M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Ilustrasi Self Reward / Self Sabotage menggambarkan dilema antara kepuasan sesaat dan penyesalan. (Pexels/Nataliya Vaitkevich)
Atalie June Artanti

Pernah nggak sih kamu merasa “pantas” beli sesuatu setelah hari yang melelahkan? Awalnya cuma ingin self reward. Tapi tanpa sadar, kebiasaan itu jadi berulang—dan dompet mulai terasa makin tipis, sementara rasa puas cuma sebentar.

Di titik ini, muncul pertanyaan yang jarang kita sadari: ini benar-benar self reward, atau justru self sabotage?

Ketika Menghargai Diri Berubah Jadi Menyakiti Diri

Self reward sering dianggap sebagai bentuk self love. Di tengah tekanan hidup, memberi hadiah untuk diri sendiri memang bisa membantu menjaga kesehatan mental.

Nggak heran kalau sekarang banyak orang terutama anak muda, menjadikan self reward sebagai bagian dari gaya hidup. Mulai dari jajan kopi mahal, checkout barang diskon, sampai healing dadakan.

Masalahnya bukan di aktivitasnya, tapi pada alasan di baliknya. Ketika self reward dilakukan bukan karena pencapaian, melainkan sebagai pelarian dari stres, rasa kosong, atau tekanan, di situlah ia perlahan berubah jadi self sabotage.

Bukan lagi bentuk penghargaan, tapi cara cepat untuk “menenangkan diri” meskipun hanya sementara.

Self Sabotage: Musuh yang Sering Tidak Terlihat

Banyak orang mengira sabotase hanya datang dari luar. Padahal, sering kali justru kita sendiri yang melakukannya.

Self sabotage adalah perilaku yang sadar atau tidak, menghambat diri kita sendiri untuk berkembang. Ini bisa muncul dalam bentuk sederhana, seperti menunda pekerjaan, overthinking, atau membuat keputusan impulsif.

Menariknya, perilaku ini sering muncul bukan karena kita ingin gagal, tapi justru karena kita takut. Takut gagal, takut sukses, atau bahkan takut keluar dari zona yang sudah familiar.

Dalam beberapa kasus, pengalaman masa lalu juga berperan. Lingkungan yang tidak suportif, kritik berlebihan, atau kegagalan yang belum selesai diproses bisa membentuk cara kita memandang diri sendiri.

Akhirnya, saat ada peluang baik, kita justru merusaknya secara perlahan.

Kenapa Rasanya “Benar”, Padahal Salah Arah?

Yang membuat self sabotage berbahaya adalah karena ia terasa “masuk akal”.

Misalnya, ketika kamu merasa lelah dan memutuskan belanja sebagai bentuk self reward. Secara logika, itu terdengar wajar. Tapi jika dilakukan terus-menerus tanpa kontrol, dampaknya bisa lebih besar dari yang kita kira.

Banyak orang baru sadar setelah rasa bersalah datang belakangan ketika saldo menipis, target tidak tercapai, atau hidup terasa makin tidak terarah.

Di sisi lain, ada juga yang terjebak dalam perfeksionisme. Terlihat seperti ingin melakukan yang terbaik, tapi justru berujung tidak melakukan apa-apa karena takut hasilnya tidak sempurna.

Semua ini adalah bentuk self sabotage yang sering disamarkan sebagai “usaha” atau “penghargaan diri”.

Bedanya Self Reward yang Sehat dan yang Merusak

Perbedaannya sebenarnya sederhana, tapi sering terlewat.

Self reward yang sehat biasanya memberi rasa cukup. Ada kepuasan yang tenang, tanpa rasa bersalah setelahnya. Ia dilakukan dengan sadar, terukur, dan tidak mengganggu kondisi finansial atau tujuan jangka panjang.

Sebaliknya, self sabotage sering meninggalkan jejak emosional. Ada rasa menyesal, cemas, atau bahkan dorongan untuk mengulanginya lagi.

Bukan karena kita tidak tahu itu salah, tapi karena kita belum menemukan cara lain untuk mengelola emosi.

Belajar Berhenti, Bukan Berhenti Total

Menghindari self sabotage bukan berarti kamu harus berhenti self reward sama sekali. Yang perlu diubah adalah kesadaran sebelum mengambil keputusan. Coba tanya ke diri sendiri: “Aku butuh ini, atau cuma lagi butuh distraksi?”

Kadang, yang kita cari bukan barang baru, tapi rasa tenang. Dan itu tidak selalu harus dibeli.

Memberi jeda, istirahat, atau sekadar melakukan hal sederhana seperti jalan santai atau ngobrol dengan orang terdekat bisa jauh lebih bermakna daripada impuls sesaat.

Jangan Sampai Self Love Jadi Self Destruct

Self reward itu penting. Tapi kalau tidak disadari, ia bisa berubah jadi jebakan yang halus. Kita merasa sedang mencintai diri sendiri, padahal diam-diam sedang menyakitinya.

Pada akhirnya, self love bukan soal seberapa sering kita memberi hadiah untuk diri sendiri. Tapi tentang bagaimana kita menjaga diri agar tetap utuh secara mental, emosional, dan juga finansial.

Karena mencintai diri sendiri seharusnya membuat hidup lebih stabil, bukan justru makin berantakan.