Webinar Safe Space Starts With You yang diselenggarakan Yoursay menghadirkan dua pembicara dari latar belakang berbeda: Reza Sulaiman, editor Suara.com dengan pengalaman lebih dari satu dekade di jurnalisme kesehatan, serta Tiffany Canta, psikolog pendidikan dari Willoka Workshop (4/12/2025).
Pertemuan ini membahas bagaimana penulisan tentang bullying seharusnya dilakukan secara empatik agar tidak malah melukai korban atau menormalisasi kekerasan.
Sejak awal, Reza menegaskan bahwa bullying bukan isu jauh dari kehidupan pembaca. Ia menyebut bahwa kasus seperti ini sering terjadi dekat dengan lingkungan sehari-hari. Oleh karena itu, penulis memiliki posisi penting dalam membentuk pemahaman publik tentang kekerasan.
Menurutnya, tulisan yang disampaikan dengan tepat dapat menggerakkan pembaca, memperbaiki cara pandang masyarakat, bahkan memengaruhi kebijakan. Ia mengingatkan bahwa judul yang menarik tetap harus menjaga martabat korban dan tidak boleh bergeser ke arah sensasi.
Dalam sesi yang sama, Reza juga membahas teknis penulisan. Ia menekankan pentingnya lead yang jelas, bahasa yang relevan untuk pembaca muda, serta penggunaan narasumber kredibel ketika membahas isu mental dan bullying.
Ia mencontohkan pola pikir publik yang sering muncul di media sosial, seperti komentar yang menyalahkan korban atau menganggap candaan merendahkan sebagai hal biasa.
Baginya, penulis perlu memahami dampak sebenarnya dari kata-kata, karena hal yang terlihat sepele dapat meninggalkan luka emosional bagi korban.
Masuk ke perspektif psikologi, Tiffany menjelaskan bahwa generasi muda saat ini tumbuh dengan akses informasi yang sangat cepat. Anak-anak bahkan sejak usia SD sudah mengenal istilah kesehatan mental dan menjadi lebih peka terhadap batasan diri.
Namun sensitivitas ini sering disalahpahami, misalnya ketika Gen Z dicap “dikit-dikit healing”. Di sinilah peran edukasi melalui tulisan dibutuhkan, bukan untuk membela satu generasi, tetapi untuk memberikan pemahaman yang lebih akurat tentang bagaimana remaja memahami kondisi mental mereka.
Tiffany juga mengingatkan bahwa efek bullying tidak selalu tampak dari luar. Kata-kata yang dianggap sekadar gurauan oleh sebagian orang dapat memicu kebencian terhadap diri sendiri, menurunkan harga diri, bahkan mendorong perilaku menyakiti diri.
Menurutnya, penulisan yang sembarangan bisa memperkuat stigma dan menambah tekanan bagi korban yang sebenarnya sedang membutuhkan ruang aman.
Di akhir sesi, Reza mengajak peserta untuk mempertimbangkan apa yang ingin disampaikan ketika menutup sebuah tulisan. Isu bullying kerap menyisakan cerita yang berat, tetapi penulis tetap perlu memberikan arah yang konstruktif agar pembaca tidak berhenti pada rasa iba atau marah.
Ajakan untuk mencegah kekerasan, informasi mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan, atau harapan agar lingkungan menjadi lebih aman adalah bagian penting dari tanggung jawab penulis.
Webinar Safe Space Starts With You menegaskan bahwa empati bukan sekadar nilai moral, melainkan praktik yang harus hadir dalam keputusan penulis memilih kata, menyusun cerita, dan membingkai isu.
Pendekatan inilah yang dapat membuat tulisan berfungsi sebagai ruang aman pertama bagi korban bullying, ruang yang mengedepankan pemahaman, menghargai pengalaman, dan mendorong perubahan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dari Lumpur Pantai Baros: Mengubah Aksi Tanam Mangrove Jadi Seni dan Refleksi Diri
-
Lebih dari Sekadar Angkat Senjata, Ini Cara Bela Negara di Kehidupan Sehari-hari
-
Restitusi untuk Korban Tindak Pidana Masih Sulit Direalisasikan
-
Dirut ANTAM dari Eks Tim Mawar, Negara Tutup Mata soal Rekam Jejak HAM
-
Rp17 Miliar Terkumpul, Musisi Indonesia Peduli bagi Korban Bencana
Artikel Terkait
-
Cyberbullying Bisa Lebih Kejam daripada Bullying Biasa, Mengapa?
-
Learned Helplessness: Saat Korban Bullying Sulit Melawan, Stop Menghakimi!
-
Sering Tak Dianggap, Ini Dampak Bullying Bagi Bystander
-
Keluarga dan Pola Asuh Berkontribusi pada Perilaku Bullying, Benarkah?
-
Invisible Wound: Luka Psikologis Bullying yang Tak Terlihat tapi Berbahaya
News
-
Capek Padahal Sudah Libur? Kenali Psychological Detachment dan Cara Istirahat yang Benar
-
Mengenal Otoritas Geospasial: Alasan di Balik Penyesuaian Nama Thailand Jadi Tailan
-
Krisis Ketahanan Emosional Remaja: Pelajaran di Balik Kasus Pengeroyokan Guru SMK
-
Suara-Suara di Kamar
-
Pandji Pragiwaksono dan Polemik Kebebasan Berekspresi: Bisakah Komedi Dipolisikan?
Terkini
-
Multitasking Tanpa Ngelag, Ini 7 HP RAM 12 GB Termurah 2026 di Bawah Rp 4 Jutaan
-
Saat AI Terlalu Dipuja, Pendidikan Kehilangan Arah
-
Pinjol dan Paylater: Kemudahan Palsu yang Mahal Harganya
-
5 Inspirasi Outfit Kantor ala Kim Seonho,Tampil Cerdas dan Profesional!
-
Dilema Harga Tiket dan Ekonomi: Mens Rea Laris Bukan Berarti Rakyat Makmur