M. Reza Sulaiman | Anggia Khofifah P
Netflix dan Warner Bros. (X/DiscussingFilm)
Anggia Khofifah P

Akuisisi Warner Bros. oleh Netflix, yang dilaporkan bernilai sekitar 82,7 miliar dolar AS, menjadi salah satu peristiwa paling besar dan berpengaruh dalam sejarah industri hiburan modern. Kesepakatan tersebut langsung memicu berbagai reaksi, terutama dari pelaku industri bioskop, karena berpotensi mengubah secara drastis pola distribusi film yang selama ini mengandalkan jendela penayangan eksklusif di layar lebar sebelum masuk ke layanan streaming.

Seiring berkembangnya informasi, muncul pula wacana bahwa Netflix tengah mempertimbangkan jendela penayangan bioskop selama 17 hari, sebuah angka yang memicu perdebatan luas. Menurut laporan Deadline, sumber internal menyebutkan bahwa Netflix selama ini menjadi pendukung konsep theatrical window selama 17 hari, sebuah skema yang dinilai dapat "menggerus" bisnis bioskop apabila diterapkan secara luas.

Hingga kini, Netflix belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai durasi pasti jendela penayangan bioskop tersebut, namun pernyataan para petingginya memberikan gambaran arah kebijakan yang sedang dipertimbangkan.

Co-CEO Netflix, Greg Peters dan Ted Sarandos, dalam surat kepada karyawan menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen penuh untuk tetap merilis film-film Warner Bros. di bioskop. Mereka menekankan bahwa penayangan teaterikal merupakan bagian penting dari bisnis dan warisan Warner Bros. yang tidak ingin mereka ubah.

Dalam pernyataan tersebut, Netflix menyebut bahwa film-film besar seperti Minecraft dan Superman tetap akan tayang di layar lebar sebagaimana mestinya, bahkan jika akuisisi ini terjadi lebih awal. Pernyataan itu juga menandai perubahan yang signifikan karena Netflix secara terbuka mengakui bahwa setelah kesepakatan rampung, mereka akan benar-benar masuk ke dalam bisnis bioskop.

Namun, kekhawatiran industri bioskop tidak bisa dianggap sepele. Cinema United, sebuah organisasi yang mewakili kepentingan bioskop, merilis pernyataan keras tak lama setelah kabar akuisisi mencuat. Mereka menyebut bahwa pengambilalihan Warner Bros. oleh Netflix berpotensi menjadi "ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya" bagi bisnis pemutaran film global.

Menurut Cinema United, model bisnis Netflix selama ini justru bertolak belakang dengan prinsip eksibisi teaterikal, dan kesepakatan ini berisiko menghilangkan hingga 25% pemasukan box office domestik tahunan jika film-film besar Warner Bros. tidak lagi mendapat rilis bioskop yang kuat.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Ted Sarandos dalam wawancara lanjutan, sebagaimana dikutip dari laporan pasar Wall Street, menegaskan bahwa Netflix tidak memiliki sikap anti-bioskop. Ia menyebut bahwa Netflix telah merilis sekitar 30 film ke bioskop dalam setahun terakhir.

Kritik Sarandos lebih diarahkan pada jendela eksklusif yang terlalu panjang, yang menurutnya kurang ramah bagi konsumen. Ia menilai bahwa jendela tradisional 30 hingga 45 hari memang sudah menyusut sejak pandemi dan ke depan akan terus berevolusi agar lebih sesuai dengan kebiasaan penonton.

Kata "berevolusi" inilah yang kemudian memicu spekulasi, termasuk soal jendela 17 hari. Dari satu sisi, argumen Netflix terdengar masuk akal karena sebagian besar pendapatan box office memang diraih dalam dua hingga tiga minggu pertama penayangan. Namun, bioskop menilai bahwa jendela yang lebih panjang bukan semata-mata soal memaksimalkan keuntungan satu film, melainkan menciptakan rasa eksklusivitas yang mendorong penonton untuk datang ke bioskop sebagai sebuah pengalaman khusus.

Laporan Deadline sendiri tidak menyatakan bahwa Netflix pasti akan menerapkan kebijakan 17 hari tersebut. Wacana ini masih berada pada tahap diskusi internal. Dengan demikian, masa depan hubungan antara streaming dan bioskop tampaknya akan ditentukan oleh kompromi yang terus dinegosiasikan, seiring Netflix dan Warner Bros. mencoba menyeimbangkan kepentingan bisnis, pengalaman penonton, dan keberlangsungan industri layar lebar.