Selamat, Anda Terkena Kutukan Akrasia!
-
Dopamin Jam 3 Pagi: Ketika Setan Dibelenggu, Tapi Doomscrolling Terus Melaju
-
12 Ide Self Reward untuk Apresiasi Diri bagi Pekerja Produktif
-
Hobi sebagai Self-Healing: Awalnya Iseng, Eh Malah Jadi Pelepas Stres
-
Bordir dan Upaya Daur Ulang Pakaian di Tengah Tren Fesyen Berkelanjutan
Lifestyle
-
5 Merek Sepatu Lokal dengan Visual Keren dan Harga Terjangkau
-
4 Clay Mask Ampuh Bersihkan Pori untuk Cegah Bruntusan pada Kulit Berminyak
-
Tecno Pova 8 5G Resmi di Indonesia, Bawa Baterai 8.000 mAh dan Kamera Sony
-
5 Rekomendasi Day Cream Lokal dengan SPF untuk Melindungi Kulit Wajah
-
Tak Banyak yang Tahu! Kenapa 17 Agustus Selalu Identik dengan Lomba?
Terkini
-
Dianggap Mitos hingga Diakui Pahlawan Nasional: Siapakah Ratu Kalinyamat?
-
Underemployment: Saat Keringat Sarjana Cuma Jadi Angka Formal
-
Desa Les Bekali Generasi Muda dengan Bahasa Inggris, Siap Mendunia?
-
Naturalisasi Pemain Sepak Bola: Proses Kemenangan atau Kesalahan Berulang?
-
Malam Ini! Arsenal vs Manchester City di Community Shield, Siapa Lebih Unggul?