Ternyata dengan menyetok air hujan dapat mengurangi penggunaan pendingin ruangan selama gelombang panas. Temuan ini berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Earth's Future.
Dalam penelitiannya, mereka mengaplikasikan simulasi numerik berbasis proses dan kecerdasan buatan (AI) untuk mengetes sistem penyimpanan air hujan yang dikumpulkan pada atap rumah dan menyemprotkan ke bangunan secara otomatis selama cuaca panas.
Menyadari kondisi kota di seluruh dunia tengah mengalami peningkatan suhu, para penghuni rumah tersebut mengalami dampak, seperti kesehatan, infrastruktur, dan sistem energi.
Tingginya gelombang panas yang dialami oleh masyarakat perkotaan membuat mereka ketergantungan terhadap pendingin ruangan. Semakin banyak penggunaan pendingin ruangan turut meningkatkan permintaan energi dan lonjakan pembuangan panas limbah dari bangunan tersebut sehingga kota jadi lebih panas.
Studi Kasus di Tokyo: Atap Dingin Kurangi Limbah Panas
Kemudian tim peneliti menggunakan kota Tokyo sebagai studi kasus. Dalam analisisnya, mereka menemukan atap yang dingin membantu meminimalkan jumlah energi yang dibutuhkan untuk pendingin ruangan.
Atap dingin tersebut berguna untuk memindahkan lebih sedikit panas ke dalam bangunan. Karena lebih dingin, limbah panas dari penggunaan pendingin ruangan jadi semakin sedikit. Secara tidak langsung, metode ini dapat membantu mendinginkan suhu perkotaan, mengurangi jumlah hari gelombang panas, sekaligus menekan intensitas panas ekstrem.
Salah satu ketua dan dosen senior bidang Ilmu Data Lingkungan & AI di Manchester Environmental Research Institute (MERI), sekaligus penulis utama penelitian ini, Dr. Zhonghua Zheng menjelaskan bahwa kota di seluruh dunia menghadapi tantangan yang semakin besar imbas dari panas ekstrem.
"Pendingin ruangan dapat membantu menjaga keselamatan dan kenyamanan masyarakat, tetapi juga mengonsumsi energi dalam jumlah besar dan melepaskan panas tambahan ke lingkungan perkotaan," katanya, dikutip dalam laman Phys.org, Kamis (6/8).
Melalui studi ini, para peneliti memperlihatkan bahwa menyimpan air hujan dari atap menjadi langkah strategis untuk menekan lonjakan permintaan energi dan suhu perkotaan.
"Yang sangat menggembirakan adalah manfaatnya menjadi lebih besar lagi selama tahun-tahun yang lebih panas, menunjukkan bahwa pendekatan ini bisa jadi semakin penting seiring dengan terus menghangatnya iklim," jelasnya.
Solusi Alami untuk Tantangan Alami
Tim peneliti meyakini bahwa dengan adanya sistem pendingin air hujan berbasis atap ini dapat menjadi bagian dari langkah beradaptasi terhadap iklim perkotaan. Dengan jangkauan yang sengaja dirancang lebih luas ini, diharapkan mampu menguatkan ketahanan dan melindungi kesehatan masyarakat.
Seorang peneliti PhD di Universitas Manchester, Junjie Yu, memaparkan bahwa tangki air hujan bermanfaat untuk meminimalkan limpasan air perkotaan yang ekstrem.
"Pendekatan ini merupakan contoh 'solusi alami untuk tantangan alami', di mana air hujan berfungsi sebagai sumber daya alam untuk mengurangi tekanan termal dan kondisi hidrologis ekstrem," ujarnya.
Penyimpanan air hujan ini punya dampak yang lebih besar dibandingkan ukuran tangki atau jumlah air yang digunakan.
Para peneliti turut mengingatkan bahwa semakin besar ukuran tangki itu lebih baik. Padahal, tangki yang sangat besar hanya berpengaruh sedikit dalam menekan penggunaan energi dan panas ekstrem. Sebaliknya, pemakaian air tambahan tidak selalu menghasilkan pendinginan yang lebih baik, karena tidak semua air berhasil menguap.
Temuan penelitian ini turut mendukung pemerintah daerah dan perencana kota dalam mengevaluasi sistem pendingin berbasis air hujan dapat berfungsi di wilayah tersebut sekaligus menyelaraskan pertimbangan praktis, seperti biaya; ketersediaan air; dan peraturan setempat.
Baca Juga
-
Jinakkan El Nino Pakai Garam Laut: Ide Brilian atau Malapetaka Baru?
-
Cerita dari Taman Puring: Begini Serunya Mengikuti Latihan Komunitas Parkour Jakarta
-
Mengenal Komunitas Parkour Jakarta: Mengubah Stigma Olahraga Ekstrem Jadi Seni Disiplin Tubuh
-
Ilmuwan Temukan Spons Laut yang Bisa Bersihkan Pelabuhan Tercemar
-
Hidup Berpindah Mengikuti Hutan: Perjuangan Punan Batu Benau-Sajau Mempertahankan Ruang Hidup
Artikel Terkait
-
Riset Terbaru Ungkap Manfaat Sistem Kerja Hybrid bagi Karyawan saat Musim Libur Sekolah
-
Gelombang Panas Italia Picu Status Siaga Merah di 27 Kota, 3 Orang Tewas
-
Kemarau Panjang Mengintai, Jakarta Rencanakan Hujan Buatan Tiap Pekan
-
Hadapi Kemarau Ekstrem, Operasi Modifikasi Cuaca Maksimalkan Cadangan Air Bendungan Kaskade Citarum
-
Link Nonton Gerhana Matahari Total dan Hujan Meteor Perseid Agustus 2026
News
-
Disuruh Jajan demi Selamatkan Negara? Dompet Kita: Giliran Gue Lagi?
-
Konsolidasi Kaderisasi di Tanah Papua, UNIMUTU Gelar Baitul Arqam Pertama Kali
-
Bakar Semangat Belajar Siswa Desa, KKN Unisri Sukses Gelar Aksi Inspiratif di SDN 1 Slogo Tanon
-
Mengenal 'Heat Dome' dan Bahaya Arsitektur Kuno: Alasan Gelombang Panas di Eropa Sangat Mematikan
-
Dari Rp500 Ribu Jadi Skandal Rp24,5 Miliar: Begini Cara "Orang Dalam" Bobol BPJS Ketenagakerjaan
Terkini
-
Rahasia Garam Desa Les: Mineral Alami dari Tanah Beda dari Garam Biasa
-
Novel Menuju Titik Nol: Ketika Pembunuhan Menjadi Akhir Bukan Awal Cerita
-
Kenapa One Dollar Lawyer Disebut Drama Hukum Paling Beda? Ini Alasannya!
-
Cari HP untuk Ojol? Ini 5 Pilihan Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
-
Merdeka Bukan Sekadar Bebas: Menyelami Makna Kemerdekaan Lewat Novel Karya Putu Wijaya