Jasamu meriuk dalam keabadian sejarah.
Kedamaian cita-cita abadi sepanjang masa engkau perjuangkan.
Tetesan darah dan airmata, hanyalah bunga-bunga dalam perjuangan.
Ku hisap pahitnya kehidupan melihat kenyataan yang penuh dengan kemunafikan atas Jasamu yang telah disia-siakan.
Entah mengapa jasamu hanya dijadikan pajangan generasi saat ini.
Seandainya engkau bisa berteriak dalam kuburmu.
Melihat anak cucu bergumam dalam kebodohan.
Perampasan hanyalah tontonan ketidakpedulian, walau mereka berteriak tanpa suara.
Lebih baik aku menyelinap dalam ketenanganmu yang disana, daripada aku harus menanggung keterpurukan kenyataan.
Bait-bait Tuhan menjadi senjata paling ampuh untuk menghancurkan persatuan Indonesia.
Kini aku merindukan murnihnya jasa pahlawanku, agar aku mampu melihat terangnya masa dapan nantinya.
Baca Juga
-
Kierkegaard dan Eksistensialisme: Menemukan Makna Hidup di Dunia yang Berisik
-
Standar TikTok: Katalog Hidup Mewah yang Bikin Kita Miskin Mental
-
Ketika Rumah Tak Lagi Ramah: Anak yang Tumbuh di Tengah Riuh KDRT
-
Nasib Generasi Sandwich: Roti Tawar yang Kehilangan Cita-Cita
-
Romantisasi Ketangguhan Warga: Bukti Kegagalan Negara dalam Mengurus Bencana?
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Gadis Kecil dan Seikat Bunga Mawar di Tangannya
-
5 Inspirasi Outfit Casual Chic Bua ala Nalinthip yang Mudah Disontek
-
Film The Dangers in My Heart Ungkap Band Primary COLOR dan Karakter Baru
-
Lebih Mencekam! Inilah Alur dan Daftar Pemain Film Horor Return to Silent Hill
-
Aurelie Moeremans Soroti Perubahan Cara Pandang Publik soal Child Grooming