Aku ingin menulis sajak: sajak untuk ibuku.
Sajak yang barangkali hanya akan ku tulis sekali,
Selama hidupku yang secepat denyut nadi.
Ibu...
Kepada siapa lagi aku boleh mengadu,
Ketika aku diledek oleh teman-temanku saat kecil dulu.
Kepada siapa lagi aku boleh menangis,
Kala hatiku patah karena seorang gadis.
Hanya pangkuanmulah yang rela menerima segala derita,
Dari seorang bocah kecil lemah.
Ibu...
Dari rahimmu yang lembut,
Aku lahir.
Dan dari doamu yang tulus,
Aku besar.
Aku tahu, ibu,
Engkau bukanlah wanita yang sempurna.
Namun dirimu adalah surga bagi segala cinta.
Terimakasih, bu,
Telah merawatku sejauh ini.
Dengan belaian tangan dan kesabaranmu,
Kau tuntun aku melangkah pasti.
Aku tidak tahu, bu,
Bagaimana hidupku nanti apabila kau meninggalkanku lebih dulu.
Mungkin aku masih bisa bertahan,
Namun kau tahu, bu,
Aku tanpamu bagai ulat tanpa bulu...
Bogor, 24 Juli 2021.
Tag
Baca Juga
-
Ulasan Film Never Back Down: Kisah Remaja yang Mendalami Mix Martial Arts
-
Ulasan Film Warrior: Kisah Kakak-beradik yang Kembali Bertemu di Atas Ring
-
Ulasan Film Unbroken: Kisah Atlet Olimpiade yang Menjadi Tawanan Perang
-
Ulasan Film The Fighter: Kisah Seorang Pria Meraih Gelar Juara Tinju Dunia
-
Ulasan Film Rocky: Kisah Petinju Lokal Meraih Kesuksesan di Dunia Tinju
Sastra
Terkini
-
Afrika Selatan Gagal, Kanada Lolos 16 Besar Siap Lawan Belanda atau Maroko?
-
Piala Dunia 2026 dan Seni Melupakan Masalah Selama 90 Menit
-
Debut Sensasional, Cape Verde Jadi Tim Anomali di Ajang Piala Dunia 2026
-
Membaca Doorstoot naar Djokja: Menyelami Hari-Hari Paling Genting Indonesia
-
Syarat Berpenampilan Menarik di Lowongan Kerja, Bentuk Beauty Privilege?