Indonesia seolah tak pernah benar-benar beristirahat dari bencana alam. Banjir, longsor, gempa bumi, cuaca ekstrem, atau “sekadar” angin puting beliung, menjadi bagian yang lekat dari hidup sehari-hari di negeri Cincin Api. Damage-nya beragam. Rumah rusak, tanah hilang, gangguan sinyal komunikasi, dan akses yang terputus.
Jelang akhir tahun 2025 ini, kita semua tahu bagaimana rangkaian bencana banjir bandang yang dahsyat, longsor, dan bahkan gunung meletus meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Tingginya curah hujan membuat banjir bandang membobol pemukiman warga, menggenangi perumahan, dan mengisolasi kehidupan. Ribuan warganya kehilangan nyawa, yang selamat harus mau hidup bersama genangan air kotor untuk hidup sehari-hari.
Saat surut, masalah belum usai. Banjir yang dahsyat meninggalkan endapan lumpur kotor yang entah bagaimana membersihkannya, mobil-mobil terbengkalai, dan peradaban yang berubah jadi kota hantu porak-poranda.
Saya bukan penyintas bencana dalam artian kehilangan rumah atau anggota keluarga. Namun, lahir dan besar di Yogyakarta hingga 2008 membuat saya ikut merasakan ketika gempa bumi menggoyang Bantul dan sekitarnya di tahun 2006. Saat itu, saya masih duduk di bangku SMA, sedang mandi saat goncangan terjadi. Rumah dan kawasan tempat tinggal kami relatif baik-baik saja. Namun, saat saya nekad tetap berangkat ke sekolah, saya baru melihat bahwa rumah-rumah dan bangunan lain lebih parah kerusakannya.
Tiba di sekolah, teman-teman kelas dan siswa-siswi lainnya berkumpul di halaman, sebagian saling memeluk dan mengutarakan perasaan syok. Atap-atap gedung sekolah kami melorot dan hancur karena meluncur jatuh ke tanah. Kegiatan belajar mengajar diliburkan, kami segera pulang ke rumah masing-masing. Mata saya semakin terbuka lagi saat menyaksikan televisi. Di daerah kabupaten Bantul yang dekat dengan episentrum gempa bumi, rumah-rumah roboh, korban jiwa dan korban luka berjatuhan, jembatan-jembatan terputus atau terhalang reruntuhan.
Karena itu, ketika membaca kabar tentang upaya pemulihan pascabencana di Sumatra, perhatian saya tertuju pada satu hal: akses yang kembali terbuka. Di tengah situasi darurat, kerja cepat di lapangan menjadi kunci. Melalui berbagai rilis resmi berbagai portal berita dan laman berita Bina Marga, saya melihat bagaimana alat-alat berat diturunkan, material longsor disingkirkan, jembatan darurat dipasang, dan jalan nasional dibuka kembali secara bertahap. Di beberapa titik, pengerjaan bahkan dilakukan tanpa mengenal waktu, demi memastikan konektivitas segera pulih.
Di Aceh Tamiang, misalnya, pemerintah bergerak cepat memperkuat respons darurat. Hingga akhir Desember 2025, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh telah memobilisasi 36 unit alat berat dan 66 unit dump truck yang disebar di sejumlah titik prioritas untuk membersihkan material banjir dan longsoran, serta memulihkan akses jalan nasional dan daerah. Upaya ini diperkuat dengan kolaborasi lintas sektor, termasuk menggandeng BUMN Karya agar pekerjaan di lapangan bisa berlangsung lebih cepat dan masif.
Salah satu kabar yang paling dirasakan dampaknya oleh warga Aceh adalah dibukanya kembali Jembatan Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya oleh Bina Marga. Jembatan ini sempat rusak akibat banjir dan mengganggu akses lintas timur Aceh. Setelah perbaikan oprit selesai, jembatan kembali dibuka dan arus lalu lintas berangsur normal. Bagi masyarakat setempat, terbukanya jembatan berarti jarak tempuh yang kembali singkat, biaya logistik yang menurun, dan aktivitas ekonomi yang mulai bergerak lagi.
Di sini saya melihat Bina Marga, sebagai sebuah unit kerja di bawah Kementerian Pekerjaan Umum, telah melakukan tanggung jawabnya dengan menjalankan pembangunan, pemeliharaan, perbaikan, dan peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan di seluruh Indonesia.
Bagi warga, terbukanya jalan bukan sekadar berita teknis. Ia adalah tanda bahwa hidup perlahan kembali menemukan iramanya. Pedagang bisa kembali mengantarkan dagangan ke pasar. Buruh atau karyawan bisa berangkat bekerja tanpa harus memutar puluhan kilometer. Anak-anak bisa kembali bersekolah, dan warga yang sakit tidak lagi terhalang akses menuju puskesmas atau rumah sakit rujukan.
Pemulihan tidak berhenti pada jalan. Di sektor sanitasi, pemerintah juga menyiapkan penanganan permanen pascabencana. Di TPA Rantau dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Aceh Tamiang, pemerintah melakukan pembersihan sampah dan lumpur, perbaikan sel landfill eksisting, pembangunan sel baru, hingga perbaikan jalan akses menuju TPA. Hingga 27 Desember 2025, pengangkutan sampah dari rumah sakit, pasar, dan kawasan permukiman telah dilakukan sebagai bagian dari pemulihan layanan dasar masyarakat. Langkah ini penting, karena sanitasi yang pulih adalah fondasi kesehatan publik di wilayah terdampak.
Di balik proses itu, saya sadar, ada sinergi yang tercipta di balik layar. Petugas lapangan bekerja berdampingan dengan pemerintah daerah, aparat setempat, relawan, dan masyarakat sekitar. Ada warga yang ikut membantu mengarahkan lalu lintas saat jalan dibuka terbatas. Ada pula yang menyediakan makanan dan minuman bagi para pekerja di lokasi. Pemulihan infrastruktur, dalam konteks ini, bukan sekadar proyek teknis, melainkan kerja kolektif yang menghidupkan kembali harapan.
Data dan laporan lapangan menunjukkan bahwa fokus pemulihan tidak hanya berhenti pada pembukaan akses sementara. Perbaikan permanen, penguatan struktur jalan dan jembatan, serta mitigasi risiko ke depan juga menjadi bagian dari agenda. Ini penting, mengingat bencana serupa berpotensi terulang. Jalan yang dibangun ulang bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk keberlangsungan hidup di masa nanti.
Bencana memang selalu meninggalkan luka. Namun, dari setiap jalan yang kembali terbuka, kita belajar satu hal untuk kita cerna. Pemulihan bukan sekadar tentang membangun ulang infrastruktur, melainkan tentang mengembalikan rasa percaya diri masyarakat untuk melanjutkan hidup. Di Sumatera, di tengah lumpur, puing, dan hujan yang belum sepenuhnya reda, harapan itu tumbuh pelan-pelan—mengalir seiring roda kendaraan yang kembali melintas di jalan yang sempat terputus.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Koneksitas Jalan dan Air Bersih, Percik Semangat Pascabencana Sumatra
-
Merajut Kembali Hidup Pascabanjir Bandang di Sumatra
-
Menenun Nadi Aceh: Pemulihan Infrastruktur dan Harapan di Bumi Sumatera
-
Tentang Menata Kembali Hidup Pascabencana Sumatra
-
Meniti Asa Menjemput Harapan saat Jalan Lintas Timur Kembali Berdenyut
News
-
Jadwal Lebaran dan Idul Adha 2026 Versi Muhammadiyah Berdasarkan Maklumat Terbaru
-
Jurnalisme di Era Sosial Media Apakah Masih Relevan?
-
Mengumpulkan Kembali Puing-puing Sisa Kehancuran, Pasca Banjir Aceh
-
Banjir Bandang Sumatra: Dari Langkah Cepat Hingga Refleksi Jangka Panjang
-
Meski Bencana Banjir di Aceh dan Sumatra Sudah Surut, Tugas Kita Belum Usai