Kepergian Timothy Anugerah Saputra membuka luka yang lebih dalam dari sekadar tragedi pribadi. Ia bukan hanya korban bullying, tapi juga potret mahasiswa kritis yang hidup di tengah budaya akademik yang semakin alergi terhadap perbedaan pikiran.
Di kalangan teman-temannya, Timothy dikenal bukan sebagai sosok yang mencari sorotan, melainkan seseorang yang berjuang untuk sesuatu yang ia yakini benar.
Seperti yang ditulis pada akun Instagram @frontmudarevolusioner dalam unggahan perpisahan mereka pada Kamis (16/10/2025). Mereka mengenang Timothy sebagai sosok yang jujur, tulus, dan teguh berjuang demi sosialisme.
“Ia adalah seorang yang tidak pernah mencari kemuliaan pribadi, melainkan kebenaran, keadilan, dan cinta kepada sesama,” tulis akun @frontmudarevolusioner.
Dalam kesehariannya, Timothy dikenal lembut, rendah hati, dan selalu berpikir positif. Namun ketika berbicara tentang ketimpangan dan ketidakadilan, nadanya berubah menjadi tegas.
Ia tidak pernah menutupi pandangan politiknya, dan tidak segan mengkritik kemunafikan kaum yang menurutnya hidup di atas penderitaan orang lain.
Dalam salah satu unggahan video di platform X oleh akun @allandbagus pada Kamis (16/10/2025), terlihat dua potongan video yang kini menjadi arsip berharga dari keberanian Timothy.
Di rekaman pertama, ia berdiri di tengah kerumunan dengan suara lantang dan tubuh yang tegang, berbicara tentang ketidakadilan yang menindas banyak orang.
“Saya katakan sekarang, pekerja sama kelompok politik, apakah mampu berdamai? Apakah mampu bersatu? Tidak,” ucapnya dalam orasi penuh emosi. Kalimat-kalimatnya terdengar seperti teriakan dari hati seseorang yang lelah melihat kompromi dan kepalsuan di ruang politik.
Dalam potongan kedua, Timothy berbicara dengan nada yang lebih terukur, tapi tidak kalah tajam. Ia mengulas relasi antara demokrasi liberal, militerisme, dan kapitalisme dengan kejernihan yang jarang dimiliki mahasiswa seusianya.
“Pada akhirnya, militerisme tidak dapat dipisahkan dengan apa yang kita kenali sebagai masyarakat sipil kita. Dalam demokrasi liberal kita, militerisme itu sebuah tumor. Tetapi penyakitnya itu sudah lama dalam tubuh masyarakat kita. Apa penyakit itu? Kapitalisme,” katanya.
Di akhir pidatonya, ia menyerukan perlunya gerakan yang lebih berani. “Tidak cukup kita meminta-minta. Kita harus menghentikan kerja alurnya. Kita harus melaksanakan sebuah mogok kerja.”
Menutup pidatonya, Timothy menyerukan sesuatu yang melampaui batas ruang akademik. Suaranya tak lagi hanya berbicara atas nama mahasiswa, melainkan untuk seluruh lapisan yang menopang kehidupan kampus dan masyarakat.
“Tak hanya dari sisi mahasiswa, tetapi dari dosen, dari staf, dan bahkan mungkin itu dari pekerja di luar kuliah,” tutupnya.
Orasi dan pidato itu kini beredar luas di media sosial, menjadi potret sosok Timothy yang penuh keyakinan dan kemarahan yang jujur.
Bagi banyak orang, sosialisme mungkin terdengar seperti gagasan usang. Namun bagi Timothy, itu adalah bahasa lain dari empati, sebuah cara memandang dunia yang menolak ketimpangan dan ketidakadilan yang sistemik.
Lebih jauh lagi, kepergian Timothy dan idealismenya menjadi pengingat bahwa menjadi manusia kritis di negeri yang tak suka dikritik adalah bentuk keberanian yang paling sunyi dan paling tulus.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Menebar Kebaikan di Bulan Suci, FISTFEST Berkolaborasi dengan Waroeng Steak
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
-
Menunggu Hari Perempuan Bisa Benar-Benar Aman dan Nyaman di Konser Musik
Artikel Terkait
-
Stop Barter Kuno! Permen Bukan Mata Uang Wahai Para Tukang Fotokopi
-
Kasus Bullying Menimpa Timothy, Mendikti Saintek Hubungi Rektor Udayana Bicara Sanksi DO Pelaku?
-
Belajar dari Kasus Timothy Unud, Begini Cara Mencegah Anak Jadi Pelaku Bullying
-
Kekeyi Akui Kena Mental Fotonya Dijadikan Bahan Olokan Mahasiswa Unud: Sebegitu Buruknya Kah Saya?
-
Kuliti Kasus Bullying dan Krisis Empati: Cermin Retaknya Jiwa Manusia
News
-
Budaya Kirim Parsel: Etika, Relasi Bisnis, dan Batas Gratifikasi
-
Anak-Anak Bukan Target Perang! Menuntut Keadilan Atas Tragedi Minab
-
40 Hari yang Menentukan: Mengapa Masa Berkabung Iran Lebih dari Sekadar Ritual Duka?
-
Sarimbitan: Seni Menyamarkan Cicilan di Balik Baju Kembaran
-
Sewa iPhone Saat Lebaran: Gengsi Atau Benar-Benar Mengutamakan Fungsi?
Terkini
-
6 HP Baru yang Meluncur Maret 2026, dari Honor Robot Phone hingga POCO X8 Pro
-
Poco X7 5G dan Poco M7 Pro 5G Berpotensi Jadi HP Gaming 5G Paling Dicari Tahun 2026
-
Go Youn Jung dan Koo Kyo Hwan Atasi Rasa Insecure di We Are All Trying Here
-
Goodbye, Lara Adaptasi The Little Mermaid Era Jepang Kini Siap Tayang Juli
-
Bukber Ramadan dan Fenomena Flexing, Mau Sampai Kapan?