Nenden Rikma
Nenden Rikma
Ilustrasi Bayangan Semu. (Unsplash/Martino Pietropoli)

Suara angin malam meniup daun jendela kamar, mendesau. Dari celah-celah jendela itu, angin menelisik masuk meniup kelambu yang bergoyang lembut. Saat ini bulan persis berada di depan muka jendela, sinarnya tidak lagi sebenderang dulu karena keanggunannya telah dibinasakan lampu-lampu neon yang berkerlip sepanjang malam. Gemerlap kota di bawah sana seperti taburan bintang yang hanya sejenak saja hidup demi kesenangan manusia.

Palsu.

Dimana lagi dapat aku temukan suatu keindahan, ketenangan dan kedamaian yang sesungguhnya? Duniaku telah diserang dari segala penjuru oleh kepalsuan, bahkan semua orang sudah merasa kepalsuan telah menjadi bagian hidup mereka.

Tragis.

Oh, mereka juga sangat peduli dengan apa yang akan mereka kenakan atau lakukan pada saat bertemu seseorang. Mereka rela merogoh saku dan dompetnya dalam-dalam demi tampil menawan dan karismatik di hadapan publik. Pakaian, sepatu, perhiasan, perlengkapan kantor dan lainnya memiliki label yang harus ditebus dengan sangat mahal. Sebagian dari mereka yang menginginkan hal serupa tapi tekanan ekonomi sangat mencekat kemudian beralih pada barang-barang tiruan.

Palsu.

Para perempuan dan laki-laki saling berkompetisi, sibuk mendandani diri. Mereka lalu menjadi mannequin dengan kepribadian menawan. Tidak ada satu pun cela dari diri mereka, tampak di luar karena tentunya setiap cela dan retakan itu telah tertutupi dengan rapi. Ironis mengetahui kecantikan dan keanggunan itu menjadi jubah untuk setiap bopeng dan borok pada tubuh mereka.

Desauan angin menemani loncatan pikiranku, berputar, berayun dan berlari tanpa arah. Sentuhan dinginnya di jemari dan rambutku seolah memberi tenaga untukku terus berkelana. Aku membenahi setumpukan kertas yang semula berhamburan di sekeliling meja kerjaku. Malam itu seharusnya terasa indah meski dalam hening, tapi nyatanya hanya hening dan hampa yang aku rasakan.

Tarikan nafasku saja yang terdengar cukup nyaring bersahutan dengan suara detik jam weker di atas meja. Aku beranjak dan duduk di ujung tempat tidur memandangi bulan dengan tatapan kosong. Rasa-rasanya tubuh, pikiran dan jiwaku ini adalah tiga bagian yang terpisah, asing bagi satu dan lainnya. Mereka memiliki pemikirannya sendiri, sedang aku, aku tak tahu mana suaraku sendiri. Perlahan, aku menghela nafas panjang.    

Dunia itu sangat aneh. Bukan, yang membuat aneh itu adalah manusia yang ada di dalamnya. Memang itu mungkin saja terjadi, aku tidak merasa menjadi seorang yang aneh.  Duniaku sama saja dengan mereka, lalu apa yang membedakannya sehingga mereka menganggapku berbeda?