Bagi sebagian penulis, mungkin kariernya diawali dari suatu perjuangan, peluh, dan banyak rintangan. Namun, bagi Eka Kurniawan, perjalanan menjadi seorang penulis, bahkan salah satu sastrawan paling berpengaruh di dunia, ia memulainya dengan cara sederhana dan sangat normal, atau justru ia sebut biasa saja.
Di usianya yang saat itu masih 11 tahun, ketika anak-anak lain sibuk bermain bola di lapangan, Eka mulai menemukan minatnya di bidang sastra. Perjalanan menulisnya ia awali dengan mencoba-coba menulis puisi. Baginya saat itu, menulis hanyalah sebuah ekspresi sederhana yang bisa ia ungkapkan, sementara sisa harinya tetap dihabiskan untuk berlari mengejar bola seperti anak SMP pada umumnya.
Langkah kakinya mulai menemukan titik yang lebih serius dalam menulis ketika ia masuk ke bangku SMA. Singkat cerita, hal tersebut berlanjut hingga ia berhasil duduk di bangku kuliah dan memilih Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tempatnya menuntut ilmu.
Di Yogyakarta, perpustakaan sudah menjadi rumah keduanya. Ia tenggelam dalam tumpukan buku yang ia baca. Minatnya yang ia sebut “hobi ke perpustakaan” ini membawanya bertemu dengan anak-anak sastra di UGM. Dari sinilah rasa ingin tahunya berubah menjadi ambisi dan cita-cita yang hingga sekarang ia tekuni.
Titik balik itu datang pada tahun 1997. Di tengah riuhnya situasi politik dan akademik, Eka memantapkan hati untuk menjadi penulis. Keputusan ini semakin diperkuat setelah ia membaca novel "Lapar" karya Knut Hamsun. Kisah tentang seorang pemuda yang berjuang di ambang kegilaan demi menjadi penulis di tengah kelaparan tersebut memberikan inspirasi yang kuat bagi Eka.
Tahun 1999, Eka resmi lulus kuliah dengan menyandang gelar S.Fil. Memang sempat terlintas pertanyaan selayaknya mahasiswa setelah menamatkan masa studinya, “Setelah lulus, mau ngapain?” Namun dalam hati Eka Kurniawan berkata, “Ya sudah, nulis.”
Di saat lulusan lain mungkin masih merasa cemas akan masa depan mereka, Eka memilih untuk terus menggoreskan pena. Menariknya, tidak ada tekanan besar atau penolakan dari rumah. Orang tuanya cenderung cuek, tetapi ini berarti memberikan kepercayaan penuh yang justru menjadi ruang gerak bebas bagi kreativitasnya.
Meski kini namanya mendunia, ada satu fakta unik yang tetap bertahan hingga sekarang. "Sampai hari ini, Ibu tidak pernah baca buku saya," pengakuannya jujur.
Selama Eka terlihat baik-baik saja dan menjalani hidup dengan bertanggung jawab, orang tuanya tidak merasa perlu mengintervensi dunianya.
Kemandirian inilah yang akhirnya membentuk pandangan pragmatis Eka terhadap profesi penulis. Baginya, menjadi penulis bukan sekadar soal idealisme, tetapi juga tentang bagaimana mengelola realitas ekonomi. Ia membuktikan bahwa hidup dari menulis adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi selama seseorang memiliki disiplin diri.
Mengenai kelangsungan hidup sebagai penulis profesional, ia memiliki logika yang sangat sederhana tetapi lugas: "Urusan bisa hidup atau tidak itu kan masalah penghasilanmu lebih besar dari pengeluaranmu atau nggak."
Kini, dari seorang anak yang hobi menulis puisi di sela main bola, Eka Kurniawan telah bertransformasi menjadi pencerita yang membawa warna Indonesia ke panggung internasional. Perjalanannya mungkin berliku, tetapi seperti yang ia katakan, semua bisa dijalani tanpa harus menjadi dramatis.
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
-
Motivasi Menulis untuk Calon Penulis: Buku Menjual Gagasan dengan Tulisan
-
Tulisan Nggak Laku: Mengapa Naskah Anda Belum Menemukan Pembacanya?
-
Menulis demi Cinta atau Cuan: Saat Kata-kata Kehilangan Magisnya
-
Siap Rilis Film Baru, Charlie's Angels Gandeng Penulis Crazy Rich Asians
-
Dilema Seorang Penulis: Antara Idealisme Bahasa dan Target Pasar
News
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Vredeburg Game On, Arena Edukasi Anak Panti oleh Loka Bestari
-
Jalan Sore Pukul Panci, Suara Ibu Indonesia Protes MBG di Jogja
-
Belum Wisuda, Puluhan Lulusan MMTC Yogyakarta Sudah Terserap Dunia Kerja
-
Bakar Semangat Juang, Plt Ketum PPAD Turun Langsung Kawal Atlet Golf di Surabaya
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2