Memasuki musim gugur, biasanya banyak negara yang merayakan hari thanksgiving. Di Korea biasanya disebut chuseok atau hari raya panen. Tahun ini, perayaan Chuseok jatuh pada tanggal 24 - 26 September.
Ngomongin Chuseok, ada yang kurang kalau belum menyebut songpyeon. Kue beras khas masa panen di Korea ini sangat erat kaitannya dengan tradisi yang sudah turun-temurun. Tak hanya makanan khas hari raya, songpyeon juga memiliki sejarah dan makna yang berkaitan dengan panen, harapan, hingga tradisi menghormati leluhur.
Apa yang membuat songpyeon begitu spesial saat Chuseok? Yuk, simak fakta menariknya berikut ini!
Kenapa Songpyeon Berbentuk Bulan Sabit? Ternyata Ada Maknanya
Songpyeon merupakan salah satu jenis tteok atau kue beras. Bedanya, songpyeon dibuat khusus dari beras hasil panen (beras oryeo) untuk merayakan panen itu sendiri atau yang sering disebut oryeo songpyeon. Songpyeon memiliki isian manis yang dibuat dari biji wijen, madu, kacang merah, atau kacang hijau.
Selain bahan dan waktu pembuatannya, bentuk songpyeon juga ternyata menyimpan makna tersendiri. Kue beras ini umumnya dibuat menyerupai setengah lingkaran atau bulan sabit. Lantas, kenapa bukan berbentuk bulan purnama?
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Korea, bentuk bulan sabit pada songpyeon melambangkan harapan akan sesuatu yang terus berkembang. Bulan purnama memang terlihat penuh, tetapi setelah mencapai fase tersebut, bulan akan kembali menyusut. Sementara itu, bulan sabit perlahan akan bertambah hingga menjadi bulan purnama.
Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan harapan masyarakat Korea terhadap kemakmuran dan kehidupan yang semakin baik. Mereka percaya, dengan memakan songpyeon saat Chuseok, harapan-harapan mereka akan terkabul.
Membuat Songpyeon Jadi Tradisi Keluarga
Songpyeon biasanya dibuat bersama anggota keluarga menjelang perayaan Chuseok. Proses membuatnya pun bukan sekadar kegiatan untuk menyiapkan makanan, tetapi juga menjadi momen bagi keluarga untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.
Di hari pertama Chuseok, songpyeon menjadi salah satu hidangan untuk Charye atau ritual persembahan kepada leluhur di pagi harinya. Persembahan ini menjadi lambang rasa syukur atas masa panen yang telah tiba.
Selain itu, songpyeon juga dibagikan untuk dinikmati bersama kerabat terdekat. Tradisi ini kemudian membuat songpyeon semakin lekat dengan nilai kebersamaan dalam perayaan Chuseok. Dari generasi ke generasi, proses membuat dan menyantap songpyeon bersama menjadi salah satu cara untuk menjaga kehangatan keluarga sekaligus mempertahankan tradisi.
Dikukus dengan Daun Pinus untuk Menambah Aroma Khas Musim Gugur
Hal menarik lain dari songpyeon yang membuatnya identik dengan perayaan Chuseok dan musim gugur adalah cara memasaknya. Saat dikukus, songpyeon diletakkan di atas tumpukan daun pinus muda agar aroma khasnya ikut menempel. Selain itu, lapisan daun pinus ini mencegah songpyeon saling menempel atau lengket pada dasar kukusan. Setelah matang, daun tersebut bahkan dapat meninggalkan corak unik pada permukaan songpyeon.
Penggunaan daun pinus ini juga berkaitan dengan nama songpyeon itu sendiri. Kata 'song' dalam songpyeon berarti daun pinus, sehingga kue beras dan daun pinus memang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi pembuatannya.
Tidak heran kalau songpyeon selalu identik dengan Chuseok. Kue beras ini bukan hanya menjadi hidangan khas saat hari raya, tetapi juga bagian dari tradisi yang menghubungkan masyarakat Korea dengan hasil panen, keluarga, dan leluhur. Ingin ikut rayakan Chuseok juga?
Baca Juga
-
Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi
-
Pembalut Kena PPN, Perempuan Harus Bayar Lebih untuk Kebutuhan Biologisnya?
-
7 Slang Gen Z yang Masuk KBBI, Bukti Bahasa Indonesia Terus Berkembang!
-
5 Pelajaran Hidup dari Novela Metamorfosis: Hargai Diri Sendiri, Yuk!
-
Kenapa Tulisan dengan Tanda Baca Em Dash Sering Dianggap AI? Ini Faktanya!
Artikel Terkait
-
Fakta Mengejutkan! Tteokbokki Ternyata Dulunya Makanan Mewah Kaum Bangsawan
-
Korea Bawa Ragam Kuliner ke Jakarta, Ada Ginseng Jelly hingga Peach
-
CEO Muda x Intern Senior, Film Korea The Intern Tayang September di Bioskop
-
Bukan Pajeon Biasa! Ini 5 Fakta Menarik Padakjeon, Pancake Korea Tinggi Protein yang Lagi Viral
-
Butter Tteok Jadi Tren Baru Kuliner Korea di Indonesia
Lifestyle
-
Wangi Bersih, Sopan, dan Elegan! 5 Pilihan Parfum yang Cocok untuk Ibu Guru
-
Bukan Cuma Melindungi, 4 Dark Spot Sunscreen yang Bikin Warna Kulit Merata
-
Bebas Kering! 5 Rekomendasi Body Lotion Shea Butter yang Nyaman di Kulit
-
Bye Kusam dan PIH! 4 Moisturizer Alpha Arbutin Cuma di Bawah Rp50 Ribuan
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
Terkini
-
Fenomena Chat saat Butuh: Teman atau Sekadar Tempat Mencari Bantuan?
-
Komedi Negara Hukum: Mengapa Urusan Ijazah Selalu Berakhir Jadi Lelucon?
-
Tren Budaya Lokal di Tangan Gen Z: Merawat Tradisi atau Cuma Demi Konten?
-
Prank Hihu: Ketika Kebebasan Bercanda Berhadapan dengan Etika Sosial
-
Sinopsis The Palace Stewardess, Dracin Ding Yu Xi dan Song Zu Er di WeTV