Scroll untuk membaca artikel
Rendy Adrikni Sadikin | Rendy Adrikni S
Ilustrasi atasan.[Unsplash]

Cerita tentang satu pabrik yang memaksa karyawan untuk bekerja padahal sedang isolasi mandiri mendadak viral di jagat maya. Postingan itu beredar di grup Facebook Boom Go Employee.

Menyadur dari World of Buzz, admin grup Facebook menjelaskan ada seorang warganet anonim yang bercerita satu pabrik di Malaysia yang ditutup sementara karena banyak karyawannya positif Covid-19.

Dicurhatkan, perusahaan tersebut memiliki 200 karyawan. Dari 200 karyawan, 126 di antaranya diinyatakan positif Covid-19. Sementara, 70 lainnya diminta menjalani karantina di rumah dan isolasi mandiri.

Mereka yang menjalani karantina juga diberikan gelang tangan berwarna pink sebagai penanda untuk dikenakan selama isoman.

Sementara, 4 karyawan lainnya meninggal setelah terpapar Covid-19. Keempat karyawan tersebut merupakan orang asing.

Warganet membagikan hasil tangkapan layar perbincangan antara karyawan dan manager HRD.

Dalam perbincangan itu, si manager menginformasikan bahwa atasan mereka meminta 70 orang yang sedang menjalani isolasi mandiri untuk kembali bekerja di kantor.

Di hasil tangkapan layar, terlihat manager HRD meminta karyawan mengenakan kemeja lengan panjang untuk menutupi gelang karantina mereka selama berada di kantor.

Berdasarkan warganet yang mengirimkan cerita itu, instruksi diberikan agar 70 karyawan tersebut tidak ketahuan ketika membeli makanan atau saat istirahat makan siang.

Disebutkan pula, jika menolak masuk, karyawan akan diminta untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Jika menginformasikan ke pihak yang berwenang mengenai instruksi itu, karyawan akan dipecat.

Hasil Tes Palsu

Hasil tangkapan layar bos zalim.[Facebook]

Berbicara kepada World of Buzz, admin grup Facebook menjelaskan 70 karyawan tersebut bahkan tidak pernah menjalani tes Covid-19 lagi setelah tes massal. 

Admin bahkan diberitahu karyawan anonim yang mengirimkan cerita itu bahwa perusahaan kongkalikong dengan sebuah klinik kesehatan untuk membuat 70 laporan palsu yang menunjukkan mereka negatif.

Admin juga menyebutkan peristiwa tersebut terjadi pada pertengahan Juli 2021. Karyawan yang mengirimkan cerita itu dikabarkan telah mengundurkan diri pada akhir Juli dan mendapat pekerjaan baru.

Rendy Adrikni S