Proses menulis biasanya dimulai dari sebuah ide besar atau brainstorming topik khusus yang kemudian disusul dengan riset untuk melengkapinya. Namun, bagi Eka Kurniawan, proses kreatif yang dilakukan justru berbeda. Ia membalik itu semua. Penulis novel terkenal Cantik Itu Luka ini tidak menunggu ide datang untuk memulai risetnya, melainkan berangkat dari rasa ingin tahu yang ada dalam kepalanya.
“Saya jalan dengan keingintahuan-keingintahuan itu,” ungkap Eka dalam sesi Jendela Edukasi & Dialog Media (JEDA) (10/03) di Tjikini Lima. Baginya, riset bukanlah sekadar pendukung cerita, melainkan bahan bakar utama yang memicu munculnya aspek kreatif. Eka justru menjadikan riset tersebut sebagai sesuatu yang memantik ide yang akan digarapnya.
Eka sering kali terjun ke dalam tumpukan data atau fenomena tertentu tanpa membawa draf cerita yang kaku di kepalanya. Justru di tengah tumpukan informasi itulah, ia menemukan percikan ide yang tak terduga.
Bukan Sekadar Kronik
Metode ini membuat karya-karya Eka terhindar dari jebakan narasi yang datar. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin sekadar menulis sebuah kronik atau catatan peristiwa sejarah saja. Kekuatan tulisannya muncul dari tabrakan antara pengetahuan yang ia dapat melalui proses membaca dengan imajinasi kreatif.
Eka menjelaskan bahwa dorongan menulisnya muncul saat ia mulai bertanya, “Bagaimana kalau A bertemu dengan B?” Pertanyaan sederhana ini memungkinkan data-data mentah hasil riset akan bertumbuh menjadi ide konflik yang ia hidupkan. Dengan gaya realisnya, Eka mengolah informasi yang ia temukan menjadi semesta cerita yang memiliki napas sendiri, bukan sekadar memindahkan isi buku sejarah ke dalam cerita fiksi.
Proses yang Memakan Waktu
Kebebasan dalam mengeksplorasi motivasi dan data ini membuat durasi penulisan setiap bukunya sangat bervariasi. Ia tidak menggunakan kerangka kerja (outline) yang kaku yang justru menjeratnya dalam keharusan atau kewajiban menulis setiap harinya, melainkan membiarkan rasa keingintahuannya menuntun arah pena.
Hasilnya, novel legendaris Cantik Itu Luka berhasil ia selesaikan dalam waktu dua tahun, sementara novel O membutuhkan dedikasi hingga sepuluh tahun masa penulisan dan pengembangan.
AI sebagai Kolektor Data, Bukan Mentor
Dalam konteks modern, Eka pun tidak menutup mata terhadap teknologi seperti Artificial Intelligence (AI). Namun, ia memiliki batasan yang jelas. Baginya, AI adalah alat yang luar biasa untuk membantu mencari dan mengumpulkan data lebih banyak dan lebih cepat daripada harus menghabiskan waktu berbulan-bulan di perpustakaan membedah semua buku sejarah.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa AI tidak akan pernah bisa menjadi mentor dalam hal menulis. Karena AI tidak memiliki pengalaman hidup dan rasa seperti manusia. Pengalaman, emosi, dan aspek kreatif yang muncul di dunia nyata adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh algoritma mana pun. Itu hanya bisa dilalui manusia, karena dalam setiap prosesnya, realitas sosial selalu berbicara apa adanya. Bagi Eka, riset adalah perjalanan personal, dan di sanalah ruh sebuah cerita berasal.
Baca Juga
-
Uang Belanja Ibu Rumah Tangga Tersedot Asap Rokok, Kok Bisa Lebih Murah dari Beras?
-
Eka Kurniawan: Penulis Dunia yang Bukunya Malah Gak Dibaca Sama Ibu Sendiri
-
Anti-Ngelag di 2026! 5 HP OPPO RAM 8/256GB Terbaik untuk Penggunaan Jangka Panjang
-
Pelecehan Kok Dibilang Fetish? Mengenal Rage Bait, Konten Sampah yang Hobi Makan Korban
-
Klub Ada, Kompetisi Tiada: Sepak Bola Perempuan Indonesia Ada Masa Depannya Gak?
Artikel Terkait
-
Harga Laptop Diprediksi Melonjak 40 Persen Tahun Ini, TrendForce Soroti Krisis RAM
-
Cara Membuat Desain Ucapan Idulfitri 2026 Pakai AI, Gunakan Prompt Ini!
-
Eka Kurniawan: Penulis Dunia yang Bukunya Malah Gak Dibaca Sama Ibu Sendiri
-
Kolaborasi Riset Diperkuat, Jakarta Dibidik Masuk Top 50 Global Cities pada 2030
-
Alasan AI di Keuangan Kini Lebih Aman dan Stabil
News
-
Lailatulqadar di Tahun 2026: Saatnya 'Shutdown' Gadget demi Koneksi Langit
-
Uang Belanja Ibu Rumah Tangga Tersedot Asap Rokok, Kok Bisa Lebih Murah dari Beras?
-
Eka Kurniawan: Penulis Dunia yang Bukunya Malah Gak Dibaca Sama Ibu Sendiri
-
Konspirasi Mohon Maaf Lahir Batin: Ritual Penghapusan Dosa atau Cuma Basa-Basi?
-
Tutorial Melawan Sistem ala Rusti Dian: Biar Suara Perempuan Gak Cuma Jadi Background
Terkini
-
Provisional Skuat, John Herdman dan Kemewahan Lini Bertahan Garuda yang Urung Menjadi Nyata
-
5 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Pilihan Terjangkau 2026 dengan Performa Tahan Lama
-
4 Chemical Sunscreen Niacinamide, Rahasia Wajah Tetap Cerah Selama Puasa
-
One Piece Live-Action Season 2 Tayang, Raih Skor Tinggi di Rotten Tomatoes
-
5 Parfum Aroma Fresh Aquatic yang Cocok Dipakai Saat Cuaca Panas