Jasamu meriuk dalam keabadian sejarah.
Kedamaian cita-cita abadi sepanjang masa engkau perjuangkan.
Tetesan darah dan airmata, hanyalah bunga-bunga dalam perjuangan.
Ku hisap pahitnya kehidupan melihat kenyataan yang penuh dengan kemunafikan atas Jasamu yang telah disia-siakan.
Entah mengapa jasamu hanya dijadikan pajangan generasi saat ini.
Seandainya engkau bisa berteriak dalam kuburmu.
Melihat anak cucu bergumam dalam kebodohan.
Perampasan hanyalah tontonan ketidakpedulian, walau mereka berteriak tanpa suara.
Lebih baik aku menyelinap dalam ketenanganmu yang disana, daripada aku harus menanggung keterpurukan kenyataan.
Bait-bait Tuhan menjadi senjata paling ampuh untuk menghancurkan persatuan Indonesia.
Kini aku merindukan murnihnya jasa pahlawanku, agar aku mampu melihat terangnya masa dapan nantinya.
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Manusia Juga Bisa Rapuh: Belajar Menerima Diri dari Drama No Tail to Tell
-
Monster Sesungguhnya Adalah Trauma: Mengulas Sisi Gelap Film 'Badut Gendong'
-
Mindful Consumption: Prinsip Mahal di Era Digital, Kamu Bisa Terapkan?
-
Jelang Perilisan, Tom Holland Ngaku Nunggu Hadirnya Spiderman Generasi Baru
-
Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam